![]() |
| Image by narutocosplayers.com |
THE BIGGEST DIARIES BLOG IN THE WORLDS
![]() |
| Image by narutocosplayers.com |
![]() |
| Image by Google |
![]() |
| image by Google |
“Ancient!” teriak tiga anak perempuan yang menghampiri Radar Band. Mereka segera mengerumuni Ancient saat telah berada di hadapannya. Rupanya mereka adalah Welvy, Arola, dan Sahra.
“Kok, nggak bilang ke kita kalau jadi keyboardist band?” tanya Arola. Ia menarik tangan Ancient.
“Kalau tahu, kan kita nggak akan salah sangka,” ujar Sahra.
“Iya. Kita bisa ngertiin kok,” tambah Welvy.
“Iya, iya. Sorry. Kan biar surprise,” jawab Ancient.
“Maafin kita juga, ya. Karena udah katain lo yang nggak-nggak,” ujar Welvy. Ancient tersenyum mengangguk.
Tiba-tiba Raja ikut-ikutan nimbrung di tengah di tengah-tengah obrolan mereka berempat.
“Salah sangka apa, nih?”
“Mau tahu aja!” jawab mereka bertiga bersamaan. Ancient masih senyum-senyum memperhatikan tingkah ketiga temannya itu. Sementara Raja cuma garuk-garuk kepaa sambil nyengir.
“An!” panggil Arlo kemudian.
“Kita duluan, ya kalau begitu,” pamitnya. Ancient mengangguk. Tapi, tiba-tiba Welvy mendekati Arlo.
“Arlo! Kita bareng aja ke depan panggungnya. Ngomong-ngomong tadi permainan gitarnya bagus banget,” ucap Welvy seraya menarik lengan baju Arlo untuk berjalan bersama. Teman-temannya yang lain mengikuti Arlo di belakang.
“Oh ya? Thanks ya,” jawab Arlo sambil tersenyum.
“Permainan gitar Arlo memang hebat, Vy.” Reky menambahkan saat berhasil menyusul mereka berdua.
“Vokalnya Reky juga mantap abis, kok,” tambah Arola yang menyusul Reky dan berjalan di sampingnya.
Sahra yang berjalan beriringan dengan Ancient terasa kesal karena dicueki dengan kedua temannya. Ancient mencoba menghibur Sahra.
“Raja sendirian tuh, Ra,”ujarnya.
“Maksud lo apa, Ancient?”balas Sahra bertambah kesal. Ia melipat kedua tangannya di dada.
“Permisi, sebentar!” Dazaki memotong obrolan Sahra dan Ancient.
“An! Nanti ajarin gue matematika yang kemarin, ya. Masih ada yang belum gue mengerti,” tambahnya. Kemudian Dazaki dan Ancient mulai asyik mengobrol tentang matematika. Sahra semakin kesal karena dicueki Ancient.
“Kok, manyun? Dicuekin, ya?” tanya Raja. Ia mendekati Sahra.
“Nggak uda hubungannya sama lo kali. Ngapain lagi ngedeketin?” balas Sahra.
“Tadi gimana penampilan gue di panggung? Keren, kan keren?”
“Keren, sih. tapi masih kerena Kak Levy tau.”
“Gak usah muji deh, kalau gitu.”
“Terserah gue, dong. Sirik aja, lo!”
*******************
Senin, saat jam istirahat. Arlo, Reky, dan Raja berjalan menuju Para Media untuk melihat pengumuman peserta final Festival Band.
“Kira-kira, kita masuk final nggak, ya?” gumam Arlo.
“Kalau Logo Band pasti masuk. Soalnya kemarin mereka bawain lagunya nyentuh banget,” jawab Raja.
“Ancient dan Dazaki mana?” tanya Reky.
“Mereka ke perpustakaan. Biasanya. Belajar matematika,” jawab Raja lagi.
“Matematika lagi...,” keluh Reky.
Tiba-tiba dari hadapan mereka datang Welvy, Arola, dan Sahra. Mereka berlari-lari mendekat.
“Arlo! Selamat ya! Radar Band masuk final, lho.” Welvy menyalami Arlo.
“Oh, ya?”
“Iya, Lo.” Arola menguatkan.
“Kita udah lihat pengumumannya di Para Media,” tambah Sahra.
“Kita baru mau ke sana,” timpal Reky.
“Ya, udah. Ayo ke Para Media!” ajak Welvy. Ia menarik lengan Arlo agar berjalan berdampingan dengannya ke Para Media, yang lain mengikuti di belakang.
“Wo, Woi! Tungguin gue!” seru Raja yang tertinggal di belakang.
Tak lama kemudian, mereka sampai di hadapan Para Media. Welvy menunjuk sebuah lembaran yang berjudul Peserta Final Festival Band pada salah satu baris dari daftar peserta.
“Ada, kan?” ujarnya. Arlo tersenyum senang.
“Coba kita lihat syarat di Final nanti apaan, ya?” Raja menunjuk baris tulisan yang berada di bawah daftar tersebut.
“Dipersilahkan kepada masing-masing Band untuk membawakan lagu dalam negeri unggulannya,” sambung Raja, membaca tulisan tersebut.
“Hehe, lagunya boleh apa pun dong,” komentar Reky.
“Berapa lagu, Ja?” tanya Arlo.
“Dua lagu,” jawab Raja.
“Nanti kalian mau bawakan lagu apa?” tanya Arola.
“Hmm, kita ke perspustakaan dulu, deh,” usul Arlo. Ia memutar tubuhnya.
“Ngapain ke perpustakaan? Mau nyari buku kumpulan lagu?” tanya Raja setengah bercanda.
“Kan, Ancient dan dazaki ada di sana. Kita rundingkan bareng-bareng,” jawab Arlo.
“Oh, iya. Gue lupa,” balas Raja. Kemudian mereka semua berjalan menuju perpustakaan.
-to be continued-
Sumber: youtube.com
Para personel Radar Band masih mengecek sound. Sampai akhirnya Reky berinisiatif untuk berbicara untuk menghapus keheningan.
“Cek! Cek!” ujar Reky, mencoba mendengarkan suranya yang keluar dari sound. Setelah yakin microphone yang ia gunakan menyala, Reky mulai berjalan ke depan panggung.
“Oke teman-teman! Selamat siang semuanya. Masih semangat?” ucap Reky menarik perhatian.
“YAAAA!” teriak penonton yang didominasi suara anak perempuan. Reky sering tampil bermain akustik bersama Arlo saat pentas seni, sehingga banyak siswa yang sudah mengenalnya. Bahkan ada sekelompok anak perempuan yang berteriak-teriak memanggil. Reky membalas panggilan itu dengan melambaikan tangan pada mereka.
“Kali ini, gue akan perkenalkan rekan se-band gue. Ada Raja di Bass. Dazaki penabuh Drumm. Ancient dengan Keyboardnya, dan Arlo di Gitar. Terakhir, gue Reky,Vocalist,” ujarnya. Ia menunjuk teman-temannya satu persatu. Saat itu, mereka telah selesai mengecek sound. Arlo mengangguk pada Reky untuk memberikan aba-aba dimulainya lagu pertama mereka.
“Kita akan membawakan lagu yang akan buat kalian enjoy. Langsung mulai?” teriak Reky lagi. Para penonton kembali bersorak ramai.
“Musik!”
Suara musik dari gitar, drumm, bass, dan keyboard yang dimainkan Arlo, Dazaki, Raja dan Ancient begitu teratur dan dinamis. Alunan yang membuat para pendengarnya mengikuti nada pada tiap liriknya. Itulah gambaran lagu Bayang Semu dari Ungu yang dibawakan Radar Band.
********************
Sorak sorai penontong mengiringi berkahirnya lagu ertama yang dibawakan Radar Band. Tak berlama-lama, Reky langsung mencuri perhatian dan mengumumkan lagu berikutnya.
“Langsung saja, lagu kedua Radar Band: Musnah,” ucapnya. Tangannya diangkat ke atas menghitung sampai tiga, sebagai aba-aba bagi untuk teman-temannya dalam memulai melodi.
Bukan... maksud hatiku
Kejutkan dirimu... di depan mataku
Tapiku tak bisa lupakan
Saat dirimu membuatku
Diriku terhina...
Memasuki reff dari lagu, Reky melompat-lomat seraya mengajak penonton ikut dalam iramanya. Tanpa pikir panjang lagi, seluruh penonton berdiri dan beriringan mengikuti lompatan Reky. Mereka semua mengikuti Reky bernyanyi.
“Oh My God! Radar lebih seru daripada Logo Band. Iya, kan?” tanya Welvy setengah berteriak pada Arola dan Sahra.
“Iya, bene banget!” jawab Sahra.
“Setuju! Setuju!” balas Arola.
Mereka bertiga kembali tenggelam bersama penonton lainnya. Menggoyang-goyangkan kaki dan bertepuk tangan mengiri musik Radar Band hingga akhir.
“Wow! Wow! Wow!” teriak MC Girie setelah lagu kedua berhenti.
“Tepuk tangan lagi dong untuk Radar Band!” MC Oby mengikuti pujian dari MC Girie. Reky melambai-lambaikan tangan dan membungkukan tubuhnya saat penonton kembali bersorak untuk Radar band.
“Capek ya?” tanya MC Girie saat mendekati Reky.
“Nggak juga, sih,” jawab Reky masih terengah-engah seraya tersenyum-senyum. Teman-temannya mulai menyimpan gitar dan bass serta merapikan alat musik lain yang habis digunakan. Mereka bersiap-siap untuk meninggalkan panggung.
“Untuk Radar Band, nanti dulu dong turunnya. Kita ngobrol-ngobrol dulu,” cegah MC Oby, mereka kembali berjalan menuju tengah panggung.
“Ngobrol apa, nih?” ucap Reky dengan mic-nya.
“Kita semua kan tahu ya kalau Radar Band itu band baru. Kenapa, sih kok namanya Radar Band?” tanya MC Girie memulai percakapan.
“Hm. Pertanyaan yang sulit. Mungkin bisa dijawab langsung oleh pendirinya,” jawab Reky. ia menunjuk Arlo.
“Eh? Gue?” tanya Arlo terkejut. Reky menariknya sedikit lebih maju. Ia memberikan mic-nya pada Arlo.
