Cute Brown Spinning Flower
Tampilkan postingan dengan label The Beautiful of Friendship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Beautiful of Friendship. Tampilkan semua postingan

7.7.16

The Beautiful of Friendship - Chapter 29

Senin pagi saat Ira hendak memakai sepatu untuk berangkat sekolah, terlihat kesibukan di rumah tetangganya yang telah lama kosong. Truk pengangkut barang terparkir di halaman dan beberapa orang mengangkut barang-barang ke dalamnya. Sepertinya ada keluarga yang pindah ke sana. Ira menjadi teringat pertanyaan Fami, saat ia pertama kali mengikuti Ira ke rumah.
“Itu rumah kosong, Ra?” tanya Fami.
“Iya. Kamu tinggal di sana aja, Fam!” jawab Ira.
“Lho, kenapa?”
“Kan bisa ketemu teman-temanmu... Hihihihi....” Ira memeragakan gaya hantu yang sedang menakut-nakuti.
“Aku bukan hantu tau...,” jawab Fami seraya menjulurkan lidah.
PAK!
Ira memukul pipinya. Ia berusaha mengendalikan diri, kalau tidak ia akan kembali menangis saat mengingat Fami. Ira menarik nafas dalam dan menghembuskannya kembali. Ia berusaha sekuat tenaga untuk mengikhlaskan kepergian Fami.
“Bu, aku pamit ya!” serunya saat hendak berangkat sekolah.
******
Saat Ira memasuki kelas, rupanya Irfani, Irfan dan Lara sudah datang terlebih dahulu. Mereka sedang bersenda gurau membicarakan sesuatu.
“Pagi semuanya,” sapa Ira seraya tersenyum riang. Ia menyimpan ransel di bangkunya.
“Lho, kok, nggak pada jawab?” tanyanya kemudian saat ia tak mendengar jawaban dari ketiga temannya itu. Mereka justru diam membeku memperhatikan Ira yang terbengong kebingungan. Sampai akhirnya Irfani melompat merangkul Ira.
“Ira...! Akhirnya kamu ketawa lagi,” ujar Irfani, melompat kegirangan saat memeluk Ira. Ia begitu senang mengetahui temannya kembali tersenyum.
“Haha, iya. Maaf, ya udah membuat kalian khawatir,” jawab Ira.
“Syukurlah. Aku pikir kau akan terus cemberut selamanya,” ujar Lara. Ira hanya tertawa saja menjawabnya.
“Udah nggak apa-apa, sekarang?” tanya Irfan. Ira tersenyum dan mengangguk.
****
Pada jam istirahat pertama, Ira bermaksud untuk berkunjung ke kelas Ana. Ia ingin mengucapkan terimakasih. Jika saja Ana tak mengunjunginya waktu itu, mungkin ia masih bersedih hingga saat ini. Meski pun Ira tak bisa memberikan apa-apa sebagai balasan, setidaknya Ana tahu bahwa ia kini dapat menerima keadaannya. Ketika, Ira sedang berjalan menuju kelas Ana, ia melihat Irfan di hadapannya.
“Irfan!” panggil Ira. Ia berlari kecil mendekati Irfan.
Irfan memutar tubuhnya, menghadap Ira.
“Eh, Ira. Ada apa?”
“Kamu mau ketemu, Ana kan? Barenglah. Aku juga mau ke sana,” jawab Ira saat telah di hadapan Irfan.
“Boleh. Ayo!” Irfan memutar tubuhnya kembali dan mulai berjalan. Ia memperhatikan Ira sepanjang perjalanan. Ira terlihat lebih ceria dari minggu sebelumnya.
“Ira kayaknya senang banget hari ini?” tanyanya kemudian.
“Oh, ya?” Ira menjawab dengan cengar-cengir.
Irfan kembali memperhatikan jalannya. Mereka hampir tiba di kelas Ana. Dari kejauhan Irfan dapat melihat Ana sedang bersenda gurau di depan kelas bersama seorang teman lelakinya. Irfan tak dapat melihat wajah lelaki tersebut karena posisinya yang membelakangi mereka. Ana terlihat begitu akrab dengannya.
“Lho, Irfan. Kok, kamu berhenti?” tanya Ira saat ia menyadari Irfan tertinggal olehnya.
Rupanya Ana menyadari kedatangan Ira dan Irfan saat itu.
“Irfan! Ira! Cepat kemari!” teriak Ana seraya melambaikan tangan.
Tiba-tiba Irfan berjalan cepat dan meninggalkan Ira. Ia menyelipkan diri diantara Ana dan teman lelakinya. Ira yang tadinya bengong atas apa yang dilakukan Irfan, kini mulai mengerti.
“Hoo, cemburu toh,” gumam Ira sambil cekikikan. Ia berjalan mendek saat Ana hendak memperkenalkan temannya tersebut.
“Kenalin! Ini....”
“Irfan. Pacarnya Ana,” potong Irfan. Ia menjulurkan tangannya kepada laki-laki itu. Ira kembali cekikikan melihat tingkah laku Irfan. Laki-laki itu membalas jabatan tangan Irfan.
“Aku sepupunya Ana, namaku Fami.” Ujarnya.
“Oh, sepupu toh.” Irfan menggaruk-garuk kepalanya. Wajah Irfan memerah malu.
“Fami?!” seru Ira.
Merasa namanya dipanggil, Fami menoleh ke arah Ira.
Ira terkejut. Fami yang kini di hadapannya mirip dengan Fami yang bertemu dengannya di gudang sekolah dulu. Tapi, bagaimana ini bisa terjadi? Apakah mereka Fami yang sama. Tapi, tidak mungkin.
“Hai, Ira! Bagaimana kabarmu? Ini aku, Fami.” ucap Fami.
“Bagaimana bisa?” gumam Ira. Ia memperhatikan Fami dengan tatapan tak percaya.
“Hei, Ira! Apa kau pernah bertemu dengan Fami sebelumnya? Anak ini terus-menerus menanyakanmu sejak ia bangun seminggu yang lalu,” jelas Ana. Ia menarik-narik kerah kemeja Fami agar tubuh Fami yang tinggi membungkuk dan sejajar dengannya.
“Bangun? Maksudnya gimana?” tanya Irfan.
“Fami mengalami kecelakaan tepat saat pergantian semester tahun ini dan menyebabkannya koma selama tiga bulan lebih, dan baru sadar minggu lalu. Saat aku menemuinya, ia langsung menanyakan keeadaanmu, Ra. Apa kalian pernah bertemu?” jelas Ana.
“Sudah kubilang bukan begitu. Aku bermimpi bertemu Ira di gudang sekolah ini. Aku juga mengikuti Ira fieldtrip dan melaporkan kasus perampokan pada polisi dua minggu lalu,” jelas Fami.
“Benarkah?” tanya Irfan lagi.
“Sudah kubilang, kan, nggak mungkin kamu bermimpi seperti itu. Fieldtrip dan perampokan itu kita benar-benar mengalaminya, dan Ira yang melapor pada polisi,” tambah Ana lagi.
“Sebenarnya...,” Ira angkat bicara.
“Sebenarnya, bukan aku yang melaporkan perampokan itu pada polisi. Tapi Fami yang melakukannya. Karena saat itu, hanya aku saja yang dapat melihat dan mendengar Fami, makanya Fami memintaku untuk bilang kalau aku yang melapor.” Ira menjelaskan.
“Iya. Tepat seperti yang Ira katakan,” dukung Fami.
“Jadi, kau Fami yang itu?” tanya Ira kemudian. Matanya mulai berkaca-kaca.
Fami tersenyum. Ia pun mengangguk.
Ira berlari mendekati Fami dan memeluknya. Air matanya menitik perlahan. Ia bersyukur dipertemukan lagi oleh Fami yang selama ini dirindukannya. Bahkan ia dapat menyentuhnya. Fami benar-benar nyata sekarang.
“Jadi, mulai besok kita bisa pulang bareng. Yee!” seru Fami tiba-tiba.
“Pulang bareng? Ah! Jadi yang tadi pagi pindahan ke rumah sebelah itu keluargamu?” tanya Ira. Fami mengangguk sambil senyum-senyum. Mereka kembali berpelukan.
-tamat-

