Cute Brown Spinning Flower
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan

30.5.20

Radar on The GT (Ghost Town) - Chapter 3

Sumber: lifestyle.okezone.com


“Hutannya panas ternyata, ya? Kamu nggak apa-apa, Ra?” keluh Raja seraya mengusap peluh di dahinya. Kemudian ia memberikan botol air kepada Sahra yang terlihat terengah-engah.
“Thanks. Aku nggak apa-apa, kok,” jawab Sahra seraya mengambil botol air yang disodorkan Raja.
“Kak Arie!” panggil Dazaki. Ia berjalan mendekati kakaknya itu. “Bisa kita istirahat dulu? Kasihan teman-teman yang lain. Sepertinya sudah kelelahan,” lanjutnya.
“Tapi Desa Djithi sudah dekat. Istirahatnya sekalian di sana saja, ya!” jawab Kak Arie seraya memeriksa peta yang di tangannya.
“Oh, iya kah kak? Berapa jauh lagi?” Arola yang berada di samping Reky berbinar-binar bahagia.
“Nggak jauh, kok. 10 kiloter lagi, lah.” Kak Arie menjawab sambil menyeringai. Pastinya kami tak dapat melanjutkan.
“HAH! 10 KILOMETER LAGI?”
*******
Tapi, akhirnya kami semua istirahat. Selain itu hari juga sudah mulai sore sehingga perjalanan dilanjutkan esok hari. Sementara kami mendirikan tiga tenda untuk beristirahat. Satu tenda untuk Kak Arie dan Kak Aldy, satu tenda unutk Ancient, Welvy, Sahra, dan Arola, serta satu lagi untuk aku, Raja, Dazaki, dan Reky.
Di tengah suasana malam yang cukup ceria dan ramai dengan lelucon-lelucon Kak Aldy, Ancient yang duduk di samping Dazaki terlihat tidak terlalu menikmati. Seperti ada sesuatu yang ia pikirkan.
“Arlo!” panggil Welvy yang memang duduk di sampingku.
“Iya, Vy. Kenapa?” tanyaku.
“Kamu sadar nggak? Ancient keyaknya dari tadi aneh. Kelihatan nggak nafsu makan, padahal kan tadi perjalanan jauh banget,” jawab Welvy yang mungkin memang memperhatikan Ancient.
“Anehnya dimana? Kan, bisa saja dia nggak terlalu lapar,” balasku.
“Nggak mungkin. Aku aja lapar banget. Kok, Ancient nggak sih?” ucap Welvy lagi. Aku tersenyum mendengar pengakuannya. “Tapi, tadi aku juga lihat Ancient memandangi sungai terus-terusan waktu kita melewati jembatan. Masih dibilang gak aneh, Lo?” lanjutnya.
“Hmm… Mungkin ada yang lagi dipikirin Ancient,” jawabku dan Welvy mulai mengerti. Meskipun yang aku katakan itu benar, tapi aku tak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Ancient. Ia terlihat benar-benar terganggu. Tapi, sudahlah. Sampai saat ini pun tidak terjadi apapun.
Setelah selesai makan malam, suasana mulai cukup hening. Hanya Kak Aldy dan Kak Arie saja yang masih mengobrol merencanakan perjalanan esok. Satu persatu teman-temanku mulai memasuki tenda karena sudah lelah dan ingin segera tidur. Tapi, entah kenapa perasaanku jadi kurang enak. Malam ini terasa lebih mencekam dan menyeramkan. Kenapa?
“Hoahm!” Welvy menguap. Ia mengucek-ngucek mata yang terlihat sangat mengantuk sekali. “Aku tidur duluan ya, Lo.” pamitnya padaku. Aku mengangguk. Kemudian ia bangkit dan berjalan menuju tendanya.
Di luar hanya tinggal aku, Reky, Kak Aldy, Kak Arie dan Ancient yang masih berjaga. Aku berjalan mendekati Reky yang juga duduk di sebelah Ancient.
“Dingin ya, Ky?” tanyaku padanya seraya memperhatikan Kak Arie yang sibuk memainkan handphone-nya.
“Ya, begitulah. Namanya juga hutan,” Reky mengusap-usap lengannya. “Kamu belum tidur?”
“Belum. Soalnya aku merasa aneh, deh,” jawabku.
“Aneh gimana?”
“Mungkin karena nggak tidur di rumah kali, ya.”
“Ini kan sementara aja, Lo. Palingan lusa kita udah pulang lagi, kan. Bisa tidur di kasur lagi, deh. Tenang aja!” nasihat Reky padaku dengan gaya khasnya.
“So tua banget sih, lu.” Komentarku pada Reky. Kemudian aku melihat Ancient, ia seperti ketakutan. “Ancient kenapa, Ky?” bisikku membuat Reky memperhatikan Ancient juga.
“An! Kamu kenapa?” tanya Reky. Ia memegang pundak Ancient yang gemetaran. Sepertinya, Kak Aldy mendengar pertanyaan Reky tadi. Ia mendekati kami.
“Ada apa, An?” tanya Kak Aldy.
“Nggak ada apa-apa, kok. Aku kedinginan aja,” jawab Ancient mencoba meyakinkan. Tapi, aku tetap merasa aneh.
“Nih, tambahin jaket gue. Kan udah gue bilang bawa jaketnya double, malah nggak dibawa.” ujar Kak Aldy seraya melepas jaketnya dan memakaikannya pada Ancient.
“Tapi, waktu packing kan tasnya udah nggak cukup diisi lagi, Kak,” bantah Ancient tak mau disalahkan.
“Kan, bisa dititip ke gue. Tas gue, kan masih longgar. Udah tau lu itu nggak kuat dingin,” nasihat Kak Aldy pada adik sepupunya itu.
“Iya, Kak. Maaf,” Ancient mengaku salah.