“Eee, jadi... Eh, tadi tanya apa ya?” Arlo gugup saat mulai berbicara dengan mic. Selama tampil di Pentas Seni, ia hanya memainkan gitar untuk mengiringi suara Reky.
“Itu loh, kak. Kenapa namanya bisa Radar Band? Mungkin bisa diceritakan alasannya!” MC Oby mengulangi pertanyaan.
“Nggak ada alasan apa-aa, sih sebenarnya. Cuma, kebetulan, kalau nama kita disatukan, bisa disingkat jadi ‘radar’, gitu,” jawab Arlo.
“Nama siapa yan disatukan?” tanya MC Girie.
“Kita berlima,” jawab Arlo lagi seraya menunjuk teman-temannya.
“Oh, iya kah? Kita coba absen satu-satu deh! Radar = R, A, D, A, R. R itu Reky. A itu Arlo. D-nya Dazaki. A lagi untuk Ancient. R yang terkahir untuk Raja,” ujar MC Girie.
“Wah! Benar, kak. Pas banget. Keren, ya teman-teman?” MC Oby mengajak penonton bertepuk tangan.
“Oke kalau gitu, sekali lagi tepuk tangan untuk Radar Band!” teriak MC Girie. Ia mempersilahkan Arlo dkk untuk keluar panggung. Kemudian ia dan Oby memanggil siswa-siswi ekstrakulikuler seni untuk mengisi acara selanjutnya.
Sementara itu Radar Band menjauh dengan melewati lorong di belakang panggung. Mereka masih membahas penampilan tadi. Mereka memuji reky yang berhasil membawa penonton ikut menikmati lagu dari awal hingga akhir. Tiba-tiba dari hadapan mereka muncul tiga orang anak perempuan.
-to be continued-
Sumber: en.wikipedia.com
Band: My Chemical Romance
“Kepada seluruh siswa, harap berkumpul di halaman pentas seni! Sekali lagi, seluruh siwa harap berkumpul di halaman pentas seni! Karena acara Festival Band akan segera dimulai. Terimakasih,” suara MC Girie. MC pentas seni paling senior. Ia biasa memberikan pengumuman seperti itu setiap pentas seni setelah bel berakhirnya mata pelajaran.
Setelah mendengar panggilan tersebut, seluruh siwa keluar dari kelasnya. Mereka berjalan berbondong-bondong menuju halaman pentas seni. Semuanya tak sabar untuk menyaksikan Festival Band hari itu.
“Asyik! Sekarang festival band,” seru Welvy, seraya duduk di bangku yang mengelilingi pohon di halaman pentas seni. Begitu pun Sahra dan Arola.
“Senang banget kayaknya. Ada apa, nih?” tanya Ancient. Ia ikut duduk di samping Welvy.
“Bisa lihat lima band baru. Siapa tahu personilnya keren-keren,” jawab Sahra.
“Kalau nggak salah, band yang baru itu: Langgar, Charlie, Violet, Masa, dan Radar yang ada di urutan terkahir,” jelas Arola.
“Eh! Radar Band urutan terkahir?!” seru Ancient.
“Iya. Kenapa memangnya?” tanya Welvy.
“Kamu kenal sama personilnya, An?” tambah Arola.
“Enggak, kok, enggak. Enggak kenal sama sekali. Paling anak kelas satu personilnya. Hehe. Eh, udah mau mulai acaranya,” Ancient mencoba menutup-nutupi.
Welvy, Sahra, dan Arola memalingkan pandangannya kepada MC Girie dan MC Oby –MC junior- yang telah berdiri di atas panggung. Seluruh penonton mulai berteriak-teriak menantikan penampilan band-band yang ditunggu-tunggunya.
“Gimana kalau kita langsung panggil aja, Kak Girie?” ucap MC Oby.
“Oke, deh! Kita panggil band pertama...,” balas MC Girie, ia sengaja memotong kata-katanya.
“Mars Band!” ucap mereka bersamaan. Mereka berdua berjalan ke pinggir panggung dan mempersilahkan para personil dari Mars Band memasuki panggung. Sang gitaris, bassist, dan vokalist mencoba alat-alat yang akan digunakannya. Sementara drummer Mars Band mencari posisi duduk yang dirasa nyaman. Tak lama kemudian, mulailah mereka menyanyikan lagu ‘Berjanjilah’-nya Ungu.
***************************
Sorak sorai penonton mengakhiri penampilan dari sebuah band baru, Masa Band. Setelah para personil turun dari panggung, seluruh penonton mulai berteriak memanggil band selanjutnya, yaitu Logo Band. Mereka tak sabar ingin melihat aksi dari band idola tersebut.
“Wow! Wow! Heboh banget, yaa!” komentar MC Girie ditengah sorak-sorai.
“Langsung panggil aja, yuk Kak! Inilah...,”
“LOGO BAND!” ucap MC Girie dan MC Oby bersamaan.
Diiringi sorak sorai penonton, Logo Band memasuki panggung. Bahkan Toya sudah melambai-lambaikan tangannya, membalas sorak-sorai tersebut.
“Tes! Tes! Kita kenalan dulu kali, ya? Di gitar ada Ikrar,” ucap Toya. Penonton bersorak.
“Levy pada Bass.” Penonton bersorak semakin keras. Bahkan ada geng-geng cewe yang memanggil-manggil nama Levy. Tapi Levy berusaha tak menanggapi.
“Kemudian Orgarus dengan keyboard-nya.” Penonton tambah bersorak lebih keras.
“Drum ole Afrizy, dan gue, Toya. Langsung lau pertama kita: Aku Bisa,” sambung Toya. Maka Logo Band memulai lagunya.
Sorak sorai penonton semakin semangat.
“Hehe. Lagu slow,” komentar Arola mendengarkan lagu yang dibawakan Logo Band.
“Kenapa, La?” tanya Ancient. Arola menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.
“Yang ini lagi, daritadi menatap Kak levy terus. Katanya udah nggak nge-fans lagi?” tanya ancient lagi melihat Sahra yang menatap lurus memandangi Levy.
“Emang nggak. Gue cuma membayangkan kalau yang main bass itu Raja. Pasti dia keren banget, ya?” jawab Sahra setengah bergumam.
Ancient geleng-geleng kepala memperhatikan teman-temannya tersebut. Rupanya mereka semua lagi kasmaran. Tapi Welvy nggak termasuk sepertinya. Ancient menengok ke arah Welvy.
“Arlo akustikan nggak ya hari ini?” gumam Welvy. Rupanya ia pun dalam mode kasmaran. Ancient hanya bisa tertawa geli memperrhatikan. Ia melihat ke arah Arlo dan lainnya.
Beberapa menit kemudian, selesailah lagu kedua: Kau dan Aku, Nidji. Lagu keduanya Logo Band.
“Tepuk tangan sekali lagi untuk Logo Band!” seru MC Oby. Ia dan MC Girie berjalan memasuki panggung saat personil Logo Band merapikan instrumen yang baru digunakannya.
“Thanks, ya Logo Band.” Ucap MC Girie pada para personil Logo Band.
“Nggak terasa, nih By. Kita udah di peserta terakhir,” lanjutnya.
“Betul banget, Kak. Band terakhir ini namanya unik, lho Kak. Pasti terinspirasi dari alat pendeteksi kemenangan Festival Band,” komentar MC Oby.
“Band baru, kan ya? Kita panggil aja yuk, By!”
“RADAR BAND!” kembali kedua MC memanggil bersama. Mereka kembali ke samping panggung.
“An! Habis ini mau ma.... Eh, Ancient mana?” Welvy memanggil Ancient untuk bertanya sesuatu. Tapi Ancient sudah tak ada di sampingnya. Arola menjawab pertanyaan Welvy dengan menggelengkan kepala seraya mengangkat bahunya.
“Eh! Itu Ancient kan?” tanya Sahra. Jarinya menunjuk panggung.
“Ha? Iya. Itu Ancient,” jawab Welvy.
“Lho, yang pegang Bass kan Raja,” ucap Arola.
“Terus yang bertiga itu siapa?”
“Yang pegang gitar itu Arlo. Di depannya Reky. Tapi di drumm siapa?”
“Itu, kan Dazaki. Yang kemarin dikenalin sama Ancient.”
“Jadi mereka: RADAR BAND?” ujar mereka bertiga.
-to be continued-
Sumber: suratproposal.blogspot.com
Jum’at siang saat pulang sekolah, minggu ketiga bulan Februari. Levy dan Orgarus berdiri di hadapan Para Media. Mereka membaca daftar peserta yang telah terdaftar di festival band besok. Ada 15 band di sana.
“Band kita urutan keberapa?” tanya Orgarus mencarai nama bandnya di daftar. Ia menunjuk daftar nama-nama band tersebut.
“Nomor 14,” jawab Levy, ia menunjuk angka 14 di daftar.
“Hm, band yang ikut berpertisipasi banyak juga ya. Yakin kita bisa menang?” gumam Orgarus.
“Jangan pesimis gitu, dong Ga! Masa nyerah sebelum bertarung?” ucap Levy.
“Soalnya banyak band baru yang ikutan juga, sih. Nih, lihat! Dari 15 band: Mars, Apel, Langgar, Hipotenusa, Blue, Sistem, Penyakit, Bluetooth, Toilet, charlie, Violet, Masa, Logo, dan Radar. Lima di antaranya masih baru, kan?”
“Yang masih baru itu: Langgar, Charlie, Violet, Masa, dan Radar. Bolehlah namanya. Oh, iya! Kalau nama band Arlo dkk apa, ya?” tanya Levy.
“Hm, iya juga. Band mereka ikut acara ini nggak, ya? Kalau mereka ikut, kita bisa kalah nih,” ucap Orgarus.
“Lu kok, pesimis melulu sih?”
“Soalnya, kalau dilihat dari kualitas personilnya, band-nya Arlo dkk itu pasti bakalan eksis di sekolah kita,” jawab Orgarus seraya berjalan menjauhi Para Media bersaa Levy.
Tak lama kemudian, Arlo dan Reky datang mendekati Para Media untuk melihat daftar peserta festival band besok.
“Aah! Kok, bisa urutan terakhir, Lo? Lu yang daftarin, kan?” tanya Reky.
“Sorry, sorry! Gue hampir lupa, gara-gara sibuk ngerjain tugas. Untungnya belum ditutup. Hehehe,” jawab Arlo seraya menggaruk-garuk kepalanya.
“Kayak Dazaki lu,” komentar Reky.