The Beautiful of Friendship - Chapter 28

Rencana perampok-perampok tersebut berhasil digagalkan. Pak Mazie meminta rekannya untuk membawa mereka menuju kantor polisi. Lara dan keluarganya dapat merasa aman sekarang.
“Terimakasih, Pak! Kami sekeluarga benar-benar mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya,” ujar Pak Dama pada Pak Mazie.
“Berterimakasihlah pada Tuhan dan seseorang yang melapor pada kami bahwa telah terjadi perampokan di rumah ini. Tanpanya, tentu kita tak mungkin datang tepat waktu,” balas Pak Mazie.
“Siapa, Pak yang melapor?” tanya Bu Dama.
“Kalau tidak salah, seorang anak perempuan bernama Ira, menelepon kami dan melaporkan perampokan ini,” jawab Pak Mazie.
“Aku?” tanya Ira. Lara segera menghampiri Ira dan memeluknya.
“Terimakasih Ira. Terimakasih semuanya,” ucap Lara. Ia melepaskan pelukannya.
Ira bingung. Ia sama sekali tak menelepon polisi. Tapi, bagaimana Pak Mazie bisa berkata kalau ia yang memanggil polisi?
“Iya, iya. Tapi aku nggak...,” Ira mencoba mengonfirmasi, kata-katanya terpotong saat Fami muncul di hadapannya.
“Aku yang menelepon, Ra. Aku menggunakan nama dan suaramu,” ujar Fami.
“Nggak kenapa, Ra?” tanya Lara.
“Nggak kenapa-kenapa, kok. Iya, sama-sama ya Lara,” jawab Ira sambil cengar-cengir. Tentunya nggak akan ada yang mempercayai jika ia katakan ada roh yang menyamar menjadi dirinya untuk menelepon polisi, kan?
“Baiklah, Pak! Kami permisi dulu,” pamit Pak Mazie.
“Sekali lagi, terimakasih banyak, Pak.” Balas Pak Dama. Beliau berjabat tangan dengan Pak Mazie sebelum memasuki mobil patrolinya.
*****
Lima hari kemudian.
“Ira! Ayo, berangkat bareng aku!” Lara memanggil Ira dari dalam mobilnya saat ia melihat Ira sedang berjalan menuju sekolah. Ia meminta supir untuk menepikan mobilnya.
“Nggak usah, La. Aku jalan saja,” tolak Ira.
“Udah, nggak apa-apa. Ayo!” Lara turun dari mobil dan menarik Ira masuk ke dalam mobil. Akhirnya Ira menurut dan mengikuti Lara.
Selama di dalam mobil, Ira hanya diam. Ia tak terlalu merespon Lara yang mengajaknya mengobrol.
“Kamu kenapa, Ra? Kok, murung? Lagi ada masalah, ya?” tanya Lara kemudian.
“Nggak apa-apa, kok La. Thanks ya udah nebengin,” jawab Ira. Ia menarik bibirnya dengan paksa agar terlihat tersenyum. Lara jadi bingung mesti bagaimana.
Tak lama kemudian, mereka sampai di depan gerbang sekolah. Lara dan Ira turun dari mobil dan bersama-sama berjalan menuju kelas. Rupanya Irfan dan Irfani sudah berada dalam kelas.
“Pagi, Ira dan Lara.” Sapa Irfan. Ira hanya menjawab dengan senyum saat melewati Irfan.
“Pagi juga Irfan,” jawab Lara.
“Ira! Lara! Irfan jadian sama Ana, lho,” ujar Irfani tiba-tiba.
“Ssstt! Irfani, jangan ribut-ribut!” irfan menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.
“Wah, beneran? Traktiran, ya traktiran,” ucap Lara.
“Selamat ya, Irfan,” ucap Ira. Ia mengatakannya dengan nada yang lemah dan sangat tak bersemangat. Irfan, Irfani, dan Lara yang tadinya bercanda jadi ikut terdiam. Ira tak seperti biasanya, itulah yang mereka simpulkan.
Saat jam istirahat, Irfan menceritakan keadaan Ira pada Ana.
“Ira sama sekali nggak cerita?” tanya Ana. Irfan menggelengkan kepalanya.
“Dari kapan Ira seperti itu?” tanya Ana lagi.
“Dua atau tiga hari belakangan ini lah,” jawab Irfan. Ia menyeruput es jeruk yang dibelinya.
“Hm, kenapa ya?”
“Coba kamu ke rumahnya, besok sabtu atau minggu! Siapa tahu kalau sama kamu, Ira mau cerita.”
“Oke, deh.”
Esoknya, Ira masih memasang wajah murung. Sepulang sekolah, ia langsung masuk ke kamarnya dan tidak keluar sampai sore hari. Ibunya mulai merasa khawatir.
“Ira!  Makan siang dulu, sayang!” panggil Bu Nazar. Ia mengetuk pintu kamar Ira.
“Nanti saja, Bu.” Jawab Ira dari dalam kamarnya. Ia kembali menutup wajah dengan bantal, mencoba menahan air matanya. Banyak yang ia pikirkan empat hari belakangan ini. Tapi tak kunjung juga menemui jalan keluar. Ditambah ia tak dapat melakukan apa pun untuk memecahkan masalahnya itu. Hal tersebut menambah kesedihannya.
“Ira!”
Seseorang memanggil. Ira menyingkirkan bantalnya dan melihat arah datangnya suara.
“Ana? Kok, kamu bisa masuk?” tanya Ira. Ia mengusap-usap wajah agar tak terlihat seperti setelah menangis.
“Pintunya nggak terkunci, kok.” Jawab Ana.
Ira menatap pintu kamarnya. Rupanya ia lupa untuk mengunci pintu tersebut. Tapi, tetap saja, bagaimana Ana bisa masuk ke kamarnya tanpa menimbulkan suara sedikit pun?
“Ada perlu apa kemari?” tanya Ira sedikit terganggu.
“Aku tahu, mungkin kamu sedang ingin sendirian sekarang. Tapi, kalau sampai nggak makan, nanti tubuhmu bisa sakit, lho.” Ana mendekati Ira dan duduk di tepi ranjangnya. Ia menyimpan kotak makan yang Bu Nazar siapkan untuk makan siang Ira di meja dekat ranjang.
“Aku nggak lapar,” jawab Ira lirih. Ia kembali menundukkan kepala. Ana memperhatikan mimik wajah Ira yang kacau. Seperti merasa kehilangan.
“Kamu nggak cemburu, kan aku jadian sama Irfan?” tanya Ana tiba-tiba. Ira tertegun.
“Eh? Nggak kok, nggak. Bukan karena itu. Aku ikut senang atas jadiannya kalian,” jawab Ira. Ia memaksakan diri untuk tersenyum,
“Hehe, becanda kok, becanda.” Ujar Ana sambil cengar-cengir.
“Tapi, ya Ra. Menurutku, nggak usah berlarut-larut sedih hanya karena ditinggal seseorang kan?”
“Kok, kamu tahu?”
“Jadi, tebakanku benar, ya? Siapa, Ra? Mau cerita kepadaku?” tanya Ana.
Ira tak langsung menjawab. Ia berjalan mendekati meja belajarnya dan mengambil selembar kertas yang terlipat. Ia memberikan lembaran itu kepada Ana.
“Surat?” Ana membuka lembaran tersebut dan membaca isinya hingga selesai. Surat berisi ucapan selamat tinggal dari seseorang yang ditujukan pada Ira. Jadi, inikah yang belakangan ini Ira pikirkan? Pengirimnya...,
“Fami?”
“Aku bertemu dengannya saat terkurung di gudang sekolah. Ia selalu membantuku, bahkan saat aku dijauhi oleh teman-temanku sampai kasus di rumah Lara kemarin. Fami masih ada. Sampai lima hari yang lalu, aku temukan surat ini dan Fami nggak pernah muncul lagi.” Ira menangis.
Ana mendekati dan memeluknya. Ia sebenarnya tidak begitu mengerti yang dibicarakan oleh Ira. Jika Fami ini selalu bersama Ira, bahkan saat kasus perampokan di rumah Lara tempo hari, seharusnya Ana bertemu dengannya. Tapi, yang Ana tahu, hanya ia, Ira, Irfan dan Irfani yang berada di sana. Namun, jika Fami ini hanya khayalan Ira, kenapa perasaan Ira terasa begitu nyata?
“Sabar, ya Ra. Semua yang hilang pasti ada penggantinya,” hibur Ana.
-to be continued-

The Beautiful of Friendship - Chapter 26

Boss perampok dan Dedet membawa Pak Dama, Lara, dan Irfan ke sebuah ruangan dekat dapur yang digunakan sebagai gudang. Di dalam sana ada dua orang perampok bertubuh kurus, yang satu tinggi dan yang lain lebih pendek, Bu Dama –Ibu Lara-, Irfani, dan Ana.
“Irfani? Ana? Mereka tertangkap,” batin Irfan. Ia didudukkan di samping Ana. Tangan dan kakinya diikat oleh perampok bertubuh kurus tinggi. Sedangkan Dedet mengikat Lara.
Irfan memberikan isyarat pada Ana, ia ingin mengetahui apakah mereka berhasil menghubungi polisi. Ana menggelengkan kepalanya. Rupanya ia dan Irfani tertangkap lebih dulu sebelum melapor pada polisi. Sedangkan, Ana mencoba menanyakan keberadaan Ira pada Irfan dengan menggunakan bahasa bibirnya. Irfan pun menjawabnya dengan menggeleng. Artinya, Ira masih berada di lokasi yang aman sekarang dan perampok-perampok ini belum mengetahui keberadaannya.
“Hoi! Ngobrolin apa bocah?” Boss perampok mengetahui bisik-bisik yang Ana dan Irfan lakukan. Ia menodongkan pistolnya pada kepala Irfan.
“Dedet! Kau bilang ada lima anak?”
“Iya, Boss. Sepertinya anak yang terakhir masih bersembunyi di sekitar rumah ini,” jawab Dedet.
“Kalau begitu, cari! Jangan diam saja!” bentak Boss perampok.
“B, baik, Boss.” Dedet keluar ruangan untuk mencari Ira.
“Gawat, nih. Kalau dibiarin, Ira juga bisa tertangkap. Aku harus melakukan sesuatu,” batin Ana. Ia mendapatkan ide.
“Boss-nya , Boss-nya!” panggil Ana.
“Apa, Bocah? Beraninya memanggilku seperti itu,” Boss perampok menodongkan pistolnya pada kepala Ana.
“Aku ingin buang air, nih.” Jawab Ana.
“Tidak!” Boss perampok menolak.
“Udah gak tahan. Kalau gak boleh, nanti aku buang air di sini.” ujar Ana lagi. Ia menggoyang-goyangkan kakinya dan memasang mimik ‘kebelet’-nya.
“Okei, okei! Pedet, antar dia ke kamar mandi!” Boss perampok memerintahkan anak buahnya yang bertubuh kurus pendek.
“Siap, Bos.” Jawab Pedet. Ia memaksa Ana berdiri dan mendorongnya keluar dari ruangan. Ia mengatar Ana sampai pintu kamar mandi.
“Cepat!” perintah Pedet. Ia mendorong Ana memasuki kamar mandi dan menutup pintunya.
Rupanya alasan buang air hanya akal-akalan Ana untuk bisa keluar mencari Ira. Ia mencari-cari barang yang dikira cukup keras agar bisa ia gunakan untuk melawan Pedet dan ia melihat pel lantai yang menggantung di dinding kamar mandi.
“Mungkin ini bisa,” gumamnya.
BUGH!
Suara gaduh terdengar dari luar kamar mandi. Tak lama, ada seseorang yang mencoba membuka pintu kamar mandi tersebut. Orang itu mengutak atik gagang pintu. Ana kembali waspada. Ia mengambil alat pel dan bersiaga untuk memukul orang yang mencurigakan tersebut. Saat pintu terbuka....
“Ira?!” serunya. Rupanya Ira berhasil lolos dari Dedet dan juga berhasil melumpuhkan Pedet. Ana melihat Pedet telah tak sadarkan diri di belakang Ira.
“Ana. Kamu nggak apa-apa?” tanya  Ira. Ana menganggukkan kepalanya. Ira kemudian membuka ikatan pada tangan Ana.
“Dimana yang lain?”
“Mereka di kurung di gudang. Di sana ada kedua orang tua Lara juga, dan maaf Ira.”
“Kenapa?” Ira bingung, kenapa Ana meminta maaf.
“Aku dan Irfani nggak berhasil menghubungi polisi,” jawab Ana.
“Tenang! Tenang! Kita piirkan lagi cara lain,” hibur Ira. Ia memperhatikan tubuh Pedet yang tertelungkup.