-to be continued-

15.5.20

Radar on The GT (Ghost Town) - Chapter 2

Sumber: https://www.pexels.com/

Dazaki menghubungiku dengan handphone-nya.
“Tapi…,” gumamku agak ragu.
“Ikut aja yuk, Lo! Hitung-hitung liburan, kan?” bujuk Dazaki. Tapi tidak segera ku-iyakan. “Ancient udah ajak Welvy, tuh. Pacarnya ikut juga lhaaa!” lanjutnya lagi.
“Welvy ikutan?” tanyaku.
“Iya. Dia fix ikut,” jawab Dazaki.
“Aku tanya Bunda dulu, ya. Nanti aku kabari.”
“Kabarin ya! Awas kalau nggak ngabarin!” ancam Dazaki seraya setengah bercanda.
“Haha… Iya, pasti ngabarin, kok,” jawabku sambil menutup telepon.
*******

Hari perjalanan pun tiba. Akhirnya aku putuskan untuk mengikuti perjalanan ini. Kak Arie dan Kak Aldy yang memegang komando, aku dan teman-teman tinggal mengikutinya saja. Hingga akhirnya, peta petunjuk jalan yang digunakan Kak Arie berhasil mengarahkan kami menuju pintu masuk hutan lebat. Hanya sebuah jalan setapak dengan gapura kecil di sisi-sisinya.
Aku menengadah, mamandangi pohon-pohon tinggi yang sudah menyambut kami di pintu masuk. Setelah Kak Arie memastikan bahwa lokasi ini sesuai dengan peta, ia menginstruksikan untuk masuk ke dalam hutan. Aku mulai melangkahkan kakiku, tapi kuhentikan lagi karena Ancient masih belum berjalan.
“An! Ada apa?” tanyaku pada Ancient.
“Ah! Nggak ada apa-apa,” jawab Ancient yang sedikit terkejut. Ia melangkah berjalan meninggalkanku dan aku pun menyusul dibelakangnya.
“Arlo! Aku jalannya bareng kamu, ya.” Welvy tiba-tiba menggandeng tanganku.
“Iya, Vy!”
Lokasi yang akan kita tuju bernama Desa GT atau Desa Djithi, adanya di pedalaman hutan yang sedang kami lewati ini. Di sana hidup berbagai macam suku. Kak Arie tertarik dengan cara hidup suku-suku tersebut. Bahkan ada rumor bahwa desa tersebut dijaga oleh roh jahat agar aman dari dunia luar. Tetapi, karena hanya rumor, Kak Arie tidak terlalu memikirkan hal tersebut.

-bersambung-

5.5.20

Radar on The GT (Ghost Town) - Chapter 1


“Seandainya hari itu kita semua tak melakukan perjalanan, kamu pasti nggak akan seperti ini,” aku mengusap pelan kepala Arlo yang terbaring di ranjang rumah sakit. Aku perhatikan wajahnya yang kini kurus dan pucat. “Bangun, Arlo! Aku rindu suaramu”. Aku tarik tangan Arlo dan menyandarkan wajahku di tangan tersebut.
Di meja samping ranjang, terpampang sebuah foto dengan bingkai kecil. Foto kami bersama dengan teman-teman; seluruh personil Radar Band, Sahra, dan Arola.
Aku menutup mata ketika mataku mulai menangis.
“Seandainya hari itu kita semua tak melakukan perjalanan…,” pikiranku kembali pada kejadian setahun lalu. Saat libur sekolah. Aku, Arlo, dan teman-teman melakukan perjalanan ke sebuah desa di tengah hutan, bernama Desa GT.
*******
“He, An!” panggil Aldy. Saat itu mereka sedang berada di rumah Ancient. “Kamu tahu Arie, kan?” tanyanya.
“Arie yang mana?” Ancient balik bertanya.
“Arie kakaknya Dazaki itu, lho. Dazaki temanmu, kan? Masa kamu lupa?” jawab Aldy agak emosi.
“Yeeii, Kak Aldy nggak bilang Arie yang mana. Nama Arie banyak kali. Emang kenapa, Kak?”
“Arie ajak kita jalan-jalan, mau ikut nggak? Terus katanya kamu boleh ajakin teman-teman kamu juga. Ikut aja yuk, ikut!” Aldy setengah memaksa.
“Serius Kak Arie bilnag gitu? Emangnya Kak Aldy mau ngajakin siapa? Pacar Kakak, ya?” sindir Ancient.
“Ngeledek lu, ya? Lisa, tuh udah putus sama gue.”
“Lha kok, putus? Kenapa?”
“Ah! Lu mau aja masalah orang gede, masih kecil juga,”remeh Aldy.
“Kak Aldy pelit banget, sih. Kita kan cuma beda tiga tahun juga,” balas Ancient, tidak terima. Ia mengambil handphone dari dalam sakunya.
“He! Mau nelpon siapa, lu?” tanya Aldy ingin tahu.
“Dazaki. Emang kenapa?”
“Lha, ngapain nelpon Dazaki?”
“Tanya yang Kak Aldy tadi bilang. Takut Kak Aldy bohong. Kak Aldy kan, tukang bohong.” Ancient segera mencari kontak Dazaki dan melakukan panggilan. Ia mengabaikan Aldy yang menahan kesalnya karena sepupunya yang tak mau kalah itu.
“Halo! Ada apa, An?” jawab Dazaki dari sebrang telepon.
“ Zaki, aku dengan Kak Arie ngajakin jalan-jalan? Kemana?” tanya Ancient antusias.
“Oh, itu ke…,” Dazaki menjelaskan lokasi tujuan Kak Arie dan alasan mengapa ia mengajak jalan-jalan. Sampai akhirnya muncul ide untuk mengajak aku dan teman-teman yang lain ikut ke sana.