“Hehehe. Wah, Logo Band juga ikutan ternyata,” ujar Arlo saat melihat nama Logo Band dekat nama band-nya.
“Lu belum ngasih tahu Toya nama band kita, kan?” tanya Arlo kemudian.
“Nggak, kok. Biar mereka cari tahu sendiri. Hihihi,” jawab Reky.
Tiba-tiba, saat Arlo berencana untuk meninggalkan Para Media, telah berdiri Welvy, Arola, dan Sahra di hadapannya.
“Hai, Arlo!” ucap Welvy.
“Iya. Ada apa?” tanya Arlo.
“Buat Jum’at kemarin, thanks banget ya. Lu udah nolongin gue,” jawab Welvy seraya tersipu malu.
“Jum’at kemarin?” gumam Arlo. Ia mengusap-usap rambutnya seraya mencoba mengingat.
“Oh! Waktu di jalan itu, ya? Mestinya gue yang minta maaf. Maaf, ya!”
“Nggak apa-apa, kok. Gue juga mau ucapin terimakasih karena Arlo udah nolongin,” balas Welvy malu-malu.
“Dari kejauhan, Ancient memperhatikan ketiga temannya yang sedang berbicara dengan Arlo dan Reky. Ia bersandar pada dinding kelas yang tak jauh dari Para Media. Tiba-tiba Dazaki datang menyapanya.
“Hei, An! Lagi ngapain?” tanya Dazaki.
“Eh, Za. Lagi nungguin Welvy, Arola dan Sahra aja, sih.”
“Yang lagi ngobrol sama Reky dan Arlo itu?” tanya Dazaki. Ancient mengangguk.
Sementara itu, Sahra dan Arola yang ada di belkang Welvy sibuk bisik-bisik berdua. Mereka memperhatikan Reky yang mendengarkan pembicaraan Arlo dan Welvy.
“Sahra! Temannya Arlo keren juga,” bisik Arola.
“Naksir lu, La?”
“Iya deh, kayaknya. Habisnya, senyum sama gayanya buat gue melting,” jawab Arola saat melihat Reky tersenyum.
“Kak Levy gimana?” tanya Sahra lagi.
“Capek deh, mikirin dia.”
***************************
“Galu gitu. Gue pamit, ya. Sekali lagi makasih,” pamit Welvy pada Arlo dan Reky.
“Iya,” jawab Arlo. Ia melambaikan tangannya saat Welvy, Arola, dan Sahra pergi. Kemudian ia dan Reky pergi ke arah berlawanan.
Welvy, Arola dan Sahra berjalan menuju Ancient yang telah menunggu mereka. Tapi, Ancient masih asyik mengobrol dengan Dazaki.
“Lagi asyik, ya? Ganggu nggak, nih?” tanya Arola saat mendekati Ancient.
“Nggak, kok. Cuma ngebahas matematika aja. Kebetulan temanku ini juga di ajar guru yang sama,” jawab Ancient.
“Dazaki, kelas 2C,” ucap Dazaki memperkenalkan diri. Ia bersalaman dengan Welvy, Arola, dan Sahra.
“Kalau begitu, gue duluan ya. Thanks ya, An buat sarannya,” pamit Dazaki.
Setelah Dazaki pergi, Sahra menarik lengan Ancient agar lebih dekat dengannya. Ia membisikan sesuatu pada Ancient.
“Heh, ngomongin apa sih kalian?” tanya Welvy penasaran melihat tingkah laku Sahra dan Ancient.
“La! Lu naksir sama temannya Arlo? Siapa namanya?” tanya Ancient kemudian,
“Reky?” jawab Arola. Ia senyum-senyum salah tingkah.
“Kita pulang, yuk!” ajak Arola mengalihkan pembicaraan.
-to be continued-
Gambar: Akagami no Shirayukihime - Season 1
“Permisi Mas Pasha,” ucap Arlo saat memasuki studio di samping sekolahnya.
“Eh, Arlo! Mau rental, ya?” tanya Mas Pasha.
“Iya, Mas. Tapi kayaknya udah ada ngeduluin,” jawab Arlo seraya menengok ke ruang studio.
“Oh, iya. Memang sudah ada yang pesan. Mau nunggu? Rentalnya cuma dua jam, kok,” tawar Mas Pasha.
“Sebentar ya, Mas.” Arlo kembali keluar dari studio. Ia menghampiri Reky dan yang lainnya di luar studio.
“Nunggu dua jam nggak apa-apa?” tanya Arlo.
“Udah ada yang ngeduluin, ya?”tanya Ancient.
“Siapa yang main?” sambung Reky.
“Band idola sekolah,” jawab Arlo.
“Oh, Logo Band,” ucap dazaki dan Raja bersamaan. Arlo mengangguk membenarkan,
“Mau nunggu nggak?” tanya Arlo lagi.
Akhirnya Arlo dkk menyetujui untuk menunggu. Mereka memasuki ruang tunggu studio. Menyebalkan memang, tapi mereka tidak bisa membatalkan latihan dan hanya studio ini yang bisa digunakan. Dari dalam ruang studio terdengar bait akhir lantunan musik “Ciuman Pertama – Ungu”.
CKLEK!
Seseorang keluar dari dalam studio. Suara musik sudah tak keras lagi. Rupanya itu Afrizy, drummer Logo Band. Ia keluar dari ruang studio. Langkahnya terhenti saat melihat rombongan Arlo di ruang tunggu studio.
“Kalian rupanya,” seru Afrizy, membuat Arlo dkk menengok ke arahnya.
Pukul lima sore, Arlo dkk dan para personil Logo Band keluar dari studio. Rupanya Logo Band mengajak Arlo dkk untuk latihan bersama. Sehingga mereka tidak perlu menunggu terlalu lama.
“Wah! Permainan band kalian bagus banget,” puji Toya, vokalis Logo Band.
“Thanks ya, Bang. Udah ngajak latihan bareng. Tapi band kita baru terbentuk, jadi nggak sebagus band lu, Bang.” Jawab arlo.
“By the way, nama band lu apa, Lo?” tanya Afrizy.
“Nama band, ya?” gumam Arlo. Ia menoleh ke arah Reky.
“Apa ya, Ky?” tanyanya kemudian.
“Nama band-nya belum ada, Bang.” Jawab Reky sambil cengar-cengir. Ia baru ingat kalau band mereka belum diputuskan namanya.
“Belum Ada? Lucu banget, deh namanya.” Toya memuji. Ia pikir nama band yang dibentuk Arlo dkk adalah ‘Belum Ada’.
“Bego banget sih lu, Toya. Maksudnya, belum dikasih nama band-nya, makanya belum ada,” sambar Orgarus. Ia mendorong kepala Toya.
“Ha? Beneran?” tanya Toya lagi pada Arlo.
“Ya, begitulah. Gue baru sadar kalau lupa ngasih nama. Nanti kita coba pikirin. Hehehe,” jawab Arlo. Seluruh personil Logo Band tertawa mendengar pengakuan Arlo.
**************************************
“Hallo, semuanya!” sapa Ancient pada Arola, Welvy, dan Sahra saat pulang sekolah. Jum’at itu tak ada jadwal Arlo dkk latihan, jadi Reky, Ancient, Raja dan Dazaki bisa mengurusi kepentingan masing-masing.
“Nggak duluan lagi?” tanya Welvy setengah sinis. Karena selama Ancient bergabung dalam band, ia lebih sering pulang mendahului teman-temannya yang tak tahu menahu itu.
“Sorry, dong! Keperluan itu nggak bisa ditunda. Maafin, ya!” Ancient memohon. Tapi ketiga temannya hanya diam saja.
“Ya, udah deh. Gue pergi aja,” Ancient ngambek karena dicuekin oleh teman-temannya.
“Eits! Baru gitu ngambek,” ujar Arola. Ia menarik lengan Ancient.
“Habis kalian diam saja,” jawab Ancient.
“Kita becanda kok, An.” Welvy memeluk Ancient, begitu pun Arola dan Sahra.
“Yuk, pulang bareng!” ajak Sahra.
Ancient, Welvy, sahra dan Arola berjalan beriringan saat keluar dari kelasnya. Seraya tertawa bercanda, mereka menuju pintu gerbang sekolah. Di hadapan mereka rupanya ada Levy dan Ikrar sedang mengobrol sambil menunggu seseorang. Karena Welvy dan lainnya terlalu asyik bercanda, mereka tidak melihat Levy dan Ikrar.
“Hei, An! Pulang?” seru Ikrar. Ia melambaikan tangan saat mendapatkan perhatian dari Ancient.
“Iya, kak. Duluan kak,” jawab Ancient. Ikrar menjawab dengan menganggukkan kepala dan tersenyum saat Ancient dan teman-temannya melewati mereka. Sedangkan Levy hanya diam memperhatikan dan kembali menghadap Ikrar.
“Tadi Kak Levy lihat ke kita, lho!” seru Sahra setelah agak jauh melewati pintu gerbang sekolah.
“Iya. Tapi buang pandang lagi,” sambung Arola.
“Kenapa ya, setiap kita nggak sengaja bertemu Kak Levy, kalau kita liatin dia buang pandang, kalau kita cuekin dianya lirik-lirik. Sebel, deh!” komentar Welvy.
“Lho, bukannya kalian nge-fans sama Kak Levy. Kok, sekarang jadi nggak suka gitu?” tanya Ancient yang sejak tadi memperhatikan teman-temannya.
“Ya, iyalah. Sombong,” jawab Welvy, Arola dan Sahra bersamaan dengan nada yang cukup keras.
Orang-orang yang berlalu lalang menengok ke arah mereka. Ancient dan lainnya menunduk karena malu.
“Keras banget, sih kalian,” bisik Ancient. Welvy dan lainnya cuma bisa cengar-cengir. Mereka berjalan kembali menjauhi orang-orang yang memperhatikan mereka.
“Oh, iya. Kak Ikrar kok bisa kenal sama kamu, An?” tanya Welvy kemudian.
“Ng... nge-fans sama gue kali. Hehehe,” jawab Ancient sekenanya.
“Nggak mungkin. Pasti dari Raja, kan? Tadi gue liat Raja nyamperin Kak Ikrar dan Kak Levy. Terus akrab gitu ngobrolnya,” tebak Arola. Ancient menjawab dengan mengangkat bahunya.
“Sebaiknya lu jujur, An! Lu udah jadian sama Raja, kan?” tanya Sahra.