The Beautiful of Friendship - Chapter 27

“Kurang ajar! Kemana pedet dan anak itu?” umpat Boss perampok. Ia memperhatikan arloji di pergelangan tangannya. Sudah sepuluh menit berlalu sejak Pedet mengantar Ana ke kamar mandi. Tak lama Ana muncul di depan pintu bersama Pedet. Namun, Pedet kini menutup kepalanya dengan sebuah topeng kain.
“Oh, sudah ke kamar mandinya bocah?” pertanyaan Boss perampok tak dijawab oleh Ana. Pedet mendudukan Ana di posisi awalnya.
Tiba-tiba terdengar suara deringan telepon rumah Lara. Boss perampok mendekati pintu gudang untuk mengamati keadaan sekitar. Kemudian ia melihat telepon rumah di meja dekat meja makan.
“Pedet! Joki! Awasi mereka!” perintahnya. Boss perampok keluar dari dalam gudang dan berjalan menuju telepon tersebut.
Pedet mundur beberapa langkah sehingga kini ia berada di belakang perampok yang bertubuh tinggi bernama Joki itu. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam pakaiannya. Sebuah gerusan coet yang terbuat dari batu. Pedet mendekati Joki dan memukulkan batu tersebut pada bahu Joki sebanyak tiga kali. Joki pun jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri.
“Kenapa kamu memukul temanmu sendiri?” tanya Pak Dama yang tak habis pikir.
Pedet  kemudian membuka topeng kainnya. Rupanya itu bukan Pedet, tapi Ira. Ia menyamar sebagai Pedet karena tubuh mereka yang hampir sama. Sehingga Boss peraampok pasti tak dapat membedakan jika wajah Ira ditutup.
“Ira...,” ucap teman-temannya hampir bersamaan. Ira memberikan tanda untuk tetap tenang.
Ia secepat mungkin melepaskan ikatan dari Pak Dama, Bu Dama, Lara, Irfani, Ana dan Irfan. Kemudian mereka mengikat Joki. Irfan mengintip ke arah telepon untuk mengamati Boss perampok.
“Boss perampok itu masih sibuk dengan telepon,” ucap Irfan.
“Kita bisa pergi lewat pintu belakang. Aku dan Ana sudah membuka kuncinya sehingga kita mudah keluar,” ujar Ira. Lara dan keluarganya tampak lega.
Mereka keluar satu persatu dari gudang tersebut. Diawali oleh Pak Dama, Bu Dama, Lara, kemudian Irfani. Sedangkan Irfan masih mengamati Boss perampok.
“Ana! Ayo! Giliranmu,” Irfan menggerakkan tangannya, mengisyaratkan Ana untuk segera keluar dari gudang.
“HEI! Berhenti kalian, bocah!” rupanya Boss perampok menyadari bahwa sanderanya telah bebas. Ia mengangkat pistolnya dan mengarahkan pada Ana yang saat itu baru saja keluar dari gudang.
“Ana, awas!”
DOR!
Tembakannya meleset. Irfan berhasil mendorong Ana sehingga terhindar dari bidikan. Boss perampok berlari mendekati gudang. Irfan membantu Ana bangun dan menariknya menuju pintu dapur.
“Irfan tunggu! Ira masih di dalam,” ujar Ana. Ia melepaskan pegangan Irfan dan kembali masuk ke dalam rumah. Irfan menyusulnya. Saat mereka tiba di pintu gudang...
Boss perampok berhasil menangkap Ira dan menjadikannya sandera.
“Ira!” seru Ana dan Irfan.
“Jangan mendekat! Atau kutembak kepala bocah ini,” ancam Boss Perampok. Ia menodongkan pistol pada kepala Ira. Sedangkan tangannya menahan tubuh Ira agar tak berontak.
Ira sangat ketakutan. Ia tak pernah berada di situasi seperti ini sebelumnya. Ana dan Irfan kesulitan menolong karena mereka dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Boss perampok itu dapat menarik pelatuk pistolnya kapan saja.
“Bagaimana ini? Apa aku akan mati? Aku belum minta maaf pada Ayah dan Bunda,” batin Ira. Ia memejamkan mata, semakin merasa ketakutan.
“Apa-apaan ini?” Boss perampok menggerutu kesakitan. Tangan yang ia gunakan untuk memegang pistol bergerak sendiri ke arahnya. Ira yang penasaran membuka mata dan melihat Fami menggerakkan tangan Boss tersebut.
“Fami?”
“Ira! Cepat pergi sekarang!” ujar Fami.
Ira mengigit lengan Boss perampok yang menahan tubuhnya. Boss perampok terkejut dan berteriak kesakitan. Ia mengangkat tangannya sehingga Ira bisa kabur. Ira berlari mendekati Ana dan Irfan.
“Ira! Cepat lari!” teriak Ana.
Sayangnya, Boss perampok berhasil menguasai tubuhnya kembali. Ia menyadari sanderanya lepas dan tanpa pikir panjang mengarahkan pistolnya pada tubuh Ira.
“Ira! Awas!” Fami berteriak.
DOR! DOR!
Cipratan darah mengotori lantai ruangan gudang. Begitu pun pistol yang terlempar dari tangan Boss perampok.
“Anak-anak! Kalian baik-baik saja?” Pak Mazie, kepala kepolisian Kendangjari berhasil melumpuhkan Boss perampok dengan menembak di tangan dan perutnya. Pak Mazie muncul di saat yang sangat tepat.
-to be continued-

1.7.16

The Beautiful of Friendship - Chapter 25

Ira, Ana, Irfan, Lara dan Irfani kembali menyusun rencana mereka. Setelah berhasil melumpuhkan empat dari tujuh orang perampok, mereka berencana membagi kelompok menjadi dua. Ana dan Irfani melapor pada polisi, sedangkan  Ira, Lara dan Irfan berusaha menyelamatkan orang tua Lara.
“Kok, kosong ya?” gumam Irfan saat mengintip ke dalam ruangan yang kata Lara kamar orang tuanya.
“Kosong gimana maksudnya?” tanya Ira.
“Nggak ada siapapun di dalam.” Jawab Irfan.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah mendek. Mereka masuk ke dalam kamar. Lara dan Irfan bersembunyi di bawah ranjang, sedangkan Ira masuk ke dalam lemari pakaian.
“Katakan! Dimana brankasnya?” bentak Boss perampok seraya menodongkan pistol ke arah Ayah Lara, Pak Dama.
“A, ada di dalam kamar,’ jawab Pak Dama.
Pak Dama dan tiga orang perampok memasuki kamar. Mereka mendekati lemari pakaian tempat Ira bersembunyi. Ira merasakan suara langkah mereka mendekat ke arahnya.
“Gawat, aku akan tertangkap.” Batin Ira.
“Kyaaa! Kecoaa!” suara teriakan Lara saat seekor kecoa lewat di depan wajahnya. Spontan ia keluar dari pesembunyian.
Boss perampok yang terkejut melepaskan tembakan ke arah Lara.
DOR!
Tembakan meleset. Rupanya Irfan berhasil menarik tubuh Lara sehingga dapat terhindar dari tembakan. Boss perampok berhenti menembak saat mengetahui ada dua anak di hadapannya.
“Lara!” panggil Pak Dama.
“Dedet! Apa anak-anak ini yang kau maksud?” tanya Bossperampok pada anak buahnya yang bertubuh besar. Orang itu adalah perampok yang tadi berhasil Irfan lumpuhkan.
“Benar, Bos. Mereka dua dari lima anak-anak itu.”
“Ikat mereka! Satukan dengan yang lain!” perintah Boss perampok.
Dedet menarik lengan Lara dan Irfan. Ia menyeret mereka keluar dari kamar orang tua Lara. Irfan berusaha melawan, tapi Dedet terlalu kuat. Ia bahkan tak segan-segan memberikan pukulan pada Irfan saat ia berontak.
- To be continued –

18.6.16

The Beautiful of Friendship - Chapter 24

Wuah!
Long time nggak posting. Berapa hari ya...
Maaf ya reader, kemarin-kemarin writer lagi freakin' in self gitu. Hehehe..
So, hari ini langsung keluar dua chapter deh sebagai permintaan maaf writer 😋😋😋
What? Gak cukup.
Kalau gitu, writer kasih kabar genbira deh. Writer minggu depan akan rilis cerbung kedua loh🙌🙌🙌
Judulnya...
Ups, hampir aja keceplosan.
Ditunggu ya judulnya😅😅😅
So this is it.