4.5.20

Terimakasih Penulis dan Karakter


Writer: Ana Fitriana

Terimakasih Penulis
1.      Band di SMP N 1 Anyar tahun 2006-2007
Ø  Mars Band
Ø  Apel Band
Ø  Hipotenusa Band
Ø  Ladys Band
Ø  Blue Band
Ø  Sistem Band
Ø  Penyakit Band
Ø  Bluetooth Band
Ø  Toilet Band
2.      Ungu Band
Untuk lagu:
-        Demi Waktu
-        Laguku
-        Ciuman Pertama
-        Berjanjilah
-        Bayang semu
-        Melayang
3.      Nidji Band
Untuk lagu:
-        Hapus Aku
-        Disco Lazy Time
-        Kau dan Aku
4.      Kapten Band
Untuk lagu:
-        Lagu Sexy
5.      Dewa Band
Untuk lagu:
-        Angin
6.      Radja Band
Untuk lagu:
-        Yakin
-        Angin
-        Tak Ada yang Sempurna
7.      Andra ‘n the BackBond
Untuk lagu:
-        Musnah
8.      Tahta Band
Untuk lagu:
-        Tempat yang Paling Indah
9.      Flanela Band
Untuk lagu:
-        Aku bisa
10.   The Fly Band
Untuk lagu:
-        Mencintaimu (keangkuhanku)

Karakter:
1.      Marlo Kazarlo (Arlo); Gitaris Radar, 14 tahun, mc
2.      Rezky Randy (Reky); Vokalis, 14 tahun, teman sekelas Arlo
3.      Anda Zaki Febra (Dazaki); Drummer, 14 tahun, teman sekolah Arlo
4.      Raja Amonda (Raja); Bassist, 14 tahun, teman sekolah Arlo
5.      Ancient Fyahran (Ancient); Keybordist, 14 tahun, teman sekelas Raja
6.      Welvy; sahabat Ancient, 14 tahun, teman sekelas Ancient
7.      Arola; sahabat Ancient, 14 tahun, teman sekelas Ancient
8.      Sahra; sahabat Ancient, 14 tahun, teman sekelas Ancient
9.      Aldy; kakak sepupu Ancient, kelas 2 SMA
10.   Arie; kakak Dazaki, pemilik Zarie Studio, Mahasiswa semester 1
11.   Pasha; pemilik studio samping sekolah Arlo
12.   Pak Ricky; guru kesenian di sekolah Arlo
13.   Bu Novita; guru di sekolah Arlo
14.   MC Girie; pembawa acara pensi senior, kelas 2 SMP
15.   MC Oby; pembawa acara pensi junior, kelas 1 SMP
16.   Rico; Vokalis Mars Band, kelas 3 SMP
17.   Lala; teman sekelsa Arlo dan Reky
18.   Toya; Vokalis Logo Band, kelas 3 SMP
19.   Levy; Bassist Logo Band, kelas 3 SMP
20.   Orgarus; Keyboardist Logo Band, kelas 3 SMP
21.   Ikrar; Gitaris Logo Band, kelas 3 SMP
22.   Afrizy; Drummer Logo Band, kelas 3 SMP