Ancient menarik nafas panjang.
“Bahas itu lagi. Kan, udah gue bilang, kalau gue sama Raja itu cuma temanan. Ngerti?” jelas Ancient meyakinkan teman-temannya.
“Eh, udah, udah! Kalian jangan memojokkan Ancient begitu!” ucap Welvy membela Ancient.
“Kecuali, kalau itu beneran...,” ternyata pembelaannya juga candaan.
“Ih, kalian ini. Meledek gue terus. Ada yang balas, lho nanti...,” Ancient semakin kesal saat melihat teman-temannya tertawa.
Tiba-tiba dari arah belakang mereka ada seseorang yang berlari hingga menyenggol bahu Welvy. Ia terjatuh ke aspal jalan diiringi teriakan Arola dan Sahra.
“Aduh! Saki, nih. Kalau jalan liat-liat...,” keluh Welvy. Namun kata-katanya terpotong saat mengetahui seseorang yang menabraknya. Rupanya itu Arlo.
“Sorry! Sorry banget! Gue nggak sengaja. Lagi buru-buru soalnya. Sorry banget, ya!” ucap Arlo. Ia menarik tangan Welvy untuk membantunya berdiri.
“Iya. Nggak apa-apa..,” jawab Welvy pelan. Ia menatap wajah Arlo.
“Beneran nggak apa-apa?” tanya Arlo lagi. Welvy mengangguk pelan.
“Kalau gitu, gue pergi dulu.” Pamit Arlo. Ia melepaskan tangannya dari tangan Welvy dan kembali berlari, meninggalkan mereka berempat.
Ancient, Arola, dan Sahra heran ketika melihat Welvy masih memperhatikan arah Arlo pergi tadi.
“Vy? Lu nggak apa-apa, kan?” tanya Ancient. Ia melambaikan tangannya di depan wajah Welvy.
“An, tadi itu Arlo, kan? Dekat banget, sih,” tanya Welvy seraya bergumam tak jelas.
“Lu nge-fans Arlo juga, Vy?”
“Bukan nge-fans lagi, tapi udah suka. Kapan ya gue bisa jadi pacarnya Arlo? Soalnya setiap akustikan, dia keren banget,” jawab Welvy. Tapi, daripada menjawab pertanyaan, lebih mirip dengan bergumam sendiri.
“Suka?!” seru ketiga temannya bersamaan. Saat Arola dan Sahra terheran-heran. Ancient justru tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha, kamu suka sama Arlo, Vy? Kok, bisa sih? Hahaha,” ucap Ancient di tengah tawanya. Ia mencoba menahan tawanya saat melihat Welvy, Arola dan Sahra kebingungan.
“Kita lanjut jalan aja, ya!” ajaknya kemudian seraya mendorong ketiga temannya untuk kembali berjalan.
***************************
Pukul empat sore, hari minggu pada minggu kedua bulan Februari, Arlo dkk baru saja selesai latihan di studio milik Arie.
“Minggu depan udah mulai festival band aja,” gumam Ancient. Ia merebahkan diri pada sofa seraya menikmati cemilan yang disediakan Dazaki. Kemudian Raja datang dan duduk disampingnya. Tapi, tiba-tiba Raja berbaring hingga kakinya menyenggol tubuh Ancient. Ancient langsung menggeser tubuhnya ke arah kanan.
“Raja, lipat kakinya!” perintah Ancient.
“Apaan sih, An? Ngantuk, nih.” Jawab Raja. Ia masih mencoba meluruskan kakinya.
“Lipat kakinya! Kaki lu panjang tau. Gue cabut nih, bulunya,” ancam Ancient.
“Uh! Iya, nih gue lipat. Ngantuk, ni gue,” keluh Raja. Ia melipat kakinya dan memiringkan posisi tubuhnya ke kiri.
Arlo, Reky dan Dazaki tertawa geli melihat kedua temannya yang selalu bertengkar. Bahkan bukan hanya saat latihan saja, hanya berkumpul-kumpul pun ada saja yang mereka perdebatkan.
“Ngantuk kenapa, Ja? Begadang lu semalan?” tanya Dazaki. Ia berdiri di samping kanan sofa yang diduduki Ancient. Tangannya meraih kue kering di atas meja.
“Emm,” jawab Raja singkat.
“Lo! Arlo! Bisa main melodi yang ini, kan? Gue mau nyoba vokalnya, dong.” Pinta Reky pada Arlo yang saat itu masih memainkan gitarnya.
“Ok! Mulai dari intronya ya,” ucp Arlo menyetujui.
Selama Arlo dan Reky berlatih vokal, Dazaki merenungkan sesuatu.
“An! Menurut lu nama band kita apa, ya?” tanya Dazaki kemudian.
“Nama band, yaa? Apa ya?” gumam Ana.
“Iya. Kan, kita belum punya nama band-nya. Kalau Sleepy Band aja, gimana?” tambah Dazaki.
“Kok, Sleepy Band?” tanya Arlo saat telah selesai latihan dengan Reky. Mereka ikut bergabung bersama Dazaki dan Ancient.
“Ngeledek gue, lu Za.” Raja terbangun. Ia duduk merangkul kaki seraya menyenderkan kepalanya pada sofa.
“Eh, Raja udah bangun? Hihi,” tanya Ancient sambil tertawa geli.
“Terus namanya apa, dong?” ucap Raja.
Mereka berlima mulai memikirkan, mencari inspirasi untuk nama band yang mereka bentuk.
“Kira-kira namanya apa, ya?” gumam Arlo. Ia menengok kesana kemari memperhatikan berbagai benda dan teman-temannya. Mulai dari Raja, Ancient, Dazaki, Reky, dan sebaliknya. Mata dan otaknya sama-sama berputar.
“AH! Gue tau!” serunya.
-to be continued-
Sumber: blog.duitpintar.com
Kamis pagi, minggu pertama bulan Februari, satu bulan setelah ujian kenaikan kelas, Arlo berjalan santai memasuki gerbang sekolah. Tangannya menarik-narik tali dari tas punggu yang ia kenakan, berusaha memosisikan seenak mungkin pada tubuhnya. Tiba-tiba, Ancient datang mendekat dari arah belakangnya sambil berlari.
“Arlo! Cepat, Lo!” ajak Ancient seraya menarik lengan Arlo. Arlo yang tadinya jalan santai, kini ikut berlari.
“Ada apa, An? Malu, nih dilihat orang-orang.” Arlo melihat orang-orang yang memperhatikan mereka.
“Cuekin aja!”
Ancient menarik Arlo hingga koridor pembatas antara kelas satu dan kelas tiga. Di sana terdapat papan yang berfungsi sebagai mading, bernama Para Media.
“Lihat, nih! Pengumumannya udah keluar,” ucap Ancient. Ia menunjuk salah satu selebaran yang ditempel di Para Media. Arlo memperhatikan selebaran itu.
“Festival band? Masih tiga mingguan lagi, kok.” Ujar Arlo, menganggap mudah.
“Itu sebentar lagi, Arlo. Kita masih harus latihan,” Ancient menarik ransel Arlo hingga hampir terjatuh.
“Eeehh! Sorry, sorry. Becanda, An. Becanda,” Arlo menenagkan Ancient seraya tersenyum geli melihat rekannya yang mudah terbawa emosi tersebut.
“Makin mirip Raja aja lu. Udah, ah. Gue masuk kelas,” komentar Ancient. Kemudian ia berbalik berjalan meuju kelasnya, meninggalkan Arlo.
Seraya tertawa geli dan geleng-geleng kepala, Arlo melangkah menjauhi Para Media menuju kelasnya. Ia masuk ke dalam kelas dan duduk di bangku. Bibirnya masih senyum-senyum mengingat Ancient tadi.
“Ciee, pagi-pagi udah senyum-senyum sendiri. Kesambet, lu?” komentar Reky. Ia baru sampai di kelas rupanya.
“Nggak, kok. Inget sama Ancient yang kesal aja tadi,” jawab Arlo.
“Lu naksir Ancient? Ketahuan Raja, habis lu.”
“Apaan sih, lu Ky?” Arlo mengacak-acak rambut Reky.
“Stop! Stop! Rusak rambut gue,” ujar Reky. Ia menjauhkan kepalanya dari jangkauan Arlo dan kembali merapikan rambutnya yang naik turun itu.
“Eh, Ky! Lu udah liat Para Media belum?” tanya Arlo kemudian.
“Festival Band, kan? Slow! Tiga minggu lagi,” jawab Reky.
“Tapi, tetap latihan, lho.”
“Iya pasti, dong. Soalnya pilihan lagu wajibnya tuh, nggak semua gue bisa vokalnya.”
“Emang yang lu bisa apa aja?”
Reky menyebutkan lagu-lagu wajib yang ia pikir dapat dinyanyikan olehnya. Mulai dari lagu yang berirama cepat hingga lagu ballad.
“Nah, itu banyak juga. Kan, hampir semua dari lagu-lagu itu sering kita pakai untuk latihan?” ujar Arlo.
Reky mengangguk-anggukan kepalanya. Tiba-tiba bel masuk berbunyi.
“Nanti kita coba di latihan lagi aja. Ok?” ucap Arlo seraya mengajak tos Reky. Reky membalas kemudian kembali duduk di bangkunya.
******************
Di kelas 2A, saat istirahat pertama, Ancient bersama Welvy, Arola, dan Sahra ngobrol-ngobrol di dalam kelas. Selain mereka berempat, ada juga kelompok anak perempuan lainnya yang sedang bergosip, Raja yang sedang membaca buku, dan beberapa anak laki-laki lainnya.
“Eh, An! Kenapa, sih akhir-akhir ini lu jadi jarang pulang bareng kita?” tanya Welvy.
“Kan, aku udah bilang kalau ada urusan lain,” jawab Ancient.
“Bukannya kamu pengen pulang sama... Raja?” tanya Arola setengah berbisik.
Mereka berempat menengok ke arah Raja yang berada di belakang mereka. Raja yang merasa diperhatikan melirik kearah mereka. Ia tersenyum seraya mengangkat alisnya. Ancient, Welvy, Arola dan Sahra kembali ke posisi semula mereka.
“Nggak, kok. Beneran. Gue sama Raja nggak ada apa-apa,” jelas Ancient.