THE BEAUTIFUL OF FRIENDSHIP - CHAPTER 24

PRANG! PRANG! PRANG!
Berkali-kali terdengar suara piring dan gelas pecah. Suara-suara tersebut berasl dari kamar Lara. Karena kegaduhan tersebut, Boss perampok memerintahkan salah satu anak buahnya untuk mengecek keadaan di kamar Lara.
“Hei! Diam!” teriak perampok itu saat telah membuka pintu kamar Lara. Tiba-tiba, dua pukulan mendarat di kepala belakang perampok tersebut. Seketika saja perampok tersebut jatuh pingsan.
“Yee, berhasil. Irfan, mana talinya? Kita ikat perampok ini!” ujar Ana yang keluar dari belakang pintu.
Setelah selesai mengikat perampok yang berhasil mereka lumpuhkan, mereka berlima keluar dari kamar Lara dengan hati-hati. Mereka berencana untuk membebaskan orang tua Lara.
“Dimana kamar ayah dan ibumu?” tanya Ira.
“Di sana,” jawab Lara, ia menunjuk sebuah ruangan di balik meja makan dengan pintunya sedikit terbuka. Tiba-tiba muncul dua orang perampok yang sedang mengumpulkan barang-barang. Mereka berlima segera bersembunyi di belakang sofa dan balik dinding.
Kedua perampok berjalan mendekati tempat dinding tempat persembunyian Ana dan Lara. Mereka masih asyik mengumpulkan barang-barang yang dipikirnya berharga. Saat waktunya tepat, Ana dan Lara membegal kaki kedua perampok tersebut hingga mereka jatuh tersungkur. Kesempatan ini dimanfaatkan Ira dan Irfani. Mereka memukul belakang kepala kedua perampok hingga pingsan.
“Hei, bocah! Sedang apa kalian?” seorang perampok bertubuh besar telah berdiri di belakang mereka. Ia  mengangkat tangannya dan menampar Ana hingga terlempar.
“Ana!” Ira mendekati Ana untuk memeriksa keadaannya. Untunglah Ana masih sadar.
“Selanjutnya...,”
BUGH!
Perrampok itu tiba-tiba terjatuh. Irfan muncul dari belakangnya. Rupanya ia memukul bahu perampok tersebut.
“Kalian nggak apa-apa? Ana, kamu nggak apa-apa?” tanya Irfan. Ana, Ira, Lara dan Irfani mengangguk perlahan. Mereka mengikat ketiga perampok-perampok yang berhasil mereka lumpuhkan. 

- To be continued –

17.6.16

The Beautiful of Friendship - Chapter 23

"Kyaaaaa...! Tolong! Lepasin! Lepasin...," teriakan berasal dari dalam rumah.
"Itu suara Lara," ujar Irfan.
"Lara dalam bahaya. Kita harus menolongnya!" seru Ira. Ia menatap Fami dan memberi kode untuk masuk ke dalam rumah.
"Aku pikir suaranya berasal dari kamar Lara," ucap Irfani. Ia berlari kecil menuju sebuah jendela yang letaknya di samping rumah.
"Kyaaa..! Lepasin aku! Lepasin!" terdengar lagi teriakan Lara.
"Diam bocah!" bentak seseorang.
Suara teriakan Ira berganti dengan rintihan dan isak tangis yang tak henti-hentinya. Sepertinya perampok tersebut mengikat lengan dan kaki Lara serta menutup mulutnya menggunakan plester.
"Ayo, kita ke lokasi Si Boss!" suara yang berbeda dari yang membentak di awal. Kemudian terdengar suara pintu tertutup.
Tiba-tiba Fami melayang keluar dari jendela.
"Ira! Perampok itu sudah keluar dari kamar Lara," ucapnya. Ira mengangguk.
"Perampoknya sudah keluar dari kamar Lara," ucap Ira mengulangi kata-kata Fami.
"Ha? Beneran? Darimana kamu tahu?" tanya Irfani.
"Coba kulihat," Ana mengintip ke dalam ruangan. Rupanya apa yang Ira katakan benar. Ia mengetuk-ngetuk jendela. Lara yang mendengarnya segera mencari sumber suara dan mendapati teman-temannya di balik jendela. Ia berusaha bangun dan mendekati jendela. Lara membuka jendela kamarnya. Perlahan-lahan mereka memasuki kamar Lara melalui jendela.
"Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Irfan saat melepaskan ikatan dari tangan, kaki, dan plester di mulut Lara.
"Iya. Tapi Ayah dan Mama di sekap di kamarnya oleh orang-orang itu," jawab Lara. Ia menyeka air matanya.
"Ada berapa orang, La?" tanya Irfani.
"Aku cuma lihat 4 orang."
"Kita harus menolong mereka!" ajak Ira.
"Tapi, kan bahaya Ra." ucap Irfani.
"Kalau mereka bawa senjata gimana?" tambah Irfan.
"Tapi kalau ada apa-apa sama Ayah dan Ibu Lara gimana?" balas Ira.
"Tenang semuanya! Aku ada ide..."

16.6.16

The Beautiful of Friendship - Chapter 22

Saat tiba di rumah Ana, Ira langsung menceritakan apa yang didengarnya.
"Perampokan di rumah Lara?" tanya Ana.
"Iya, siang nanti. Gimana, dong? Kita lapor polisi?" ujar Ira.
"Jangan! Jangan! Masih belum pasti dia beraksinya siang hari ini atau hari yang lain."
"Terus kita mesti gimana?"
"Kalau kita periksa rumahnya saja, gimana? Kamu tahu rumahnya?"
Ira menggeleng.
"Tapi, mungkin Irfani tau."
Ira segera menelepon Irfani. Ia menjelaskan dengan singkat mengapa mereka ingin berkunjung ke rumah Lara. Irfani setuju. Ia dan Irfan akan menunggu Ira dan Ana di pertigaan tempat mereka berpisah saat pulang sekolah bersama kemarin.
Ira dan Ana menuju pertigaan secepat mungkin. Di sana sudah ada Irfani dan Irfan membawa dua sepeda.
"Pakai ini! Biar cepat," ujar Irfan. Akhirnya mereka menuju rumah Lara dengan mengendarai sepeda.
"Rumah Lara berapa jauh lagi?" tanya Ira pada Irfani saat di perjalanan.
"Lima belas menit lagi kira-kira," jawab Irfani.
Ira khawatir kalau perampok-perampok itu beraksi hari ini. Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul dua belas lebih.
------
Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di depan rumah Lara. Irfan dan Irfani menyimpan sepedanya di depan pintu pagar. Mereka mengintip-intip dari pintu pagar yang tinggi itu. Saat Irfan mendorong pintu gerbangnya, rupanya tidak terkunci.
"Pintunya terbuka. Ayo, ayo masuk!" ujar Irfan perlahan-lahan.
Mereka memasuki halaman rumah Lara. Terlihat sepi dan tenang. Mungkinkah perampok itu tidak beraksi hari ini?
"Kyaaaaa...! Tolong! Lepasin! Lepasin...," teriakan berasal dari dalam rumah.
"Itu suara Lara."

15.6.16

The Beautiful of Friendship - Chapter 21

Saat pulang sekolah bersama Irfan dan Irfani, Ira melihat Ana berjalan sendirian di hadapan mereka. Langkahnya agak terseok-seok. Kakinya yang terkilir belum sembuh benar rupanya.
"Ana!" panggil Ira. Ira berlari menghampiri Ana. Irfan dan Irfani mengikuti dari belakang.
Ana merasa seseorang memanggil namanya. Ia berbalik dan mendapati Ira sedang mendekat.
"Hai, Ira, Irfani, Irfan," sapanya.
"Kamu mau pulang, ya? Kita antar, ya." Ira menawarkan diri.
"Eh, gak usah. Aku bisa sendiri, kok."
"Slow aja. Lagian kita bertiga juga searah jalan pulangnya," tambah Irfan.
"Oh. Oke deh," jawab Ana.
Mereka berjalan berempat. Ira membantu Ana berjalan dengan menempatkan lengan Ana pada bahunya.
"Kenapa nggak minta di jemput saja, Na?" tanya Ira.
"Orang tuaku sedang bekerja di luar kota."
"Kalau Ibu?" tanya Irfani.
"Iya, Ibu yang di luar kota."
"Jadi, kamu bersama Ayah-mu?" tanya Irfan.
"Ayahku udah nggak ada, Fan."
"Eh, maaf Ana."
"Nggak apa-apa, kok. Kan, kalian juga nggak tau." jawab Ana sambil tersenyum.
Sesampainya mereka di sebuah pertigaan, Irfan dan Irfani berbelok ke kiri sedangkan Ana dan Ira berbelok ke kanan. Kemudian saat tiba di sebuab perempatan, Ana meminta berhenti.
"Sampai sini aja, Ra. Aku berbelok kemari. Rumah Ira lurus aja, kan?" ucapnya.
"Tapi, kakimu gimana?"
"Nggak apa-apa, kok. Lagian nggak jauh. Tuh, rumahku yang cat warna kuning." Ana mencoba menenangkan Ira.
"Beneran?"
"Iya. Thanks ya Ira."
------------
Minggu pagi, Ira bermaksud berkunjung ke rumah Ana. Dua hari belakangan ini ia tak bertemu dengannya. Ira khawatir kakinya yang terkilir bertambah parah. Ia berangkat dengan berjalan kaki, menuju jalan yang pernah ditunjukkan Ana.
Namun, saat hendak melewati warung makan yang tutup, Ira melihat segerombolan orang menggunakan pakaian hitam-hitam dengan tutup kepala di samping warung tersebut.
"Kita akan memulai aksi kita siang nanti, saat semua orang sedang beristirahat, kita akan menuju rumah Pak Dama, dan kita ambil semua barang-barang berharga di sana!" ucap seseorang yang memiliki tubuh tinggi besar dan berpakaian lebih rapi.
"Siap, Boss!" jawab mereka. Rupanya orang tersebut adalah pemimpin mereka.
Ira tidak menyangka, ia mendengar sebuah rencana perampokan.
"Pak Dama itu, kalau nggak salah nama Ayahnya Lara, kan?"