RADAR BAND - Chapter 16

Sumber : static.turbosquid.com


Hiburan demi hiburan telah ditampilkan. Hingga akhirnya tiba saat pengumuman pemenang Festival Band. MC Girie dan MC Oby sudah naik kembali ke atas panggung dan siap mengumumkan hasil penilaian juri dari perlombaan ini.
“Ok! Di tangan kamu sudah ada nama-nama pemenang Festival Band kali ini,” ucap MC Girie sambil mengibas-ngibaskan kartu yang dipegangnya.
“Kira-kira siapakah yang akan menjadi pemenangnya?” tanya MC Oby sambil berteriak dan mengacungkan mic ke arah penonton. Riuh suara sorak siswa dan siswi menyebutkan band favoritnya masing-masing.
“Ok! Ok! Tenang  semuanya! Tenang!” MC Girie menaikan tangannya dan membuat tanda agar penonton menjadi tenang.
“Langsung aja kayaknya nih, Kak. Kita umumkan pemenangnya,” saran MC Oby.
“Juara ketiga Festival Band diraih oleh…,” MC Girie memotong kata-katanya. “Mars Band!” lanjutnya.
Sorak penonton mengiringi vokalis Mars Band, Rico, saat maju dan naik ke atas panggung sebagai perwakilan timnya untuk menerima hadiah. Ia berdiri di antara kedua MC.
“Juara kedua Festival Band diraih oleh…,” kini MC Oby yang memberikan pengumuman. “Logo Band!” lanjutnya.
Penonton langsung bersorak terkejut karena Logo Band diprediksi akan menjadi juara pertama Festival Band ini. Begitu pun dengan para personil Radar Band.
“Kok, Logo Band juara kedua?” tanya Arlo.
“Juara pertamanya pasti kalian,” jawab Welvy dengan percaya dirinya.
“Kayaknya gak mungkin deh, Vy. Masih ada Blue Band dan Bluetooth Band kan yang tadi tampil bangus banget,” bantah Raja.
“Nggak ada yang nggak mungkin, Raja,” balas Sahra.
Sementara MC Girie dan MC Oby kembali bersiapa untuk mengumumkan juara pertama Festival Band, setelah Toya, vokalis Logo Band naik ke atas panggung dan berdiri di samping Rico.
“Dan akhirnya, akan akita umumkan…,” suara MC Girie.
“Juara pertama Festival Band diraih oleh…,” saut MC Oby. Kedua MC menarik nafas mereka dan mulai memberikan aba-aba menghitung.
“Radar Band!” seru keduanya kemudian.
Seluruh personil Radar Band terkejut mendengarnya. Sorak sorai penonton lebih ramai dari biasanya, beberapa ada yang memelingkan pandangan ke tempat berkumpulnya personil Radar Band smabil bertepuk tangan.
“Ky! Maju, Ky!” Arlo mendorong Reky untuk mewakilkan mereka ke atas panggung.
“Kamu aja, deh Lo!” jawab Reky.
“Lha, kok. Aku?”
“Udah. Maju aja, deh Lo!” tambah Raja.
“Iya. Maju aja, Lo!” dukung Dazaki.
“Lha, kenapa nggak Reky aja?”
“Kita ingin kamu yang terima, Lo. Udah sana maju, wakilkan kita-kita ya!” jawab Ancient.
“Ya udah, deh.” Akhirnya Arlo berjalan mendekati dan naik ke atas panggung. Ia berdiri di samping Toya yang segera menjabat tangannya dan meberikan ucapan selamat, begitu juga Rico.
“Pak Ricky, silahkan untuk menyerahkan hadiah kepada para pemenang!” pinta MC Oby kepada Pak Ricky sebagai juri. Hadiah diberikan satu persatu kepada pemenang mulai dari juara ketiga hingga juara pertama.
“Untuk semua personil Radar Band harap naik ke atas panggung!” ucap MC Girie saat pemberian hadiah dilakukan.
“Terimakasih Pak,” ucap Arlo seraya menyalami Pak Ricky saat memberikan hadiah. Ia menoleh kea rah kirinya, rekan-rekannya telah berjalan naik ke atas panggung.

*******

“Tak terasa, berakhirlah Festival Band kali ini. Kami mengucapkan terimakasih banyak kepada seluruh peserta yang ikut berpartisipasi,” ucap MC Girie.
“Terimakasih kepada juri, panitia, dan para penonton yang sangat mendukung jalannya acara ini,” lanjut MC Oby.
“Kami berdua mohon pamit dan maafkan bila ada salah-salah kata.”
“Dan inilah penampilan dari pemenang Festival Band kita...”
“Radar Band!” seru kedua MC, kemudian berjalan menuruni panggung digantikan oleh personil Radar Band yang sudah siap dengan instrumennya masing-masing untuk membawakan lagu penutup.
“Sebelumnya, kita semua mau mengucapkan terimakasih kepada kalian semua yang telah mendukung. Tanpa kalian kita bukanlah apa-apa,” ucap Reky, sok bijak. Teman-temannya tertawa geli melihat tingkah temannya itu. “Langsung aja satu lagu untuk kalian: ‘Tak Ada yang Sempurna’!” serunya.
Setelah aba-aba dari Dazaki, intro lagu ‘Tak Ada yang Sempurna’-nya Radja dimainkan, menyusul vocal Reky mengisi intro tersebut.

Bilang saja bila kau tak suka
Daripada kau berdusta
Bilang saja bila kau tak mau
Daripada kau membisu
Jangan pernah engkau bohong, bohong, bohong lagi
Bisa-bisa kau rugi sendiri
Lebih baik engkau terus terang saja
Agar tak membuatku gila

Reff:
Tak akan mungkin malam selamanya gelap
Masih ada waktu melakukan yang terbaik
Taka da manusia yang sempurna.. oh..
Cuma hanya bisa melakukan rencana

“Thanks All!” seru Reky di akhir lagu.

- Tamat -



RADAR BAND - Chapter 15

Sumber: anitrendz.net

Sorakan dan tepuk tangan penonton menyambut naiknya seluruh personil Radar Band ke atas panggung, tak kalah ramai dari Logo Band. Para personil Radar Band langsung menempati posisinya masing-masing. Setelah mengetes mic, Reky mulai angkat bicara.
"Nggak usah pakai lama. Radar di sini bakal buat telinga panas kalian, jadi lebih panas. Pastinya lewat lagu 'Mencintaimu (keangkuhanku)'!". Dimulailah lagu milik 'The Fly' tersebut yang dibawakan oleh Radar Band.

            Mencintaimu…
            Membunuh keangkuhanku…
Kehadiranmu…
Membius hatiku
                         Ajari aku…
Hapuskan mimpi burukku
Mencintai dirimu…
Cintaku S’lamanya.