“Jangan ngelak, deh. Gue lihat pakai mata kepala gue sendiri, lu sama Raja jalan bareng pas pulang sekolah,” ujar Sahra mencoba memojokkan Ancient.
“Mungkin waktu itu gue nggak sengaja ketemu Raja, jadi jalan bareng.” Jelas Ancient.
“Udah lah, An. Ngaku aja! Udah ketangkap basah juga,” ucap Welvy. Ia menyenggol-nyenggol bahu Ancient dengan bahunya.
Tiba-tiba Arlo, Reky dan Dazaki muncul di pintu kelas.
“Ja! Kantin!” teriak Arlo. Raja merasa terpanggil melihat ke arah mereka.
“Sip!’ jawab Raja seraya mengangkat jempolnya. Ia menyimpan bukunya di dalam laci meja. Kemudian Raja berjalanmendekati pintu kelas. Saat itu ia melewati Ancient dan teman-temannya.
“Duluan, ya An.” Pamit Raja. Ia menghilang bersama Arlo, Reky, dan Dazaki setelah melewati pintu kelas.
“Tuh, kan ketahuan. Ngaku aja, deh kalau udah jadia sama Raja!” bujuk Arola.
“Nggak, kok. Kita ke kantin aja, yuk!” ajak Ancient mengalihkan pembicaraan. Ia beranjak dari duduknya.
“Mau nyamperin Raja, ya?”
“Masih dibahas lagi. Nggak, kok.”
“Jawab dulu, dong! Kamu udah jadian sama Raja belum?” Welvy menarik lengan Ancient agar kembali duduk.
“Jawab sekarang juga!” paksa Sahra.
“Kalian mau gue jawab sekarang juga?” tanya Ancient. Ketiga temannya mengangguk.
“Sebenarnya, gue sama Raja itu.... Ada, deh. Liat aja nanti!” Ancient segera berlari keluar kelas, takut diinterogasi lebih lanjut dengan ketiga temannya. Ia menuju kantin.
“Ancient!” teriak Welvy, Sahra, dan Arola. Mereka pun keluar kelas mengejar Ancient.
************
Sementara itu Arlo, Reky, Raja dan Dazaki telah menerima pesanan mereka dari Bu Kantin setelah lima menit menunggu. Mereka menikmati minuman seraya berbincang-bincang ria.
“Za! Udah bilang ke Kak Arie kalau kita mau pakai studio?” tanya Arlo.
“Oh, iya. Gue lupa bilang ke kalian. Kata Kak Arie nggak bisa, soalnya udah ada yang pesen mau rental,” jawab Dazaki.
“Kenapa nggak bilang dari kemarin?” keluh Arlo.
“Ya, sorry. Gue lupa banget,” balas Dazaki.
“Terus gimana, Lo?” tanya Reky.
“Di studio samping sekolah bisa, kan? Kita nggak mungkin cancel latihan,” usul Raja.
“Iya. Tapi, kita mesti esan dulu ke Mas Pasha kalau mau rental.” Jawab Arlo.
“Kok, pesan Lo? Sabtu kemarin kita nggak pesan bisa,” tanya Raja.
“Yah, itu sih kebeneran kosong aja.”
“Terus gimana, dong?”
“Semoga aja kosong, lah.”
Arlo kembali mengaduk-ngaduk minumannya, hingga ia melihat Ancient yang berlari memasuki kantin. Ia menengok kesana kemari dengan terburu-buru.
“Hey, An! Sini gabung!” panggil Arlo. Ia melambaikan tangannya ke arah Ancient.
Ancient menganggukkan kepasalanya namun ia tidak segera menghampiri mereka. Ia justru masih menengok kanan, kiri, bahkan arah belakangnya, seperti mencari sesuatu. Setelah itu ia baru berani mendekat dan duduk di samping Dazaki.
“Kenapa, sih An?” tanya Arlo penasaran.
“Aku lagi dikejar sama Welvy, Sahra, dan Arola,” jawab Ancient. Ia masih celingukan kesana-kemari.
“Kok, kalian jadi main kejar-kejaran? Kan tadi masih ngobrol di kelas,” tanya Raja.
“Soalnya, mereka nggak tahu kalau gue ikut main di band. Jadi, mereka penasaran gue jadi dekat sama Raja. Terus gue diinterogasi habis-habisan. Makanya gue kabur,” jelas Ancient.
“Kenapa nggak cerita aja?” tanya Arlo lagi sambil tertawa geli melihat rekannya itu.
“Nanti mereka minta dijomblangin sama kalian,” jawab Ancient.
“Haa?!” Semuanya terkejut mendengarkan pernyataan Ancient. Bahkan Reky sampai tersedak karena saat itu ia sedang meminum jusnya.
“Eh! Mereka datang,” seru Ancient tiba-tiba. Rupanya ia melihat Welvy, Sahra, dan Arola memasuki kantin. Kemudian Ancient sembunyi di belakang tubuh Dazaki, karena tubuhnya yang paling besar dari yang lain.
Welvy, Arola, dan Sahra tak berhasil menemukan Ancient. Mereka meutuskan untuk keluar kantin dan mencoba mencari ke bagian sekolah lain. Saat itu Dazaki memberi tahu Ancient bahwa ketiga temannya sudah pergi. Ancient keluar dari persembunyiannya dan kembali duduk di bangkunya.
“Thank you, ya! Thank you. Huft!” Ancient merapikan pakainnya dan mulai duduk dengan tenang.
“Oh, iya An. Nanti latihan di studio samping sekolah,” ujar Arlo memberitahukan.
“Nggak jadi di rumah Za?” tanya Ancient.
“Nggak bisa. Soalnya udah ada yang rental.”
-to be continued-
Sumber : zzistudio.com
Pentas seni mingguan itu berakhir. Siswa-siswi yang menonton bubar dan kembali ke rumah masing-masing. Namun, tidak untuk Arlo dkk. Mereka berencana untuk latihan band supaya semakin kompak dan dapat memenangkan festival band nanti.
“Ancient mana, sih? Kok, belum datang?” keluh Arlo yang saat itu telah bersama Reky, Raja, dan Dazaki. Mereka kini berada di pintu gerbang sekolah.
“Bukannya barengan sama lu, Ja?” tanya Reky pada Raja.
“Ancient bilang sih, ada urusan sedikit tadi.”
“Itu Ancient!” seru Dazaki menunjuk ke saat melihat Ancient berlari menghampiri mereka.
“Maaf, ya maaf! Tadi pamitan dulu sama temen yang lain. Soalnya mereka maksa pulang bareng,” ujar Ancient. Nafasnya masih terengah-engah.
“Tiga orang itu, ya?” tanya Raja. Ancient mengangguk-angguk.
“Yuk, berangkat!” ajak Arlo. Mereka semua mengikuti Arlo menuju studio yang letaknya tak jauh dari sekolah.
********
Minggu pagi, minggu ketiga bulan November, Arlo mengelap sepeda kesayangannya. Ia memakai kaos lengan pendek dan celana 3/4 , seraya bergumam sendiri.
“Pengen, sih. Sekali-sekali pergi pakai motor. Tapi, Bunda lebih perlu. Ada sepeda juga syukur, deh.”
Tiba-tiba Raja datang menggunakan sepedanya. Arlo menyimpan lap yang digunakan untuk membersihkan sepeda saat Raja di hadapannya.
“Udah siap, Lo?” tanya Raja.
“Iya,” jawab Arlo seraya mengacungkan jempol. Ia menaiki sepeda dan memakai topinya.
“Yuk!” ajaknya pada Raja. Kemudian mereka berdua mulai mengayuh sepeda menuju rumah Dazaki. Rencana hari ini, mereka akan latihan di studio Dazaki. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Reky yang membonceng Ancient dengan sepedanya. Mereka pun berangkat bersama-sama.
“Lama...!” komentar Dazaki ketika teman-temannya datang. Ia telah menunggu di depan pintu studio.
“Ya elah. Telat lima menitan. Rumah lu jauh, Za.” Jawab Raja sambil cengar-cengir.
“Udah! Udah! Maaf deh, Za! Kita mulai aja, yuk!” ujar Arlo mencoba menengahi. Kemudian ia memasuki studio, disusul Ancient, Raja dan Reky di belakangnya. Dazaki menutup pintu studio saat teman-temannya menempatkan diri pada alat musik masing-masing.
“Ok! Latihan lagu apa, nih?” tanya Arlo setelah menggunakan gitarnya.
“Laguku-nya Ungu,” jawab Raja.
“Nggak mau. Lagunya lembut banget. Yang bikin semangat gitu, lho.” Komentar Ancient.
“Hapus Aku-nya Nidji gimana?” tanya Reky.
“Lagu sexy-nya Kapten!” seru Raja lagi.
“Udah! Udah! Kalau Yakin-nya Radja aja, gimana?” usul Arlo.
“Setu, Lo. Ada solo drumm-nya, tuh. Hehe,” jawab Dazaki. Ia menabuh drumm-nya mengikuti melodi drumm pada lagu Yakin-Radja. Teman-temannya yang lain setuju.
“Ok, deh! Musik!” teriak Reky.
*****************
“Yeah! Arlo! Main gitar lu keren banget,” puji Ancient seraya mengacungkan kedua jempolnya. Setelah berulang kali memainkan lagu Yakin dari Band Radja, akhirnya mereka bisa mengompakkan permainan musiknya.
“Lanjut?” tanya Reky. Arlo dan Dazaki mengangguk.
“Angin, ya?!” usul Raja.
“Angin-nya Dewa, kan?” goda Ancient.
“Bukan Dewa, An. Tapi, Raja,” tambah Dazaki seraya menunjuk Raja.
“Latihan backing vokal, yuk! Pakai lagu Tercipta Untukku-Ungu,” ucap Reky.
“Boleh, Ky. Boleh,” Arlo setuju. Diikuti yang lain.
“Ok! Semuanya siap?” tanya Reky. ia mengangkat mic-nya. Yang lain menjawab dengan mengangkat tangan. Kemudian Reky memberi aba-aba pada Arlo untuk memulai melodi.
***************
“Reky! Buka pintunya, Ky! Tangan gue penuh,” ujar Dazaki yang saat itu sedang membawa nampan berisi minuman dan cemilan.
“Wah, jadi ngerepotin Za,” ucap Reky saat membukakan pintu.
“Nggak, kok.” Dazaki menyimpan nampan tersebut di atas meja kecil di ruang studio. Raja, Arlo dan Reky segera mengambil cemilannya.
