Cute Brown Spinning Flower
Tampilkan postingan dengan label Radar Band. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Radar Band. Tampilkan semua postingan

4.5.20

Terimakasih Penulis dan Karakter


Writer: Ana Fitriana

Terimakasih Penulis
1.      Band di SMP N 1 Anyar tahun 2006-2007
Ø  Mars Band
Ø  Apel Band
Ø  Hipotenusa Band
Ø  Ladys Band
Ø  Blue Band
Ø  Sistem Band
Ø  Penyakit Band
Ø  Bluetooth Band
Ø  Toilet Band
2.      Ungu Band
Untuk lagu:
-        Demi Waktu
-        Laguku
-        Ciuman Pertama
-        Berjanjilah
-        Bayang semu
-        Melayang
3.      Nidji Band
Untuk lagu:
-        Hapus Aku
-        Disco Lazy Time
-        Kau dan Aku
4.      Kapten Band
Untuk lagu:
-        Lagu Sexy
5.      Dewa Band
Untuk lagu:
-        Angin
6.      Radja Band
Untuk lagu:
-        Yakin
-        Angin
-        Tak Ada yang Sempurna
7.      Andra ‘n the BackBond
Untuk lagu:
-        Musnah
8.      Tahta Band
Untuk lagu:
-        Tempat yang Paling Indah
9.      Flanela Band
Untuk lagu:
-        Aku bisa
10.   The Fly Band
Untuk lagu:
-        Mencintaimu (keangkuhanku)

Karakter:
1.      Marlo Kazarlo (Arlo); Gitaris Radar, 14 tahun, mc
2.      Rezky Randy (Reky); Vokalis, 14 tahun, teman sekelas Arlo
3.      Anda Zaki Febra (Dazaki); Drummer, 14 tahun, teman sekolah Arlo
4.      Raja Amonda (Raja); Bassist, 14 tahun, teman sekolah Arlo
5.      Ancient Fyahran (Ancient); Keybordist, 14 tahun, teman sekelas Raja
6.      Welvy; sahabat Ancient, 14 tahun, teman sekelas Ancient
7.      Arola; sahabat Ancient, 14 tahun, teman sekelas Ancient
8.      Sahra; sahabat Ancient, 14 tahun, teman sekelas Ancient
9.      Aldy; kakak sepupu Ancient, kelas 2 SMA
10.   Arie; kakak Dazaki, pemilik Zarie Studio, Mahasiswa semester 1
11.   Pasha; pemilik studio samping sekolah Arlo
12.   Pak Ricky; guru kesenian di sekolah Arlo
13.   Bu Novita; guru di sekolah Arlo
14.   MC Girie; pembawa acara pensi senior, kelas 2 SMP
15.   MC Oby; pembawa acara pensi junior, kelas 1 SMP
16.   Rico; Vokalis Mars Band, kelas 3 SMP
17.   Lala; teman sekelsa Arlo dan Reky
18.   Toya; Vokalis Logo Band, kelas 3 SMP
19.   Levy; Bassist Logo Band, kelas 3 SMP
20.   Orgarus; Keyboardist Logo Band, kelas 3 SMP
21.   Ikrar; Gitaris Logo Band, kelas 3 SMP
22.   Afrizy; Drummer Logo Band, kelas 3 SMP