“Wah, ternyata kebih heboh dari waktu latihan!” seru Arola pada kedua temannya.
“La, kamu gak ambil gambarnya?” tanya Sahra.
“Mereka sih nggak usah difoto, udah kefoto sendiri!” jawab Arola. Sahra dan Welvy saling bertatapan, tidak paham dengan ucapan Arola.
Setelah lagu selesai, sorakan dan tepuk tangan penonton mengirinya. Setelah sorakan agak mereda, Reky segera mengumumkan lagu kedua mereka.
“Selanjutnya, sebuah lagu yang akan mendinginkan telinga kalian. Radar akan ajak ke ‘Tempat Paling Indah’! teriaknya. Intro lagu ‘Tempat Paling Indah –Tahta’ segera dimainkan.
Tepuk tangan penonotn kembali riuh ketika Reky mulai bernyanyi. Suaranya memang mirip dengan vokalis band Tahta, yaitu Phewe. Tapi itu menurut Arola, Sahra, dan Welvy saja. Hehehe…
“Tuh, benar kan? Suara Reky emang mirip vokalisnya Tahta. Nggak ada bandingannya,” ujar Arola.
“Nggak, La. Suara Reky kalau nggak dibarengin sama permainan gitarnya Arlo, nggak sebagus kayak gini,” bantah Welvy.
“Sorry ya, La, Vy. Vokal Reky dan gitarnya Arlo nggak akan seimbang kalau gak ada bass-nya Raja,” ucap Sahra. Akhirnya mereka menjadi sibuk mempertahankan pendapatnya masing-masing daripada memperhatikan penampilan Radar Band.
“Ssssstttt!” seru Lala yang ada di sekitar mereka. “Bisa diam gak ,sih? Lagi nonton nih,” tegurnya. Welvy, Arola, dan Sahra langsung diam dan kembali memperhatikan ke depan.

Ku lelaki yang tak bisa menangis
Apa yang harus kulakukan?
Bila kau menjadi milikku
Kan kurelakan semua
Sesak hidupku
‘Kan kujadikan kau ratuku
Di tempat yang paling indah
Di tempat yang paling indah
Di hidupku…

Permainan gitar Arlo mengiringi intro reff pertama membut tepuk tangan penonton tak terhindari. Penonton terus ikut bernyanyidan menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama hingga lagu berakhir.
“Waw! Waw! Waw! Tepuk tangan untuk Radar Band!” teriak MC Girie seraya memasuki panggung tepat setelah lagu selesai. Personil Radar Band melepaskan alat-alat musiknya dan mulai beranjak turun dari panggung.
“Thanks banget buat Radar Band, ya. Udah sabar banget,” ujar MC Oby yang berjalan mengikuti MC Girie.
“Lho, sabar kenapa By?” tanya MC Girie.
“Sabar nungguin penampilannya. Giliran terkahir kan mereka,” jawab MC Oby.
“Oh, iya yak!” balas MC Girie.
“Sambil menunggu penilaian juri nih, Kak Girie. Gimana kalau kita langsung aja ke acara hiburan?” tanya MC Oby.
“Nah, benar. Setuju banget. Kalau gitu langsung kita panggil aja ya… Hiburan pertama…,”

- to be continued -


4.11.18

RADAR BAND - Chapter 14

Image by narutocosplayers.com


Sabtu, pukul 10.00 pagi, Final Festival Band telah di mulai. Seluruh siswa telah memenuhi halaman sekolah untuk melihat aksi dari band jagoan mereka masing-masing. Sebagian besar dari mereka membawa berbagai macam alat dokumentasi, baik kamera digital, handphone, DSLR, dan lain-lain. Begitu pun Sahra, Welvy, dan Arola yang masih mondar-mandir mencari tempat duduk kosong. Hingga Sahra melihat Ancient yang sedang duduk di salah satu bangku panjang yang belum terisi.
“Lho, An. Kok, nggak gabung sama yang lain?” Tanya Sahra seraya duduk di samping Ancient. Welvy dan Arola mengikutinya.
“Memang Kenapa? Santai aja lagi,” jawab Ancient.
Rupanya kedua MC sudah stand by di atas panggung untuk membuka acara Final Festival band ini.
“Halo semuanya!” teriak MC Girie.
“Bertemu lagi dengan kita, ya. Kali ini di acara Final Festival Band,” sambung MC Oby. “Dari 15 band yang mengikuti acara ini, terpilih tujuh band untuk bersaing lagi di final kali ini,” lanjutnya.
“Kita sebutin satu-satu ya nama band-nya,” ujar MC Girie, kemudian melihat kertas catatan yang sejak tadi di pegangnya, begitu pun MC Oby.  “Band yang akan bersaing di final kali ini adalah...  Mars Band!”
“Blue Band!” lanjut MC Oby.
“Bluetooth Band!”
“Charlie Band!”
“Violet Band!”
“Logo Band! Dan…”
“Radar Band!” seru kedua MC bersamaan seraya bertepuk tangan sehingga penonton pun mengikuti mereka.
“Kita langsung saja, band yang pertama tampil di final ini… kita panggil…,” MC Girie memberikan aba-aba.
“Mars Band dengan Hapus Aku,” lanjut MC Oby kemudian memanggil band beserta lagu yang akan di bawakan.
Tepuk tanga penonton memenuhi seluruh halaman sekolah saat satu persatu personil dari Mars Band keluar dari belakang panggung. Setelah semua personil berada di posisi, mulailah lagu Hapus Aku-nya Nidji.
“Hi, An!” panggil Dazaki yang muncul di samping Ancient. “Menurut kamu, gimana Mars Band?” tanyanya kemudian.
“Keren,” jawab Ancient singkat. “Btw, yang lain mana, Za?”
“Itu di belakang,” Dazaki menunjuk arah belakang dengan jempolnya. Saat Ancient menengok, Reky yang berdiri bersama Arlo dan Raja melambaikan tangannya.