“An! Minum dulu!” ajak Dazaki pada Ancient yang masih asyik memainkan keyboardnya.
“Iya. Eh, Ja! Jangan ngabisin jatah gue, dong!” jawab Ancient. Ia protes saat melihat Raja lagi-lagi mengambil cemilan di meja.
“Tenang, An! Dazaki punya banyak,” ujar Raja seenaknya.
Mereka terdiam beberapa menit, menikmati suguhan yang diberikan Dazaki seraya mendengarkan alunan musik dari keyboard yang Ancient mainkan. Sampai akhirnya Reky mulai angkat bicara.
“Oh, iya. Kita, kan ada ulangan semester dua minggu lagi.” Ucapnya.
“Benar, tuh. Kita harus sudah mulai belajar dari sekarang nih mestinya,” tambah Ancient. Ia mendekat dan mengambil minuman.
“Udahlah, belajar semalam aja juga jadi, kan?” timpal Raja, meremehkan.
“Ih! Nggak boleh tahu! Nanti kena remedial, lho.” Balas Ancient.
“Kalau menurut gue, kita nggak usah latihan dulu. Kalau udah selesai ulangan, baru kita lanjut lagi,” pendapat Dazaki.
“Setuju. Setuju. Nanti, kan kita bisa pakai liburan sekolah buat latihan band.” Tambah Ancient.
“Gimana, Lo?” tanya Reky pada Arlo.
“Menurutku juga baiknya kita istirahat dulu dari latihan dan mulai fokus belajar pada ujian. Nanti setelah ujiannya selesai, kita ketemuan lagi untuk membicarakan rencana latihan selanjutnya. Setuju semua?” jelas Arlo.
“Setuju...!” keempat temannya bersorak.
“Berarti ini latihan kita yang terakhir sebelum ujian, dong? Gue pasti kange sama lu, An.” Ucap Raja, ia masih saja menggoda Ancient.
“Kita, kan sekelas Raja. Masih ketemu...,” jawab Ancient seraya menyubit lengannya Raja. Reky, Arlo, dan Dazaki tertawa terbahak-bahak memperhatikan kedua temannya tersebut.
-to be continued-
“Kalian mau buat band?” tanya Ancient. Ia terlihat sangat tertarik.
“Iya. Rencananya, sih begitu kalau acara festival band benar-benar diadakan,” jawab Reky.
“Wah, festival band? Seru banget, tuh. Terus kalian mau ikutan?” tanya Ancient lagi.
“Ya, begitu deh. Cuma kita masih kita masih kurang personil. Lu mau ikutan?” tiba-tiba Reky langsung mengajak Ana.
“Boleh, nih? Emang siapa aja personilnya?”
“Baru kita berdua,” jawab Reky dan Arlo bersamaan. Jari mereka menunjuk satu sama lain dengan gaya konyolnya.
“Haha. Oke, deh. Gue ngikut. Main apa, ya gue?”
“Keyboard lah Ana,” jawab Reky dan Arlo lagi, masih bersamaan.
“Hehe. Iya ya. Berarti Arlo main gitar dan lu vokalist ya, Ky? Kita masih kurang basist sama drummer, dong?”
“Iya. Jadi kita mesti cari bassist dan drummer dulu,” jawab Arlo.
Ancient terdiam sejenak. Ia mengelus-elus dagunya, memikirkan sesuatu.
“Kalau buat bassist, kayaknya gue tahu deh siapa yang bisa,” gumamnya.
“Siapa?” tanya Arlo.
“Besok gue kasih tau, deh. Kalian kelas 2E kan?”
*****
Esok harinya saat istirahat pertama di sekolah.
“Permisi! Ada Arlo dan Reky, nggak?” Ancient mengunjungi kelas 2E dan bertanya pada seseorang anak perempuan yang duduk di bangku dekat pintu.
“Arlo dan Reky, ya?” gumam anak itu. Ia berdiri dan memperhatikan teman-teman sekelasnya.
“Kayaknya lagi keluar, deh.” Ujarnya memberi tahu Ancient.
“Oh, keluar ya? Oke. Makasih, ya. Ayo, Ja!” Ancient pergi dari kelas 2E seraya menarik lengan teman laki-laki yang sejak tadi berdiri di belakangnya. Anak laki-laki itu adalah teman sekelasnya bernama Raja.
“Kita mau kemana, An?” tanya Raja. Langkahnya tak seimbang karena Ancient menariknya cepat-cepat.
“Ketemu sama Reky dan Arlo,” jawab Ancient.
“Iya. Tapi pelan-pelan! Nanti kamu ketabrak...,”
BRUKH!
Tiba-tiba Ancient menabrak seorang anak laki-laki hingga ia dan orang yang tertabraknya terjatuh.
“Aduh. Sakiiiittt,” gumam Ancient.
“Eh, maaf-maaf. Gue nggak sengaja,” ujar anak laki-laki itu. Ia membantu Ancient berdiri.
“Nggak apa-apa. Gue juga nggak ngeliat jalan,”jawab Ancient. Ia membersihkan debu di pakaiannya.
“Apa gue bilang. Jalan pelan-pelan! Susah sih, dibilanginnya,” komentar Raja. Ancient tidak menanggapi komentar Raja tersebut. Ia masih sibuk membersihkan debu di pakaiannya.
“Ancient!” seseorang memanggil Ancient dari kejauhan. Saat Ancient menengok ke arah datangnya suara, di sana ada Arlo dan Reky sedang berlari kecil menghampiri.
“Hei, An! Katanya mau ngasih tau sesuatu?” tanya Arlo saat telah berada di hadapan Ancient.
“Iya. Nih, Raja. Yang bakalan jadi bassist kita,” jawab Ancient seraya menunjuk Raja.
“Bassist? Maksudnya?” tanya Raja tak mengerti.
“Kan, tadi udah gue jelasin. Di sekolah kita akan ada festival band, terus Arlo, Reky dan gue ingin ikutan, tapi kita masih kekurangan personil. Mau, ya jadi bassist di band kita, ya? Siapa lagi kalau bukan lo, Ja?!” jawab Ancient menjelaskan seraya mengubah-ngubah mimik wajahnya. Reky dan Arlo tertawa geli melihat ekspresi temannya itu.
“Band, ya?” Raja mengernyitkan dahi. Ia tak langsung menjawab ajakan temannya itu. Arlo dan Reky makin galau.
“Oke, deh. Asalkan nggak mengganggu pelajaran, ya.” Raja menyetujui. Arlo, Reky, dan Ana bersorak kegirangan.
“Selamat bergabung di band kita, Ja. Gue Arlo,” Arlo mengangkat tangannya. Raja membalas jabatan tangan Arlo.
“Gue Reky,” Reky juga memperkanlkan diri.
“Jadi, kapan mulai latihan?” tanya Raja begitu semangat.
“Ja! Drummer-nya belum ada,” jawab Ancient seraya menepuk bahu Raja. Raja menatap Arlo dan Reky. Mereka berdua menganggukan kepala, membenarkan pernyataan Ancient.
“Terus gimana?”
“Maaf!” terdengar suara seseorang dari samping mereka. Ternyata itu adalah anak laki-laki yang bertabrakan dengan Ancient.
“Aku Dazaki. Maaf, ya. Tadi, nggak sengaja mendengar percakapan kalian. Kebetulan, gue bisa main drumm. Kalau diizinkan, boleh nggak gue gabung band kalian?” anak bernama Dazaki itu menjelaskan.
Arlo, Reky, Ancient dan Raja yang tadinya terbengong kini saling pandang, kemudian mereka menatap pada Dazaki dan mengeluarkana senyum anehnya.
“KETEMU!” seru mereka bersamaan. Kemudian mereka bersorak-sorak kegirangan. Dazaki cuma bisa garuk-garuk kepala melihatnya.
-to be continued-
Sumber gambar:
littlerockersmusic.com
Pulang sekolah, Arlo mengikuti Reky menggunakan sepedanya. Mereka berkendara memasuki sebuah perumahan dan berhenti di sebuah rumah bercat biru muda dengan halaman kecil. Rumah itu dikelilingi pagar yang sedikit lebih tinggi dari tinggi mereka. Reky menekan bel yang berada di samping gerbang pagar. Tak lama kemudian keluar seorang laki-laki yang usianya 2 tahun lebih tua dari mereka. Ia membuka gerbang pagar.
“Eh, Reky. Ayo, masuk!” perintahnya.
“Makasih, Kak Aldy,” balas Reky.
Arlo dan Reky menuntun sepeda mereka memasuki gernbang pagar dan menyimpanya di samping halaman. Mereka mengikuti Aldy memasuki rumah dan mempersilahkan mereka duduk di sofa ruang tamu. Tak jauh dari sana terdapat sebuah keyboard yang sedang dimainkan oleh seorang anak perempuan sebaya Reky dan Arlo. Anak perempuan itu menggunakan earphone sehingga ia tak menyadari kedatangan mereka.
“Mainkeyboardnya jago banget,” batin Arlo.
“Duduk aja dulu, ya. Gue panggilkan Ancient,” ujar Aldy. Ia berjalan mendekati anak perempuan yang sedng bermain keyboard.
“Ancient! Teman lu udah datang tuh,” teriak Aldy. Tapi Ancient tak merespon. Sepertinya volume earphone yang ia gunakan cukup tinggi. Aldy menggeleng-gelengkan kepala. Ia menggeser earphone yang digunakan ancient.
“Ancient! Temen lu udah dataaannnggg...,” teriak Aldy di telinganya Ancient.
“Apa-apaan, sih Kak? Berisik tahu,” Ancient terperanjat dan spontan menutup telinganya yang diteriaki Aldy.
“Makanya, pakai earphone tuh jangan keras-keras suaranya. Teman lu tuh udah datang.” Aldy menunjuk Arlo dan Reky.
“Oh. Oke, deh. Thanks, ya Kak.”
Aldy berjalan meninggalkan Ancient dan memasuki kamarnya. Ancient merapikan earphone yang tadi ia gunakan,kemudian berjalan mendekati Reky dan Arlo. Ia duduk di sofa samping Reky dan Arlo.
“Kenapa, Ky?” tanya Ancient.
“Mau nanya PR matematika, dong. Boleh nggak?” ujar Reky sambil cengar-cengir.
“Boleh, kok. Boleh. Slow aja kali!” jawab Ana.