- to be continued -

14.6.16

The Beautiful of Friendship - Chapter 20

Esok hari setelah fieldtrip selesai, kelompok tiga: Ira, Irfan, Irfani, Deno dan Lara di minta ke kantor untuk memberikan keterangan terkait kejadian di fieldtrip kemarin. Begitu pula Ana, Charlie Angel, dan kedua temannya. Bu Osa memanggil orang tua Lara. Bersama kepala sekolah dan Lara,  mereka berlima membicarakan banyak hal. Termasuk hukuman untuk Lara. Beberapa menit kemudian, Lara dan orang tuanya keluar dari ruangan. Mereka menghampiri Ira.
"Aku... minta maaf. Maaf Ira! Aku sangat iri karena kamu bisa sangat akrab dengan teman-teman di kelas. Maaf untuk segalanya!" ucapnya. Ia menundukkan kepala amat dalam.
Ira merasa tak enak melihat Lara seperti itu. Tapi, ia juga tak bisa berbohong kalau ia tidak merasa sakit hati.
Ira menengok ke arah Irfani. Irfani pun menunduk, merasa bersalah. Ira menengok ke arah Irfan. Irfan justru mengganggukkan kepala, meminta Ira memaafkan Lara. Ira menengok ke arah Ana. Ana tersenyum dan juga menganggukkan kepala.
"Iya. Aku maafin, kok. Kita berteman ya sekarang!" jawab Ira.
Lara menangis dan memeluk Ira.
"Terimakasih, Ira."
------
Ira dan teman-temannya kembali ke kelas setelah memberikan keterangan di kantor guru. Ia teringat ucapan Lara yang mengajaknya bermain bersama-sama dua munggu lagi.
"Jadi, Lara di skors dari sekolah selama dua minggu ya? Lama juga, ya?" ujar Irfan.
"Iya. Aku kasihan sebenarnya," jawab Ira. Ia melihat Irfani sibuk menulis.
"Nulis apaan, Ni?"
"Eh, anu lho. Karena Lara nggak akan sekolah selama dua minggu, aku takut dia ketinggalan pelajaran, jadi...," Irfani malu-malu.
"Kamu membuat catatan untuk Lara?" tanya Irfan.
"I, iya. Lara, kan masih teman kita juga," jawab Irfani. Irfan mendekati Irfani dan menepuk-nepuk kepalanya.
"Good job!" pujinya seraya tersenyum. Irfani merasa senang mendapat pujian tersebut.

- to be continued -

13.6.16

The Beautiful of Friendship - Chapter 19

Ira mencari Ana sejak tiba di villa tempat mereka bermalam. Ia ingin berkenalan dan mengucapkan terimakasih padanya karena telah menolong. Setelah bertanya-tanya kepada siswa kelas lain, ia mendapat informasi bahwa Ana ada di kelas 1F. Ira segera menuju ruangan tempat anak perempuan kelas 1F beristirahat.
"Ira! Ira! Di sini," Fami menunjuk-nunjuk pintu ruangan. Ira menggangguk dan berjalan cepat mendekatinya.
"Permisi." Ira membuka pintu ruangan. Ia melihat Ana sedang membaca buku, kakinya diperban. Tapi, ia tak menyadari Ira memasuki ruangan.
"Ana?" Ira memanggil.
Ana mendongakkan kepalanya. Ia sedikit mengernyitkan dahi.
"Siapa, ya?" tanyanya.
Ira menghentikan langkahnya. Ia mulai tak mengerti, kenapa Ana tiba-tiba tak mengenalinya. Otaknya mulai berpikir. Jangan-jangan saat Ana menolongnya tadi, bukan hanya kakinya yang cedera, tapi juga kepalanya terbentur sehingga sekarang Ana gegar otak dan hilang ingatan.
"Ana! Kepala kamu gak apa-apa, kan? Sebelah mana yang sakit?" Ira panik. Ia mengguncang-guncang pundak Ana karena khawatir.
Ana memperhatikan Ira sebentar, kemudian tertawa.
"Hehehehe...! Ira lucu, ya orangnya?" ucapnya.
"Kamu tahu nama aku?"
Ana mengangguk sambil tersenyum.
"Syukurlah. Aku pikir kamu gegar otak. Eh, tapi... Jadi tadi kamu godain aku?" ujar Ira.
"Haha... Maaf! Maaf!" jawab Ana.
"Hmm, benar ya kata Charlie. Kamu suka ngerjain orang."
Ana hanya tersenyum.
"Tapi, aku mau ucapin terimakasih karena sudah menolongku. Kalau kamu nggak menangkap tanganku, mungkin aku udah nggak ada. Terimakasih, ya."
"Sama-sama. Jangan diulangi, ya!"
"Eh, siapa lagi yang ingin jatuh ke jurang lagi? Tapi, ngomong-ngomong, kok aku nggak pernah melihatmu sebelumnya, ya?"
"Aku siswa pindahan. Dari SMP N Lasanwa," jawab Ana seraya senyum-senyum.
"Lasanwa...," gumam Fami.
"Kenapa?" tanya Ira pada Fami, agak berbisik. Fami menjawab dengan menggelengkan kepala.
"Kenapa, apanya Ra?" tanya Ana. Rupanya ia memperhatikan.
"Nggak, kok. Nggak apa-apa."

- to be continued -

12.6.16

The Beautiful of Friendship - Chapter 18

"IRAA..!"
Tubuh Ira bergantungan. Saat ia mendongakkan kepalanya, seorang anak perempuan berhasil menangkap pergelangan tangannya.
"Bertahanlah!" ujar anak perempuan itu.
Tiba-tiba kaki anak perempuan itu terpeleset seperti halnya Ira. Maka ia pun tergelincir ke dalam jurang bersama Ira. Dengan cekatan anak perempuan itu menggapai ranting yang ada di dinding jurang dengan tangannya, sedangkan tangan yang lain tetap menggenggam pergelangan tangan Ira.
"Kamu...gak apa-apa, kan?" tanya anak perempuan itu dengan wajah yang menahan sakit.
"Iya," jawab Ira.
Di bibir jurang sudah berkumpul guru-guru dan petugas cagar alam. Siswa-siswi yang ingin melihat dijauhkan dari lokasi tersebut. Ira mendongakkan kepalanya. Ia melihat Pak Zulka menurunkan tali ke arah mereka.
"Ira! Cepat berpindah pada tali itu! Kami akan menarikmu ke atas!" ucap Pak Zulka.
Ira mengambil tali tersebut dan berpindah tempat. Ia memanjat hingga tiba di bibir jurang dengan selamat. Pak Zulka kembali menurunkan tali tersebut untuk menolong anak perempuan yang menolong Ira.
"Ana, cepat naik!" teriak Pak Zulka. Tapi anak perempuan bernama Ana itu tidak bisa memanjat sama sekali.
"Ana, ada apa?"
"Kakiku sakit sekali," jawab Ana.
"Baiklah. Akan Bapak tarik talinya. Berpegangan yang erat, ya!"
Dibantu beberapa orang guru dan petugas cagar alam, Ana akhirnya berhasil mencapai bibir jurang dengan selamat. Mereka membawa Ira dan Ana menjauhi wilayah bahaya tersebut menuju pos dimana teman-teman kelompok mereka menantinya.
Tiba-tiba ada dua orang berlari mendekati Ana. Mereka adalah Charlie dan Angel, teman sekelompoknya.
"Ana, kamu nggak apa-apa?" tanya Angel.
"Iya. Gak apa-apa, kok." Ana menjawab seraya tersenyum-senyum menahan sakit.
"Jangan senyum-senyum! Lagi kesakitan juga," balas Charlie. Ia dan Angel menuntun Ana dan membawanya menuju pos.
Ira memperhatikan percakapan mereka bertiga, terutama Ana. Ia ingin menghampiri dan mengucapkan terimakasih pada Ana karena telah menyelamatkannya. Tiba-tiba Irfani berlari, memeluk Ira.
"Ira, kamu nggak apa-apa kan?"
"Iya. Aku nggak apa-apa," Ira tertegun mendapati Irfani yang memeluknya. Ia melihat Lara menatap mereka dengan sebal.
"Irfani. Lara gimana?" tanya Ira saat melepas tangan Irfani.
"Lara jahat, Ra. Dia yang membuatmu jatuh," jawab Irfani.
"Tapi, aku kan jatuh karena terpeleset."
"Bukan. Seharusnya tanah di sana nggak licin. Tapi Lara sengaja membasahi dengan air. Aku nggak bisa mencegahnya, sampai kamu masuk ke dalam jurang. Maaf Ira...!" Irfani menangis dan kembali memeluk Ira.
Pengakuan Irfani terdengar oleh seluruh guru dan siswa-siswi lainnya. Mereka langsung menatap Lara.
"Bohong! Irfani, bohong. Irfani, kamu jangan menuduh sembarangan!" teriak Lara mencoba membela dirinya.
Bu Osa menghampiri Lara.
"Lara! Ayo ikut dengan Ibu! Kita bicarakan ini!"