******

Prok! Prok! Prok!
Sorakan dan tepuk tanga penonton menyambut selesainya band keenam yang tampil di final, Logo Band dengan lagu Ciuman Pertama dari Ungu yang mereka bawakan.
“Oke, terimakasih semuanya!” ucap Toya, sang vokalis, mengumumkan lagu kedua yang akan mereka bawakan. “Lagu kedua dari kita yaitu Melayang, yang akan buat kalian semua melayang bersama Logo Band!” serunya seraya memberikan aba-aba kepada teman-temannya untuk memulai intro lagu Melayang-nya Ungu tersebut.
                Kini ku terbang, melayang
                Mencoba kepakan sayap
    Kuberharap kudapat
                Temukan dirimu untukku
                                Terbang melayang
                                Menyusuri ruang cinta
                                Berharap kuakan
                                Temukan dirimu untukku
Seluruh penonton bernyanyi mengikuti saat lagu memasuki bagian reff, bersama tepokan tangan dan semangat mereka. Bahkan Welvy, Arola, dan Sahra sampai terkagum-kagum.
“Wah! Kalian yakin bisa mengalahkan Logo Band?” Tanya Welvy pada Ancient dan Dazaki.
“Hmm… menurutku siapa pun yang menang nggak masalah, yang penting kita sudah berpartisipasi dan memberikan yang terbaik di festival ini. Ya kan, Za?” jawab Ancient.
“Yap. Benar banget,” balas Dazaki.
Tak lama kemudian, selesailah Logo Band membawaka lagu keduanya. Satu persatu personil kembali ke belakng panggung. MC Girie dan MC Oby memasuki panggung menggantikan mereka dan untuk mengumumkan peserta selanjutnya.
“Kalian nggak siap-siap? Kan selanjutnya giliran ka…,” pertanyaan Welvy terhenti ketika menengok ke arah Ancient dan Dazaki yang sudah menghilang. “Lho, Ancient dan Dazaki kemana?” ia jadi bertanya pada Sahra.
“Itu udah di depan,” jawab Sahra seraya menunjuk panggung.
“Kok, cepat banget. Tadi rasanya baru ngobrol sama aku,” gumam Welvy. Ia tak memikirkan lebih lanjut dan mulai memperhatikan panggung lagi. Rupanya MC Girie dan MC Oby sudah mengumumkan peserta yang akan tampil selanjutnya.
“Peserta terakhir kita… Radar Band!”

-to be continued-

10.3.17

RADAR BAND – Chapter 13

Image by Google
Sorenya, personil Radar Band langsung menuju Zarie Studio setelah pulang sekolah. Rupanya Welvy, Arola dan Sahra tidak bersama mereka, katanya mereka akan menyusul saja.
“Beneran lo tau tempatnya, La?” tanya Welvy pada Arola. Saat itu mereka baru turun dari angkutan umum.
“Tenang, Vy! Tinggal jalan sedikit lagi,” jawab Arola. Ia menunjuk pintu gang kecil dan mulai memasukinya. Welvy dan Sahra mengikuti di belakang.
Tak sampai lima menit, mereka mendapati sebuah rumah dengan tulisan Zarie Studio di depannya. Telah terparkir empat buah sepeda di halamannya. Arola medekati pintu masuk dan mengetuknya.
Seseorang berjalan mendekat dan membuka pintu tersebut. Itu Dazaki. Ia mempersilahkan Arola, Welvy dan Sahra masuk seraya melambaikan lengan kirinya yang masih menggenggam stick drumm. Tanpa banyak bicara, mereka memasuki studio. Sudah ada Arlo, Ancient, dan Raja yang memainkan alat musik mereka. Sedangkan Reky masih mengutak-atik volume mic-nya. Seluruhnya masih menggunakan seragam sekolah, meskipun ada pula yang telah menggunakan kaos. Kecuali Dazaki, ia telah berganti pakaian seluruhnya.
“Hallo semua!” seru Sahra.
“Baru datang kalian?” tanya Ancient.
“Kok, masih pakai seragam? Gue kira pada ganti baju dulu,” tanya Welvy.
“Rumah Za itu jauh. Jadi balik ke rumah cuma simpan tas sama ganti sepatu aja,” jawab Raja.
“Rumah Dazaki?”
“Yang punya studio ini, kan kakaknya Dazaki, Kak Arie,” jelas Reky. Dazaki mengangguk saat Welvy, Sahra, dan Arola menengok ke arahnya.
“Lo! Udah selesai belum? Ayo dimulai!” ujar Reky lagi.
“Sebentar. Senarnya masih salah. Rundingin dulu aja mau main lagu apa!” jawab Arlo, masih sibuk dengan gitar.
“Lagu pemanasan, nih.” Komentar Raja.
“Disco Lazy Time, dong!” pinta Ancient. Ia memainkan melodi dari lagu tersebut.
“Emang bisa? Lagu itu, kan efeknya banyak,” ujar Arola.
“Eits! Jangan salah!” bantah Reky. Ia memperhatikan Arlo.
“Lo! Udah beres belum?” serunya.
“Sip!” Arlo mengangkat jempolnya. Ia memosisikan gitar agar nyaman digunakan.
“Nona-nona, kalian jurinya! Let’s Disco Lazy Time!” Reky memberikan aba-aba pada rekan band-nya untuk memainkan intro musik Disco Lazy Time-nya Nidji. Kemudian Reky menyambut musik dengan suaranya. Tak lupa backing vocal oleh Arlo dan Ancient saling bersahutan.
Arola yang tadinya meragukan, kini tertawa sendiri. Efek-efek musik saat lagu memasuki reff dapat dikuasai dengan baik oleh Radar Band. Juga suara Reky dengan kemampuannya yang fasih dalam berbahasa inggris, membuat musik semakin asyik.
“Keren, keren banget! Kalau boleh main lagu ini di final, pati Logo Band kalah deh,” puji Sahra. Matanya masih memerhatikan Raja dan Bass-nya.
“Thank you! Thank you, Girls!” ucap Reky dengan mic-nya. Ia membungkukkan tubuh ke arah Sahra, Arola, dan Welvy yang menonton mereka.
“Nanti di final mau bawa lagu apa?” tanya Welvy.
“Enaknya lagu gimana, ya?”
“Kalau menurutku sih, lagunya harus yang semua orang hafal dan buat penonton ikuti iramanya,” usul Welvy.
“Iya. Jadi semua penonton bisa ikut nyanyi,” tambah Sahra.
“Boleh juga, tuh. Tapi, lagu apa yang begitu, ya?” tanya Raja.
Seraya memain-mainkan alat musiknya, semua personil Radar Band mencari lagu yang akan dibawakannya saat final festival band. Begitu pun Welvy, Arola dan Sahra.
“Gue tau!” seru Arlo tiba-tiba.
“Gimana kalau lagu yang itu....”