“Oh, iya. Aku juga bawa teman sekelasku, nih. Namanya Arlo,” ucap Reky, memperkenalkan Arlo.
Arlo dan Ancient berjabat tangan memperkenalkan namanya masing-masing. Kemudian mereka memulai berdiskusi untuk mengerjakan PR matematika. Saat mengerjakan PR-nya, pikiran Arlo dan henti-henti memutar ulang gambaran Ancient saat sedang memainkan keyboard tadi. Menurutnya, permainan Ancient sangatlah cocok dalam band yang akan dibentuk olehnya dan Reky.
“Ky!” panggil Arlo tiba-tiba di tengah diskusi.
“Hm?” respon Reky. ia sedang serius mengerjakan PR matematika-nya.
“Ancient mau nggak, ya kalau ikut band kita nanti? Lu ajak dia, dong! Lu kan udah kenal Ancient duluan daripada gue,” pinta Arlo.
“Arlo, kita ke sini buat ngerjain PR matematika. Bukan buat ngomongin band,” jawab Reky.
“Band apa?” tanya Ancient. Rupanya ia mendengarkan pembicaraan Reky dan Arlo.
-to be continued-
Yooo... this is it. Cerita bersambung writer selanjutnya. Hohoho..
Gak nyangka banget bisa menyelesaikan cerita bersambung yang pertama. Yap, THE BEAUTIFUL OF FRIENDSHIP sudah berakhir di Chapter 29 ( kalau yang mau baca, bisa klik di sini.
Selanjutnya inilah cerita bersambung writer yang kedua.
Hmm, rencananya sih writer mau terbitkan dua cerbung sekaligus. Ada lagi nih cerita petualangan gitu yang pernah writer tulis pas masih SMP. Oh iya, RADAR BAND juga writer tulis pas masih SMP loh. Maaf banget baru bisa terbit online sekarang. Hehehe.
Ya, silahkan di nikmati dah ya. Hihihihi.
------
RADAR BAND – CHAPTER 1
JREEENNNGG!!!
Suara dawai gitar yang dipeti oleh jari-jemari Arlo. Gerakan jarinya semakin lincah. Bermain gitar adalah hobinya. Semenjak Pak Kazarlo, ayahnya, membelikan gitar untuknya 2 tahun lalu, ia tak pernah sekali pun absent latihan. Meskipun begitu, ia tak pernah tinggi hati karena bakatnya.
“Arlo! Bisa bantu Bunda?” pinta Bu Kazarlo, ibu Arlo, memanggil dari dapur.
Arlo merngenyitkan dahinya.
“Baru satu petik, udah dipanggil aja.” Batin Arlo. Ia taruh gitar kesayangannya itu kemudian menuju dapur.
“Iya Bunda. Arlo ke dapur.”
**********
Di sekolah Arlo, bel istirahat kedua baru saja berbunyi. Reky, teman sekelas Arlo, mendekat saat ia sedang memasukan buku-bukunya.
“Hei, Arlo! Kok, lemas banget sih?” tanya Reky. Teman Arlo yang memiliki nama lengkap Reky Randy ini punya suara yang merdu, lho.
Arlo menghela nafas panjang.
“Memang kenapa, Ky?”
“Pasti lagi BT, ya? Masih muda jangan kebanyakan BT. Nggak baik buat kesehatan,” jawab Reky belagak menasehati.
“Oh, iya Lo! Gue dapat bocoran dari Pak Ricky. Katanya sekitar empat atau lima bulan lagi bakalan ada festival band. Lu mau ikutan, gak?” tanya Reky kemudian.
“Festival band? Dalam rangka apa?”
“Kurang tau, sih. Tapi, bukannya kamu pernah bilang ingin membuat band?”
“Hm, iya juga sih. Kalau misalnya jadi acaranya, boleh deh.” Arlo kembali bermalas-malasan di bangkunya.
“Lu kenapa, sih? Lemes amat?”
“Gue nggak ngerti PR matematika tadi, nih. Besok dikumpulkan lagi.”
“Ya, elah. PR tadi, tuh gampang kali. Nanti pulang sekolah, lu ikut sama gue deh! Kita ke rumah Ancient,” ajak Reky.
“Ancient kelas 2A? Ngapain?” tanya Arlo.
“Ya, ngerjain PR matematika, lah. Dia tuh, pinter banget tahu. Soalnya gue juga nggak ngerti PR matematika tadi. Hehe...,” jawab Reky seraya menggaruk-garuk kepalanya.
-to be continued-
Senin pagi saat Ira hendak memakai sepatu untuk berangkat sekolah, terlihat kesibukan di rumah tetangganya yang telah lama kosong. Truk pengangkut barang terparkir di halaman dan beberapa orang mengangkut barang-barang ke dalamnya. Sepertinya ada keluarga yang pindah ke sana. Ira menjadi teringat pertanyaan Fami, saat ia pertama kali mengikuti Ira ke rumah.
“Itu rumah kosong, Ra?” tanya Fami.
“Iya. Kamu tinggal di sana aja, Fam!” jawab Ira.
“Lho, kenapa?”
“Kan bisa ketemu teman-temanmu... Hihihihi....” Ira memeragakan gaya hantu yang sedang menakut-nakuti.
“Aku bukan hantu tau...,” jawab Fami seraya menjulurkan lidah.
PAK!
Ira memukul pipinya. Ia berusaha mengendalikan diri, kalau tidak ia akan kembali menangis saat mengingat Fami. Ira menarik nafas dalam dan menghembuskannya kembali. Ia berusaha sekuat tenaga untuk mengikhlaskan kepergian Fami.
“Bu, aku pamit ya!” serunya saat hendak berangkat sekolah.
******
Saat Ira memasuki kelas, rupanya Irfani, Irfan dan Lara sudah datang terlebih dahulu. Mereka sedang bersenda gurau membicarakan sesuatu.
“Pagi semuanya,” sapa Ira seraya tersenyum riang. Ia menyimpan ransel di bangkunya.
“Lho, kok, nggak pada jawab?” tanyanya kemudian saat ia tak mendengar jawaban dari ketiga temannya itu. Mereka justru diam membeku memperhatikan Ira yang terbengong kebingungan. Sampai akhirnya Irfani melompat merangkul Ira.
“Ira...! Akhirnya kamu ketawa lagi,” ujar Irfani, melompat kegirangan saat memeluk Ira. Ia begitu senang mengetahui temannya kembali tersenyum.
“Haha, iya. Maaf, ya udah membuat kalian khawatir,” jawab Ira.
“Syukurlah. Aku pikir kau akan terus cemberut selamanya,” ujar Lara. Ira hanya tertawa saja menjawabnya.
“Udah nggak apa-apa, sekarang?” tanya Irfan. Ira tersenyum dan mengangguk.
****
Pada jam istirahat pertama, Ira bermaksud untuk berkunjung ke kelas Ana. Ia ingin mengucapkan terimakasih. Jika saja Ana tak mengunjunginya waktu itu, mungkin ia masih bersedih hingga saat ini. Meski pun Ira tak bisa memberikan apa-apa sebagai balasan, setidaknya Ana tahu bahwa ia kini dapat menerima keadaannya. Ketika, Ira sedang berjalan menuju kelas Ana, ia melihat Irfan di hadapannya.
“Irfan!” panggil Ira. Ia berlari kecil mendekati Irfan.
Irfan memutar tubuhnya, menghadap Ira.
“Eh, Ira. Ada apa?”
“Kamu mau ketemu, Ana kan? Barenglah. Aku juga mau ke sana,” jawab Ira saat telah di hadapan Irfan.
“Boleh. Ayo!” Irfan memutar tubuhnya kembali dan mulai berjalan. Ia memperhatikan Ira sepanjang perjalanan. Ira terlihat lebih ceria dari minggu sebelumnya.
“Ira kayaknya senang banget hari ini?” tanyanya kemudian.
“Oh, ya?” Ira menjawab dengan cengar-cengir.
Irfan kembali memperhatikan jalannya. Mereka hampir tiba di kelas Ana. Dari kejauhan Irfan dapat melihat Ana sedang bersenda gurau di depan kelas bersama seorang teman lelakinya. Irfan tak dapat melihat wajah lelaki tersebut karena posisinya yang membelakangi mereka. Ana terlihat begitu akrab dengannya.
“Lho, Irfan. Kok, kamu berhenti?” tanya Ira saat ia menyadari Irfan tertinggal olehnya.
Rupanya Ana menyadari kedatangan Ira dan Irfan saat itu.
“Irfan! Ira! Cepat kemari!” teriak Ana seraya melambaikan tangan.
Tiba-tiba Irfan berjalan cepat dan meninggalkan Ira. Ia menyelipkan diri diantara Ana dan teman lelakinya. Ira yang tadinya bengong atas apa yang dilakukan Irfan, kini mulai mengerti.
“Hoo, cemburu toh,” gumam Ira sambil cekikikan. Ia berjalan mendek saat Ana hendak memperkenalkan temannya tersebut.
“Kenalin! Ini....”
“Irfan. Pacarnya Ana,” potong Irfan. Ia menjulurkan tangannya kepada laki-laki itu. Ira kembali cekikikan melihat tingkah laku Irfan. Laki-laki itu membalas jabatan tangan Irfan.
“Aku sepupunya Ana, namaku Fami.” Ujarnya.
“Oh, sepupu toh.” Irfan menggaruk-garuk kepalanya. Wajah Irfan memerah malu.
“Fami?!” seru Ira.
Merasa namanya dipanggil, Fami menoleh ke arah Ira.
Ira terkejut. Fami yang kini di hadapannya mirip dengan Fami yang bertemu dengannya di gudang sekolah dulu. Tapi, bagaimana ini bisa terjadi? Apakah mereka Fami yang sama. Tapi, tidak mungkin.
“Hai, Ira! Bagaimana kabarmu? Ini aku, Fami.” ucap Fami.
“Bagaimana bisa?” gumam Ira. Ia memperhatikan Fami dengan tatapan tak percaya.
“Hei, Ira! Apa kau pernah bertemu dengan Fami sebelumnya? Anak ini terus-menerus menanyakanmu sejak ia bangun seminggu yang lalu,” jelas Ana. Ia menarik-narik kerah kemeja Fami agar tubuh Fami yang tinggi membungkuk dan sejajar dengannya.
“Bangun? Maksudnya gimana?” tanya Irfan.