- to be continued -

11.6.16

The Beautiful of Friendship - CHARACTER

Yuhuu.. My reader.. Ketemu lagi sama writer di sini. Yups! Di The Atri's.
Apaan sih ya?? Hahaha.
Ah, udahan gajenya.
Nah, sekarang writer mau nepatin janji buat perkenalan tokoh-tokoh di THE BEAUTIFUL OF FRIENDSHIP.
Pasti udah gak sabar ya?
Langsung aja deh ya.


1. Fathah Alfirana Nur Ramadhani
Panggilan : Ira
Umur : 13 tahun
Golongan darah : AB
Siswi baru di SMP N 1 Kendangjari yang masuk di awal semester genap. Gak suka cari masalah, tapi over thinking terhadap banyak hal. Ira juga menyukai hal-hal baru berbau ilmu pengetahuan.

2. Satya Fahremi
Panggilan : Fami
Umur : 13 tahun
Golongan darah : O
Sampai chapter 17, latar belakang Fami masih misteri. Tubuhnya tidak bisa disentuh. Ia juga bisa melayang dan menggunakan suatu kemampuan untuk mengendalikan sesuatu cukup dengan menunjuk benda yang diinginkannya. Ia selalu mengikuti Ira kemanapun, banyak bicara dan senang berkelakar.

3. Irfani Setiani
Panggilan : Irfani
Umur : 13 tahun
Golongan darah : B
Saudara kembar tak identik Irfan. Sifatnya agak manja dan mudah dipengaruhi. Ia rajin dan rapi dalam membuat catatan pelajaran.

4. Lirik Damalalararani
Panggilan : Lara
Umur : 12 tahun
Golongan darah : O
Sifat mendominasi adalah ciri khasnya. Lara berbakat dalam mempengaruhi orang lain. Terkadang ia ingin diperhatikan, sehingga ia mencari perhatian dengan melakukan hal-hal kurang baik.

5. Irfan Setiawan
Panggilan : Irfan
Umur : 13 tahun
Golongan darah : A
Saudara kembar tak identik Irfani. Ia begitu menyayangi adiknya. Sampai-sampai dipikirannya hanya ada Irfani. Hobinya membaca buku.

6. Eka Firana Aurora
Panggilan : Ana
Umur : 13 tahun
Golongan darah : A
Sampai chapter 17, Ana memang belum muncul. Ia anak yang banyak taktik dan jarang mengeluh. Ia juga murid pindahan ke SMP N 1 Kendangjari.

8.6.16

The Beautiful of Friendship - Chapter 17

"Lara! Irfani! Ini punya kalian. Irfan dan Deno, yang ini." Ira membagi-bagikan rangkuman pada teman kelompoknya. Irfan dan Deno merasa tak enak dan sangat berterimakasih. Sedangkan Lara dan Irfani menatapnya dengan sebal. Mereka merasa hal tersebut sama sekali tak mengganggu Ira. Kemudian, Ira mengambil kotak makanan miliknya.
"Aku udah boleh makan, ya." ujarnya. Ia duduk di samping Deno.
"Ira! Enak, ya?." Fami muncul dengan wajah memelas. Tapi Ira hanya dapat menjawabnya dengan tersenyum, karena ia sedang bersama teman-temannya.
-------
Setelah mengumpulkan tugas rangkuman, Bu Osa mengumumkan waktu istirahat selama 30 menit. Siswa-siswi diperbolehkan istirahat dimana pun asalkan tidak mendekati wilayah bahaya dan tidak terlalu jauh dari pos. Selain itu, mereka juga harus memperhatikan teman-teman sekelompoknya.
Ira menggunakan waktu ini untuk melihat-lihat tanaman di sekitar pos. Banyak tanaman yang namanya baru ia ketahui saat fieldtrip tadi. Baru beberapa menit ia melihat tanaman, Deno memanggil untuk berpindah tempat.
Ira merasa kelompoknya telah melewati palang tanda bahaya. Ia mencoba untuk menegur teman-temannya.
"Anu, teman-teman! Kayaknya kita mesti balik lagi, deh. Kita kan udah melewati palang bahaya," ujarnya.
Irfan dan Deno menghentikan langkah mereka.
"Oh, benarkah? Wah, aku nggak lihat. Keasyikan ngobrol sama Deno, nih." ucap Irfan.
"Yuk, kita balik aja!" tambah Deno.
Tapi, Lara dan Irfani tetap berjalan. Mereka semakin jauh meninggalkan Irfan, Deno, dan Ira. Ira melihat mereka berlari menuju bibir jurang.
"Hei! Jangan kesana!" teriak Ira. Ia berlari menuju Lara dan Irfani. Irfan dan Deno mengikuti di belakangnya.
"Memangnya kenapa?" tanya Irfani, ketus. Saat Ira berada di hadapannya.
"Bu Osa, kan sudah memperingatkan: Jangan mendekati wilayah bahaya!" jawab Ira.
"Ah, peduli amat sama Bu Osa. Dia itu cuma orang dewasa yang bisanya ngatur-ngatur doang," balas Lara.
"Tapi, La...."
"Udah, ah! Gak usah sok tahu!" Lara memotong seraya mendorong tubuh Ira. Ira mencoba menyeimbangkan tubuhnya yang hampir terjatuh. Tapi pijakannya tergelincir. Tubuhnya terjatuh ke arah jurang.
"IRAAAA...!!!"

- to be continued -

7.6.16

The Beautiful of Friendship - Chapter 16

Tes tes ... Hmm..
Sebelum masuk ke chapter 16, writer maua ngasih kabar nih reader. Kabar baik, kok. Tenang! Tenang!
Jadi, rencananya writer akan memperkenalkan tokoh-tokoh di The Beautiful of Friendship kepada reader semua. Cuma, masih tahap persiapan ni. Jadi, yang sabar ya.
Gak kerasa udah chapter 16 aja 😣😣😣
So cekidot deh -->>

The Beautiful of Friendship - Chapter 16

Dua minggu kemudian, siswa-siswi SMP N 1 Kendangjari menuju Cagar Alam Pyakumbuh untuk melakukan fieldtrip. Siswa-siswi dipandu oleh tour guide yang juga memperkenalkan macam-macam tumbuhan yang hidup di cagar alam. Beberapa lokasi cagar alam amat rawan, karena terdapat lembah-lembah yang dalam.
"Oke, adik-adik! Sekarang kita kembali ke pos untuk beristirahat. Silahkan Bu Osa!" tour guide yang memandu kelas Ira menghentikan penjelasannya. Ia mempersilahkan Bu Osa untuk memandu siswa-siswinya kembali ke pos jaga.
"Terimakasih Pak Ebi atas panduannya. Ayo semuanya, kita kembali ke pos jaga untuk makan siang!"
"Yeee!" siswa-siswi berseru kegirangan.
"Sssttt! Tapi, setelah makan siang, kalian sharing catatan dengan teman kelompok masing-masing. Trus dikumpulkan kepada ketua kelas. Mengerti?"
"Iya, Bu."
Siswa-siswi Bu Osa mulai berjalan menuju pos jaga. Di sana sudah ada kelas lain yang juga sedang beristirahat. Mereka mengantri untuk mengambil boks makan siang.
"Kita makan di sana, yuk!" ajak Irfan pada teman-teman kelompoknya: Ira, Lara, Irfani, dan Deno. Ia menunjuk tempat teduh di bawah pohon yang cukup besar.
Saat sampai di bawah pohon, Ira langsung mengambil posisi duduk yang ia pikir paling nyaman.
"Enak, nih. Fam, sini makan!" ucapnya agak pelan. Fami mengikuti Ira dan duduk di sampingnya.
Tiba-tiba Lara dan Irfani telah berdiri di hadapan Ira.
"Nih!" Lara melemparkan lembaran kertas HVS yang digunakan mencatat saat berkeliling cagar alam tadi.
"Lho, kok, dikasih ke aku semua?" tanya Ira polos.
"Iyalah. Kamu salin semua itu! Sekaligus buat rangkuman untuk kami berempat!" perintah Lara seenaknya.
"Kok, aku semua yang ngerjain?" protes Ira.
"Berani proter kamu, ya?"
Lara mengambil kotak makanan Ira dengan paksa. Meski pun Ira melawan balik, tapi tarikan Lara lebih kuat, sehingga ia tak mendapatkan kotak makannya kembali.
"Kerjain dulu semuanya, baru boleh makan," ujar Lara. Ia meninggalkan Ira menuju pohon rindang yang lain. Ia memaksa Deno dan Irfan untuk menjauhi Ira. Irfan yang protes menjadi tak berkutik ketika Lara membawa-bawa adiknya, Irfani. Ia hanya bisa menatap kasihan pada Ira.
"Tuh orang makin lama, makin nyebelin, ya?" gumam Fami.
"Sudahlah, Fam. Biarin aja!" balas Ira. Ia mulai menyalin tulisan-tulisan teman sekelompoknya.
"Kamu mau ngerjain semuanya?"
"Mau gimana lagi? Kalau nggak aku kerjain, aku nggak dapat makan siang."
"Benar-benar orang itu. Sampai mengambil makan siangmu, Ra. Kok, aku yang kesal sih," gerutu Fahmi. Ia menahan tinju tangannya. Tapi, Ira hanya menanggapinya dengan tersenyum.
"Kamu harus balas mereka, Ra!"
Ira menggeleng kepalanya.
"Ya udah kalau nggak mau. Biar aku yang balas." Fami melayang mendekati Lara.
"Fami, jangan!" teriak Ira, mencoba mencegah. Teman-teman sekitar menatap ke arahnya. Ira membalasnya dengan tertawa-tawa dan kembali ke posisi awalnya.
Meskipun Fami tidah bisa menyentuh manusia secara langsung, ia bisa menggunakan kemampuan yang dimiliki seperti saat membantu Ira keluat dari gudang. Fami menunjuk ranting kecil tepat di atas kepala Lara. Ranting tersebut tiba-tiba patah dan jatuh tepat di kepala Lara.
"Aduh!" seru Lara. Ia mengusap-usap kepala dengan tangan penuh saus.
"Aaaahh, jadi kotor kan!" gerutunya.
Irfa , Deno dan Irfani menertawakan Lara yang rambutnya penuh dengan saus.
"Diam! Jangan ketawa!" teriak Lara.
Fami melayang kembali mendekati Ira yang tertawa geli melihat reaksi Lara.
"Gimana? Gimana?" tanya Fami.
"Kamu tuh, usil banget."
"Tapi seneng, kan? Rasain, tuh! Hihihi."
"Udah, ah! Lebih baik bantu aku salinkan catatan ini ke kertas yang lain," pinta Ira.
"Ok!"
Fami menunjuk kertas-kertas HVS di tangan Ira. Seketika, seluruh kertas sudah berisi tulisan sesuai yang Ira inginkan.
"Ih, keren. Terimakasih ya, Fam. Akhirnya aku bisa makan," ucap Ira.
"Ah, biasa aja." Fami malu-malu salting. Tapi Ira telah berlari mendekati Lara dan lainnya.
"Yaaahhh, di tinggal...," ujar Fami saat sadar dirinya sudah sendirian. Ia melayang menyusul Ira.