-to be continued-

3.3.17

RADAR BAND – CHAPTER 12

image by Google
“Nah, nanti X-nya diganti sama dua. Terus dapat deh, hasilnya.” Ancient menyoret-nyoret buku tulisnya saat menerangkan salah satu soal matematika yang ditanyakan Dazaki.
“Oke! Gue ngerti,” balas Dazaki. Ia mencoba mengerjakan soal tersebut sendiri.
“Za! Emang nggak capek ya belajar terus?” tanya Ancient seraya memperhatikan Dazaki yang begitu semangat.
“Nggak juga, sih.” jawab Dazaki. Pandangannya tak ia lepaskan dari soal di bukunya.
Ancient hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban Dazaki. Ia bersyukur kemampuannya masih berguna untuk orang lain.
“Eh! Udah liat pengumuman festival band?” tanya Ancient lagi. Dazaki mengangkat kepalanya.
“Belum. Tadi gue langsung ke perpustakaan,” jawab Dazaki menggelengkan kepala.
Tak lama setelah itu, Arlo dkk memasuki perpustakaan. Mereka menengok sekeliling perpustakaan untuk menemukan Dazaki dan Ancient. Pencarian terhenti saat matamereka berhasil menangkap dua sosok yang duduk di bangku dekat jendela belakang. Tanpa banyak berseuara, mereka mendekati sosok itu.
“Rajin banget, sih!” komentar Raja saat tiba di meja Ancient dan Dazaki.
“Ssstt! Jangan berisik!” balas Ancient. Ia menyimpan telunjuk di bibirnya. Raja membalas dengan melakukan hal yang sama.
“Udah selesai?” tanya Arlo. Ia menarik bangku untuk duduknya.
“Iya,” jawab Dazaki.
“Hallo, An!” Welvy muncul dari belakang Arlo.
“Hallo juga. Eh! Kok bisa bareng Arlo, Reky, Raja?” tanyanya.
“Ketemu di Paramedia,” jawab Arola.
Sahra menganggukan kepala mendukung pernyataan Arola.
“Jadi, gimana? Kita masuk final?” tanya Ancient pada Arlo.
“Masuk final, dong!” ujar Raja menjawab pertanyaan Ancient. Wajah Daaki dan Ancient langsung sumringah.
“Jadi, sekarang harus kita bicarakan nih langkah selanjutnya. Kalian sudah selesai, kan belajarnya? Kita ngobrol di luar aja, gimana?” ucap Arlo.
Mereka keluar dari  perpustakaan dan menuju kantin. Setelah duduk melingkari salah satu meja kantin, Arlo memulai rapat dadakan itu. Topik pembicaraannya tak lain adalah mengenai persiapan untuk final festival band nanti. Mulai dari pilihan lagu hingga jadwal latihan.
“Kalian kalau latihan dimana?” tanya Welvy tiba-tiba.
“Kita boleh ikut nggak?” tambah Arola.
“Janji nggak akan ganggu deh,” tambah Sahra.
“Nanti ngapain di sana?” tanya Raja.
Welvy memutar otaknya untuk mencari alasan agar motifnya untuk mendekati Arlo tidak ketahuan. Ia mengernyitkan dahi seraya melirik Arola dan Sahra, berharap mereka membantu untuk mencari alasan. Tapi, sepertinya mereka pun kebingungan. Kemudian Welvy menengok ke arah Ancient yang menatapnya ingin tahu.
“Itu lho, kita... mau temani Ancient,” jawab Welvy. Semua mata menatap ada Ancient.
“Gue?” Ancient kebingungan.
“Iya, kan An? Kan lo pernah minta kita buat temani lo pas latihan band?” ujar Welvy lagi. Ia mengedip-ngedipkan matanya pada Ancient. Ancient langsung mengerti maksud Welvy.
“Ooohh..., iya. Gue bilang begitu pas di kelas tadi pagi. Nggak apa-apa kan, ya?” ucap Ancient.
“Nggak apa-apa, sih.” jawab Arlo.
“Yeay! Thanks ya, Arlo.” Welvy berseru riang. Ia menarik tangan Arlo. Arlo hanya bisa tersenyum membalasnya.
“Tapi, jangan ganggu lho, ya!” ujar Raja.
“Tenang! Tenang! Nggak bakal ngeganggu kok. Kalian latihan dimana?”
“Zarie Studio. Tau, kan?”