“Fami mengalami kecelakaan tepat saat pergantian semester tahun ini dan menyebabkannya koma selama tiga bulan lebih, dan baru sadar minggu lalu. Saat aku menemuinya, ia langsung menanyakan keeadaanmu, Ra. Apa kalian pernah bertemu?” jelas Ana.
“Sudah kubilang bukan begitu. Aku bermimpi bertemu Ira di gudang sekolah ini. Aku juga mengikuti Ira fieldtrip dan melaporkan kasus perampokan pada polisi dua minggu lalu,” jelas Fami.
“Benarkah?” tanya Irfan lagi.
“Sudah kubilang, kan, nggak mungkin kamu bermimpi seperti itu. Fieldtrip dan perampokan itu kita benar-benar mengalaminya, dan Ira yang melapor pada polisi,” tambah Ana lagi.
“Sebenarnya...,” Ira angkat bicara.
“Sebenarnya, bukan aku yang melaporkan perampokan itu pada polisi. Tapi Fami yang melakukannya. Karena saat itu, hanya aku saja yang dapat melihat dan mendengar Fami, makanya Fami memintaku untuk bilang kalau aku yang melapor.” Ira menjelaskan.
“Iya. Tepat seperti yang Ira katakan,” dukung Fami.
“Jadi, kau Fami yang itu?” tanya Ira kemudian. Matanya mulai berkaca-kaca.
Fami tersenyum. Ia pun mengangguk.
Ira berlari mendekati Fami dan memeluknya. Air matanya menitik perlahan. Ia bersyukur dipertemukan lagi oleh Fami yang selama ini dirindukannya. Bahkan ia dapat menyentuhnya. Fami benar-benar nyata sekarang.
“Jadi, mulai besok kita bisa pulang bareng. Yee!” seru Fami tiba-tiba.
“Pulang bareng? Ah! Jadi yang tadi pagi pindahan ke rumah sebelah itu keluargamu?” tanya Ira. Fami mengangguk sambil senyum-senyum. Mereka kembali berpelukan.
-tamat-
Rencana perampok-perampok tersebut berhasil digagalkan. Pak Mazie meminta rekannya untuk membawa mereka menuju kantor polisi. Lara dan keluarganya dapat merasa aman sekarang.
“Terimakasih, Pak! Kami sekeluarga benar-benar mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya,” ujar Pak Dama pada Pak Mazie.
“Berterimakasihlah pada Tuhan dan seseorang yang melapor pada kami bahwa telah terjadi perampokan di rumah ini. Tanpanya, tentu kita tak mungkin datang tepat waktu,” balas Pak Mazie.
“Siapa, Pak yang melapor?” tanya Bu Dama.
“Kalau tidak salah, seorang anak perempuan bernama Ira, menelepon kami dan melaporkan perampokan ini,” jawab Pak Mazie.
“Aku?” tanya Ira. Lara segera menghampiri Ira dan memeluknya.
“Terimakasih Ira. Terimakasih semuanya,” ucap Lara. Ia melepaskan pelukannya.
Ira bingung. Ia sama sekali tak menelepon polisi. Tapi, bagaimana Pak Mazie bisa berkata kalau ia yang memanggil polisi?
“Iya, iya. Tapi aku nggak...,” Ira mencoba mengonfirmasi, kata-katanya terpotong saat Fami muncul di hadapannya.
“Aku yang menelepon, Ra. Aku menggunakan nama dan suaramu,” ujar Fami.
“Nggak kenapa, Ra?” tanya Lara.
“Nggak kenapa-kenapa, kok. Iya, sama-sama ya Lara,” jawab Ira sambil cengar-cengir. Tentunya nggak akan ada yang mempercayai jika ia katakan ada roh yang menyamar menjadi dirinya untuk menelepon polisi, kan?
“Baiklah, Pak! Kami permisi dulu,” pamit Pak Mazie.
“Sekali lagi, terimakasih banyak, Pak.” Balas Pak Dama. Beliau berjabat tangan dengan Pak Mazie sebelum memasuki mobil patrolinya.
*****
Lima hari kemudian.
“Ira! Ayo, berangkat bareng aku!” Lara memanggil Ira dari dalam mobilnya saat ia melihat Ira sedang berjalan menuju sekolah. Ia meminta supir untuk menepikan mobilnya.
“Nggak usah, La. Aku jalan saja,” tolak Ira.
“Udah, nggak apa-apa. Ayo!” Lara turun dari mobil dan menarik Ira masuk ke dalam mobil. Akhirnya Ira menurut dan mengikuti Lara.
Selama di dalam mobil, Ira hanya diam. Ia tak terlalu merespon Lara yang mengajaknya mengobrol.
“Kamu kenapa, Ra? Kok, murung? Lagi ada masalah, ya?” tanya Lara kemudian.
“Nggak apa-apa, kok La. Thanks ya udah nebengin,” jawab Ira. Ia menarik bibirnya dengan paksa agar terlihat tersenyum. Lara jadi bingung mesti bagaimana.
Tak lama kemudian, mereka sampai di depan gerbang sekolah. Lara dan Ira turun dari mobil dan bersama-sama berjalan menuju kelas. Rupanya Irfan dan Irfani sudah berada dalam kelas.
“Pagi, Ira dan Lara.” Sapa Irfan. Ira hanya menjawab dengan senyum saat melewati Irfan.
“Pagi juga Irfan,” jawab Lara.
“Ira! Lara! Irfan jadian sama Ana, lho,” ujar Irfani tiba-tiba.
“Ssstt! Irfani, jangan ribut-ribut!” irfan menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.
“Wah, beneran? Traktiran, ya traktiran,” ucap Lara.
“Selamat ya, Irfan,” ucap Ira. Ia mengatakannya dengan nada yang lemah dan sangat tak bersemangat. Irfan, Irfani, dan Lara yang tadinya bercanda jadi ikut terdiam. Ira tak seperti biasanya, itulah yang mereka simpulkan.
Saat jam istirahat, Irfan menceritakan keadaan Ira pada Ana.
“Ira sama sekali nggak cerita?” tanya Ana. Irfan menggelengkan kepalanya.
“Dari kapan Ira seperti itu?” tanya Ana lagi.
“Dua atau tiga hari belakangan ini lah,” jawab Irfan. Ia menyeruput es jeruk yang dibelinya.
“Hm, kenapa ya?”
“Coba kamu ke rumahnya, besok sabtu atau minggu! Siapa tahu kalau sama kamu, Ira mau cerita.”
“Oke, deh.”
Esoknya, Ira masih memasang wajah murung. Sepulang sekolah, ia langsung masuk ke kamarnya dan tidak keluar sampai sore hari. Ibunya mulai merasa khawatir.
“Ira! Makan siang dulu, sayang!” panggil Bu Nazar. Ia mengetuk pintu kamar Ira.
“Nanti saja, Bu.” Jawab Ira dari dalam kamarnya. Ia kembali menutup wajah dengan bantal, mencoba menahan air matanya. Banyak yang ia pikirkan empat hari belakangan ini. Tapi tak kunjung juga menemui jalan keluar. Ditambah ia tak dapat melakukan apa pun untuk memecahkan masalahnya itu. Hal tersebut menambah kesedihannya.
“Ira!”
Seseorang memanggil. Ira menyingkirkan bantalnya dan melihat arah datangnya suara.
“Ana? Kok, kamu bisa masuk?” tanya Ira. Ia mengusap-usap wajah agar tak terlihat seperti setelah menangis.
“Pintunya nggak terkunci, kok.” Jawab Ana.
Ira menatap pintu kamarnya. Rupanya ia lupa untuk mengunci pintu tersebut. Tapi, tetap saja, bagaimana Ana bisa masuk ke kamarnya tanpa menimbulkan suara sedikit pun?
“Ada perlu apa kemari?” tanya Ira sedikit terganggu.
“Aku tahu, mungkin kamu sedang ingin sendirian sekarang. Tapi, kalau sampai nggak makan, nanti tubuhmu bisa sakit, lho.” Ana mendekati Ira dan duduk di tepi ranjangnya. Ia menyimpan kotak makan yang Bu Nazar siapkan untuk makan siang Ira di meja dekat ranjang.
“Aku nggak lapar,” jawab Ira lirih. Ia kembali menundukkan kepala. Ana memperhatikan mimik wajah Ira yang kacau. Seperti merasa kehilangan.
“Kamu nggak cemburu, kan aku jadian sama Irfan?” tanya Ana tiba-tiba. Ira tertegun.
“Eh? Nggak kok, nggak. Bukan karena itu. Aku ikut senang atas jadiannya kalian,” jawab Ira. Ia memaksakan diri untuk tersenyum,
“Hehe, becanda kok, becanda.” Ujar Ana sambil cengar-cengir.
“Tapi, ya Ra. Menurutku, nggak usah berlarut-larut sedih hanya karena ditinggal seseorang kan?”
“Kok, kamu tahu?”
“Jadi, tebakanku benar, ya? Siapa, Ra? Mau cerita kepadaku?” tanya Ana.
Ira tak langsung menjawab. Ia berjalan mendekati meja belajarnya dan mengambil selembar kertas yang terlipat. Ia memberikan lembaran itu kepada Ana.
“Surat?” Ana membuka lembaran tersebut dan membaca isinya hingga selesai. Surat berisi ucapan selamat tinggal dari seseorang yang ditujukan pada Ira. Jadi, inikah yang belakangan ini Ira pikirkan? Pengirimnya...,
“Fami?”
“Aku bertemu dengannya saat terkurung di gudang sekolah. Ia selalu membantuku, bahkan saat aku dijauhi oleh teman-temanku sampai kasus di rumah Lara kemarin. Fami masih ada. Sampai lima hari yang lalu, aku temukan surat ini dan Fami nggak pernah muncul lagi.” Ira menangis.
Ana mendekati dan memeluknya. Ia sebenarnya tidak begitu mengerti yang dibicarakan oleh Ira. Jika Fami ini selalu bersama Ira, bahkan saat kasus perampokan di rumah Lara tempo hari, seharusnya Ana bertemu dengannya. Tapi, yang Ana tahu, hanya ia, Ira, Irfan dan Irfani yang berada di sana. Namun, jika Fami ini hanya khayalan Ira, kenapa perasaan Ira terasa begitu nyata?
“Sabar, ya Ra. Semua yang hilang pasti ada penggantinya,” hibur Ana.
-to be continued-