6.6.16

The Beautiful of Friendship - Chapter 15

Esok harinya, Ira berangkat sekolah seperti biasa. Namun, ia melihat keramaian dekat papan pengumuman sekolah. Karena penasaran, Ira mendekati mereka untuk melihat pengumuman yang begitu perhatian siswa-siswi sekolahnya.
"Hoo... Field trip," gumam Ira ketika membaca judul di atas kertas yang tertulis besar-besar.
Tiba-tiba terdengar bel sekolah. Seluruh anak-anak yang ikut berkerumun membubarkan diri dan berlari menuju kelas masing-masing. Begitu pun Ira. Ia memasuki kelas dan langsung menuju bangkunya. Semenit kemudian Bu Osa datang. Beliau menyimpan tas kerja di mejanya.
"Kalian pasti sudah lihat pengumumannya, bahwa minggu depan sekolah kita akan mengadakan field trip. Ibu harap, seluruh kelas bisa mengikuti kegiatan ini." Bu Osa memberikan pengumuman.
"YEEE!!!" seluruh kelas bersorak menyambut liburan mereka.
"Ssssttt, dengarkan dulu!" Bu Osa menenangkan.
"Nah, karena itulah, hari ini akan Ibu bagikan kelompok. Selama field trip nanti kalian harus bersama-sama dengan kelompok kalian. Mengerti?"
"Mengerti, Bu."
"Ibu mulai, ya." Bu Osa duduk di mejanya. Ia membuka absensi kelas dan buku catatan.
"Kelompok pertama: Nina, Lala, Mimi, Pepen dan Nana. Kelompok kedua: Saras, Budi, Aat, Fali, dan Segi. Kelompok ketiga: Lara, Irfani, Deno, Irfan, dan Ira. Selanjutnya...,"
Ira terkejut mendengar namanya, ditambah ia sekelompok dengan orang yang sepertinya tidak ingin sekelompok dengannya. Ia melirik ke arah Lara dan Irfani. Wajah mereka sudah terhias dengan senyum mengerikan. Sepertinya Lara memiliki rencana untuknya saat field trip nanti.
"Beruntung banget nasibmu, Ra." Ledek Fahmi. Ia cekikikan sambil memegangi perutnya.
"Gimana, nih?" gerutu Ira.
"Tenang-tenang! Aku akan bantu kamu. Ok?"

5.6.16

The Beautiful of Friendship - Chapter 14

Esok harinya, Ira datang ke Taman Bermain Kendangjari lebih awal beberapa menit dari waktu pertemuannya dengan Irfan. Ia menunggu di bangku dekat pintu gerbang taman bermain bersama Fahmi yang sejak berangkat tadi terus mengikutinya.
Satu menit lewat dari waktu pertemuan, Ira melihat Irfan berjalan mendekatinya. Ia memperhatikan sekeliling Irfan, takut ada Irfani dan Lara yang mengikuti. Tapi, pengunjung taman bermain sedang padat-padatnya, sehingga Ira tak yakin kalau ia tak melihat Irfani dan Lara.
"Fahmi! Coba kamu cek! Irfan datang ke sini ada yang ngikutin nggak?" ujar Ira agak berbisik.
"Siap, deh!" Fahmi melayang menuju Irfan dan mulai mondar-mandir mengecek berbagai tempat yang dicurigai sebagai lokasi persembunyian. Kemudian ia melayang kembali mendekati Ira untuk melaporkan hasil penyelidikannya.
"Aman," ucap Fahmi seraya menaikkan kedua jempol tangannya. Ira hanya mengangguk menanggapi laporan Fahmi, sebab Irfan sudah hampir sampai.
"Ng... Pagi Ira," sapa Irfan dengan gugup.
"Pagi," balas Ira seraya tersenyum.
"Ng... Masuk sekarang?"
Ira menjawab pertanyaan Irfan dengan anggukan. Kemudian mereka memasuki taman bermain bersama-sama. Beberapa saat berjalan kaki, Ira hanya mengikuti Irfan yang masih terdiam.
"Kok, dia diam aja sih?" Fahmi berbisik pada Ira.
Ira hanya menjawabnya dengan tersenyum seraya mengangkat bahunya.Tiba-tiba Irfan berhenti. Ia memutar tubuhnya menghadap Ira.
"Kita ngobrol di rumah makan saja, yuk!" ajaknya.
"Boleh," jawab Ira. Ia dan Irfan berjalan menuju rumah makan yang ditunjuk Irfan.
Sampai pesanan datang, Irfan masih terdiam dan belum bicara apa pun lagi. Hal ini membuat Ira jadi kesal, ia memutuskan untuk membuka obrolan mereka.
"Kamu datang sendiri, kan?"
Pertanyaan Ira membuat Irfan terkejut. Ia berpikir, tentunya Ira tak lagi sepenuhnya percaya dengannya karena kejadian di belakang sekolah kemarin.
"I, iya. Sendiri," suara Irfan terbata-bata.
"Anu, Ira... Aku minta maaf," Irfan menundukkan wajahnya dan posisi tangan memohon di atas kepala.
"Aku sama sekali nggak bermaksud untuk mencelakakanmu. Lara mengancamku kalau ia akan menyakiti Irfani jika aku tak mau mengikuti perintahnya. Jadi, aku terpaksa...," Irfan mengangkat kepalanya sedikit, mengintip wajah Ira.
"Mau kan, kamu maafin aku, Ra?" tanyanya.
"Iya. Aku ngerti, kok Fan. Sudah, sudah! Angkat kepalanya!" jawab Ira.
Irfan mengangkat kepala dan menurunkan kedua tangannya.
"Thank you, Ira."
Tiba-tiba Fahmi muncul di belakang Irfan.
"Ira! Ada Irfani dan Lara memasuki taman bermain. Sepertinya mereka menuju ke sini," ujarnya.
Ira mengernyitkan dahinya. Bukankah tadi Irfan datang sendirian? Bahkan Fahmi sudah memeriksanya.
"Irfan, kita pindah yuk ngobrolnya!"
"Loh, kenapa?"
"Nggak apa-apa. Ayo!" Ira menarik lengan Irfan keluar rumah makan lewat pintu samping. Ia melihat sekitarnya takut Lara dan Irfani melihat mereka. Tapi sepertinya mereka belum sampai ke rumah makan. Ira menarik Irfan berlari menjauhi rumah makan.
"Ira! Kita mau kemana?" ujar Irfan. Tiba-tiba kakinya tersandung kaki bangku di samping pagar komedi putar. Irfan terjatuh.
"Ah, maaf Irfan! Dimana yang sakit?" tanya Ira. Ia berjongkok membantu Irfan berdiri dan membuatnya duduk di bangku.
"Nggak apa-apa, kok. Tapi, kenapa kamu buru-buru gitu keluar rumah makan?" Irfan balik bertanya. Tangannya mengusap-usap lutut kanan kakinya. Ira yakin kalau tadi Irfan terjatuh cukup keras dan luka Irfan harus segera di kompres.
"Irfan. Aku beli minuman dingin sebentar, ya. Kamu tunggu di sini!" Ira langsung berlari mencari mesin minuman dingin. Ia meninggalkan Irfan yang berusaha mencegahnya.
"Ira, kok gak jawab pertanyaanku, sih?" gumam Irfan.
"Ya iyalah. Dia tau adik lu datang," Fahmi menggerutu. Meskipun ia tahu Irfan tak bisa mendengar suaranya.
"Irfaaann!" suara seseorang dari jauh. Bukan suara Ira. Irfan menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut.
"Irfani?"
"Nah, lho! Ketauan!" seru Fahmi.
Irfani bersama Lara, mereka setengah berlari mendekati Irfan.
"Kok, kamu ke taman bermain gak ngajak aku, sih?" gerutu Irfani saat tiba di samping Irfan.
"Kamu lagi nunggu siapa, Fan?" tanya Lara.
"Aku sendirian, kok. Pengen jalan-jalan sendiri aja. Kalian kok bisa tahu aku di sini?" jawab Irfan.
"Aku lihat tiket kamu kemarin. Jahat banget, sih gak ngajakin aku," jawab Irfani.
"Iya maaf. Ya udah. Sekarang kita jalan-jalan, yuk! Mau naik apa? Kora-kora?" Irfan berdiri. Ia mendorong Irfani dan Lara untuk menjauh dari bangku.
Tak lama setelah Irfan, Irfani, dan Lara pergi, Ira datang. Ia membawa dua minuman kaleng. Hanya Fahmi yang ada di bangku.
"Irfan mana?" tanyanya.
"Pergi, sama Irfani," jawab Fahmi.
"Jadi, Irfani dan Lara tau kalau dia pergi sama aku?"
"Irfan gak bilang apa-apa, kok tentang kamu."
"Hm. Padahal masih ada yang mau kutanyakan."