-to be continued-

18.9.16

RADAR BAND - Chapter 11

“Ancient!” teriak tiga anak perempuan yang menghampiri Radar Band. Mereka segera mengerumuni Ancient saat telah berada di hadapannya. Rupanya mereka adalah Welvy, Arola, dan Sahra.
“Kok, nggak bilang ke kita kalau jadi keyboardist band?” tanya Arola. Ia menarik tangan Ancient.
“Kalau tahu, kan kita nggak akan salah sangka,” ujar Sahra.
“Iya. Kita bisa ngertiin kok,” tambah Welvy.
“Iya, iya. Sorry. Kan biar surprise,” jawab Ancient.
“Maafin kita juga, ya. Karena udah katain lo yang nggak-nggak,” ujar Welvy. Ancient tersenyum mengangguk.
Tiba-tiba Raja ikut-ikutan nimbrung di tengah di tengah-tengah obrolan mereka berempat.
“Salah sangka apa, nih?”
“Mau tahu aja!” jawab mereka bertiga bersamaan. Ancient masih senyum-senyum memperhatikan tingkah ketiga temannya itu. Sementara Raja cuma garuk-garuk kepaa sambil nyengir.
“An!” panggil Arlo kemudian.
“Kita duluan, ya kalau begitu,” pamitnya. Ancient mengangguk. Tapi, tiba-tiba Welvy mendekati Arlo.
“Arlo! Kita bareng aja ke depan panggungnya. Ngomong-ngomong tadi permainan gitarnya bagus banget,” ucap Welvy seraya menarik lengan baju Arlo untuk berjalan bersama. Teman-temannya yang lain mengikuti Arlo di belakang.
“Oh ya? Thanks ya,” jawab Arlo sambil tersenyum.
“Permainan gitar Arlo memang hebat, Vy.” Reky menambahkan saat berhasil menyusul mereka berdua.
“Vokalnya Reky juga mantap abis, kok,” tambah Arola yang menyusul Reky dan berjalan di sampingnya.
Sahra yang berjalan beriringan dengan Ancient terasa kesal karena dicueki dengan kedua temannya.  Ancient mencoba menghibur Sahra.
“Raja sendirian tuh, Ra,”ujarnya.
“Maksud lo apa, Ancient?”balas Sahra bertambah kesal. Ia melipat kedua tangannya di dada.
“Permisi, sebentar!” Dazaki memotong obrolan Sahra dan Ancient.
“An! Nanti ajarin gue matematika yang kemarin, ya. Masih ada yang belum gue mengerti,” tambahnya. Kemudian Dazaki dan Ancient mulai asyik mengobrol tentang matematika. Sahra semakin kesal karena dicueki Ancient.
“Kok, manyun? Dicuekin, ya?” tanya Raja. Ia mendekati Sahra.
“Nggak uda hubungannya sama lo kali. Ngapain lagi ngedeketin?” balas Sahra.
“Tadi gimana penampilan gue di panggung? Keren, kan keren?”
“Keren, sih. tapi masih kerena Kak Levy tau.”
“Gak usah muji deh, kalau gitu.”
“Terserah gue, dong. Sirik aja, lo!”
*******************
Senin, saat jam istirahat. Arlo, Reky, dan Raja berjalan menuju Para Media untuk melihat pengumuman peserta final Festival Band.
“Kira-kira, kita masuk final nggak, ya?” gumam Arlo.
“Kalau Logo Band pasti masuk. Soalnya kemarin mereka bawain lagunya nyentuh banget,” jawab Raja.
“Ancient dan Dazaki mana?” tanya Reky.
“Mereka ke perpustakaan. Biasanya. Belajar matematika,” jawab Raja lagi.
“Matematika lagi...,” keluh Reky.
Tiba-tiba dari hadapan mereka datang Welvy, Arola, dan Sahra. Mereka berlari-lari mendekat.
“Arlo! Selamat ya! Radar Band masuk final, lho.” Welvy menyalami Arlo.
“Oh, ya?”
“Iya, Lo.” Arola menguatkan.
“Kita udah lihat pengumumannya di Para Media,” tambah Sahra.
“Kita baru mau ke sana,” timpal Reky.
“Ya, udah. Ayo ke Para Media!” ajak Welvy. Ia menarik lengan Arlo agar berjalan berdampingan dengannya ke Para Media, yang lain mengikuti di belakang.
“Wo, Woi! Tungguin gue!” seru Raja yang tertinggal di belakang.
Tak lama kemudian, mereka sampai di hadapan Para Media. Welvy menunjuk sebuah lembaran yang berjudul Peserta Final Festival Band pada salah satu baris dari daftar peserta.
“Ada, kan?” ujarnya. Arlo tersenyum senang.
“Coba kita lihat syarat di Final nanti apaan, ya?” Raja menunjuk baris tulisan yang berada di bawah daftar tersebut.
“Dipersilahkan kepada masing-masing Band untuk membawakan lagu dalam negeri unggulannya,” sambung Raja, membaca tulisan tersebut.
“Hehe, lagunya boleh apa pun dong,” komentar Reky.
“Berapa lagu, Ja?” tanya Arlo.
“Dua lagu,” jawab Raja.
“Nanti kalian mau bawakan lagu apa?” tanya Arola.
“Hmm, kita ke perspustakaan dulu, deh,” usul Arlo. Ia memutar tubuhnya.
“Ngapain ke perpustakaan? Mau nyari buku kumpulan lagu?” tanya Raja setengah bercanda.
“Kan, Ancient dan dazaki ada di sana. Kita rundingkan bareng-bareng,” jawab Arlo.
“Oh, iya. Gue lupa,” balas Raja. Kemudian mereka semua berjalan menuju perpustakaan.
-to be continued-