- to be continued -

4.6.16

The Beautiful of Friendship - Chapter 13

Untuk Ira.
Aku minta maaf, ya Ra. Aku sama sekali nggak berniat untuk menjahatimu. Semua rencananya Lara. Ia benar-benar ingin mencelakakanmu.
Aku sudah menolaknya dari awal. Tapi, Lara mengancamku. Ia bisa melakukan apapun pada Irfani, jadi aku terpakasa mengikuti seluruh perintahnya. Kalau begini terus, Irfani akan semakin menjauhimu, Ra. Aku tidak mau dia terpengaruh oleh Lara.
Tapi, aku tak tahu harus berbuat apa. Aku sangat sulit mendekatinya sekarang. Lara selalu bersama dengannya. Karena itu aku ingin minta bantuanmu, Ra.
Bisakah besok kita bertemu?
Dari Irfan.
-------
Isi dari kertas yang diberikan Irfan pulang sekolah tadi. Ira membacanya saat malam setelah selesai mengerjakan PR. Di dalamnya terselip tiket Taman Bermain Kendangjari.
"Cie... Mau ketemuan ni ye?" seseorang tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Fahmi?!"
"Hehe. Kaget, ya? Jadi, kamu mau datang atau nggak?" tanyanya kemudian.
"Hm, nggak tau juga, sih. Eh, bentar! Kamu kok bisa tahu rumahku?" Ira baru menyadari.
"Hehe. Kan aku selalu ngikutin kamu kemana pun,"
"Ha?! Siapa yang minta diikutin?! Dasar manusia setengah-setengah!" Ira melemparkan bantal dan gulingnya meskipun menembus tubuh Fahmi. Tak sengaja kertas dan tiket yang di berikan Irfan terjatuh.
"Ira...! Ada temennya datang?" suara Ibunya Ira dari luar kamar. Ira langsung tertegun dan menutup mulutnya.
"Gak ada, Bu. Aku lagi latihan drama," jawab Ira. Ibunya percaya dan kembali menuju ruang tengah.
"Makanya, jangan teriak-teriak!" Fahmi mengambil tiket taman bermain dan memberikannya pada Ira.
"Itu kan salahmu. Lho, kok kamu bisa pegang tiketnya?" Ira mengambil tiket dari tangan Fahmi.
"Hm, gak ngerti juga sih. Kadang suka begini. Jadi, kamu mau datang besok?"
Ira tak langsung menjawab. Ia menatap tiket di tangannya.
"Kalau ini jebakan lagi, gimana?" gumamnya. Tangan Ira gemetaran, bahkan matanya mulai basah.
"Kan ada aku. Nanti kuikuti dari belakang," hibur Fahmi.
Ira mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah Fahmi yang tersenyum lebar. Ira mulai tersenyum.
"Thanks ya, Fahmi."
"Slow aja! Hahaha," Fahmi menggaruk-garuk kepalanya salting.

- to be continued -

3.6.16

The Beautiful of Friendship - Chapter 12

"Permisi," ujar Ira mengetuk pintu kelas.
"Ya, masuk!" suara Pak Iwan, guru Bahasa Indonesia.
Ira memberanikan membuka pintu. Ia menatap Pak Iwan yang sedang menulis di papan tulis.
"Kenapa kamu telat, Ira?" tanya Pak Iwan.
"Anu, Pak...," Ira kebingungan saat hendak menjawab pertanyaan Pak Iwan. Ia melihat arah bangkunya, ada Fahmi di sana. Fahmi menggerakkan mulutnya, mengatakan sesuatu tanpa bersuara. Katanya 'TOILET'. Ira langsung mengerti maksud Fahmi.
"Saya tadi dari toilet, Pak. Tapi ternyata penuh, Pak. Jadi, saya mengantri lama sekali, Pak." alasan Ira.
"Ya sudah. Duduk!" Tanpa basa-basi apa pun, Pak Iwan mengizinkan Ira memasuki kelas.
Saat menuju bangkunya, Ira melihat Irfan menatap takjub padanya. Ia juga memperhatikan Lara dan Irfani yang berbisik seraya memperhatikan dirinya. Tapi, Ira tak memedulikan semua itu. Ia tetap berjalan tenang seolah tak terjadi apa pun.
"Kok dia bisa keluar, ya?" tanya Irfani pada Lara seraya berbisik.
"Udah kamu kunci belum sih pintunya?" Lara balik bertanya.
"Udah, kok."
"Apa Irfan yang bantu dia?"
"Irfan, kan bareng-bareng kita terus."
"Awas saja. Selanjutnya nggak akan gagal." Lara dan Irfani mengerlingkan mata dan menggoyangkan bibirnya karena merasa sebal.
"Hoho... Jadi mereka ini yg membuat Ira terkurung di gudang. Sepertinya kejahilan mereka belum selesai." Fahmi yang sejak tadi mendengarkan, berpikir untuk memperingatkan Ira.
Saat pulang sekolah, Ira masih asik merapikan buku-buku saat pelajaran terakhir tadi. Tiba-tiba Irfan mendekatinya dan melemparkan sesuatu. Irfan segera berlari keluar kelas setelahnya. Ira kembali memperhatikan benda yang Irfan lemparkan, sebuah lipatan kertas. Dengan cepat Ira memasukan kertas tersebut dalam tasnya dan bergegas pulang.

30.5.16

The Beautiful of Friendship - Chapter 11

"Pergi! Pergi! Astagfirullah.. Bismillah.. Subhanallah..," Ira berteriak-teriak seraya menutup wajahnya. Anak laki-laki itu bukannya ketakutan, justru terbang mendekati Ira.
"Hahaha! Kok, kamu ketakutan? Aku kan bukan hantu. Hahaha!" ujar anak itu, ia terus tertawa hingga Ira berani membuka wajahnya.
"Jadi, kamu bukan hantu? Tapi, kok kamu nggak menapak ke tanah kakinya?" masih setengah ketakutan, Ira menunjuk kaki anak tersebut.
"Oh. Soalnya aku bisa melayang-melayang. Tapi, serius. Aku bukan hantu," anak tersebut menurunkan tubuhnya agar kakinya menempel lantai.
"Terus, kalau bukan hantu, kamu apa?"
"Hm, iya juga. Aku apa, ya?"
"Kok, malah nanya balik?" keluh Ira.
"Ya, sudahlah. Nggak usah terlalu dipikirkan. Ngomong-ngomong, terimakasih ya sudah mengeluarkanku dari dalam kotak. Sebagai ucapan terimakasih, mulai sekarang aku akan mengikutimu keeee...manapuuuunnnn.... Ok?!" anak laki-laki itu menjelaskan dengan penuh ekspresi.
Meskipun tidak mengerti, Ira mengangguk saja. Wajahnya kini dipenuhi tanda tanya.
"Oh, iya. Namamu siapa? Aku Fahmi," anak laki-laki itu mengulurkan tangannya.
"Ira," Ira pun mengulurkan tangannya. Ia bermaksud membalas ajakan jabat tangan dari Fahmi. Tapi tangannya tak dapat disentuh. Ira begitu terkejut ketika melihatnya.
"Ha... Hantuuu...!" Ira kembali menyembunyikan wajah dengan tangannya.
"Hei, hei! Sudah kubilang kan kalau aku bukan hantu."
"Tapi, kok tanganku bisa tembus?"
"Aku juga nggak terlalu ngerti kenapa bisa begitu. Hehehe. Kamu sendiri, kenapa bisa di tempat ini?" Fahmi balik bertanya.
"Oh, iya! Tadinya aku mau menghancurkan kayu ventilasi itu. Tapi, aku terjatuh dan sekarang kursi-kursinya...," Ira menunjuk lubang ventilasi dan runtuhan tumpukan kayu.
"Kenapa kamu mau menghancurkan lubang ventilasi?" tanya Fahmi.
"Supaya bisa keluar," jawab Ira singkat.
Fahmi melihat-lihat sekeliling. Mulai dari kayu lubang ventilasi dengan jejak sepatu, tumpukan kursi yang berantakan, hingga pintu besar di hadapannya.
"Kamu di kunci dengan temanmu di sini?" tanyanya.
"Iya," jawab Ira.
"Okelah. Kita keluar sekarang!" Fahmi melayang mendekati pintu gudang.
"Eh, gimana caranya?"
Fahmi menunjuk lubang kunci pintu gudang, muncul cahaya dari ujung jarinya menuju lubang tersebut. Tiba-tiba pintu gudang terbuka.
"Waaahhh! Terimakasih, ya Fahmi. Aku masuk kelas dulu" Ira menarik pintu tersebut dan segera berlari keluar dari dalam gudang. Ia meninggalkan Fahmi sendirian.