RADAR BAND - Chapter 16

Sumber : static.turbosquid.com


Hiburan demi hiburan telah ditampilkan. Hingga akhirnya tiba saat pengumuman pemenang Festival Band. MC Girie dan MC Oby sudah naik kembali ke atas panggung dan siap mengumumkan hasil penilaian juri dari perlombaan ini.
“Ok! Di tangan kamu sudah ada nama-nama pemenang Festival Band kali ini,” ucap MC Girie sambil mengibas-ngibaskan kartu yang dipegangnya.
“Kira-kira siapakah yang akan menjadi pemenangnya?” tanya MC Oby sambil berteriak dan mengacungkan mic ke arah penonton. Riuh suara sorak siswa dan siswi menyebutkan band favoritnya masing-masing.
“Ok! Ok! Tenang  semuanya! Tenang!” MC Girie menaikan tangannya dan membuat tanda agar penonton menjadi tenang.
“Langsung aja kayaknya nih, Kak. Kita umumkan pemenangnya,” saran MC Oby.
“Juara ketiga Festival Band diraih oleh…,” MC Girie memotong kata-katanya. “Mars Band!” lanjutnya.
Sorak penonton mengiringi vokalis Mars Band, Rico, saat maju dan naik ke atas panggung sebagai perwakilan timnya untuk menerima hadiah. Ia berdiri di antara kedua MC.
“Juara kedua Festival Band diraih oleh…,” kini MC Oby yang memberikan pengumuman. “Logo Band!” lanjutnya.
Penonton langsung bersorak terkejut karena Logo Band diprediksi akan menjadi juara pertama Festival Band ini. Begitu pun dengan para personil Radar Band.
“Kok, Logo Band juara kedua?” tanya Arlo.
“Juara pertamanya pasti kalian,” jawab Welvy dengan percaya dirinya.
“Kayaknya gak mungkin deh, Vy. Masih ada Blue Band dan Bluetooth Band kan yang tadi tampil bangus banget,” bantah Raja.
“Nggak ada yang nggak mungkin, Raja,” balas Sahra.
Sementara MC Girie dan MC Oby kembali bersiapa untuk mengumumkan juara pertama Festival Band, setelah Toya, vokalis Logo Band naik ke atas panggung dan berdiri di samping Rico.
“Dan akhirnya, akan akita umumkan…,” suara MC Girie.
“Juara pertama Festival Band diraih oleh…,” saut MC Oby. Kedua MC menarik nafas mereka dan mulai memberikan aba-aba menghitung.
“Radar Band!” seru keduanya kemudian.
Seluruh personil Radar Band terkejut mendengarnya. Sorak sorai penonton lebih ramai dari biasanya, beberapa ada yang memelingkan pandangan ke tempat berkumpulnya personil Radar Band smabil bertepuk tangan.
“Ky! Maju, Ky!” Arlo mendorong Reky untuk mewakilkan mereka ke atas panggung.
“Kamu aja, deh Lo!” jawab Reky.
“Lha, kok. Aku?”
“Udah. Maju aja, deh Lo!” tambah Raja.
“Iya. Maju aja, Lo!” dukung Dazaki.
“Lha, kenapa nggak Reky aja?”
“Kita ingin kamu yang terima, Lo. Udah sana maju, wakilkan kita-kita ya!” jawab Ancient.
“Ya udah, deh.” Akhirnya Arlo berjalan mendekati dan naik ke atas panggung. Ia berdiri di samping Toya yang segera menjabat tangannya dan meberikan ucapan selamat, begitu juga Rico.
“Pak Ricky, silahkan untuk menyerahkan hadiah kepada para pemenang!” pinta MC Oby kepada Pak Ricky sebagai juri. Hadiah diberikan satu persatu kepada pemenang mulai dari juara ketiga hingga juara pertama.
“Untuk semua personil Radar Band harap naik ke atas panggung!” ucap MC Girie saat pemberian hadiah dilakukan.
“Terimakasih Pak,” ucap Arlo seraya menyalami Pak Ricky saat memberikan hadiah. Ia menoleh kea rah kirinya, rekan-rekannya telah berjalan naik ke atas panggung.

*******

“Tak terasa, berakhirlah Festival Band kali ini. Kami mengucapkan terimakasih banyak kepada seluruh peserta yang ikut berpartisipasi,” ucap MC Girie.
“Terimakasih kepada juri, panitia, dan para penonton yang sangat mendukung jalannya acara ini,” lanjut MC Oby.
“Kami berdua mohon pamit dan maafkan bila ada salah-salah kata.”
“Dan inilah penampilan dari pemenang Festival Band kita...”
“Radar Band!” seru kedua MC, kemudian berjalan menuruni panggung digantikan oleh personil Radar Band yang sudah siap dengan instrumennya masing-masing untuk membawakan lagu penutup.
“Sebelumnya, kita semua mau mengucapkan terimakasih kepada kalian semua yang telah mendukung. Tanpa kalian kita bukanlah apa-apa,” ucap Reky, sok bijak. Teman-temannya tertawa geli melihat tingkah temannya itu. “Langsung aja satu lagu untuk kalian: ‘Tak Ada yang Sempurna’!” serunya.
Setelah aba-aba dari Dazaki, intro lagu ‘Tak Ada yang Sempurna’-nya Radja dimainkan, menyusul vocal Reky mengisi intro tersebut.

Bilang saja bila kau tak suka
Daripada kau berdusta
Bilang saja bila kau tak mau
Daripada kau membisu
Jangan pernah engkau bohong, bohong, bohong lagi
Bisa-bisa kau rugi sendiri
Lebih baik engkau terus terang saja
Agar tak membuatku gila

Reff:
Tak akan mungkin malam selamanya gelap
Masih ada waktu melakukan yang terbaik
Taka da manusia yang sempurna.. oh..
Cuma hanya bisa melakukan rencana

“Thanks All!” seru Reky di akhir lagu.

- Tamat -



RADAR BAND - Chapter 15

Sumber: anitrendz.net

Sorakan dan tepuk tangan penonton menyambut naiknya seluruh personil Radar Band ke atas panggung, tak kalah ramai dari Logo Band. Para personil Radar Band langsung menempati posisinya masing-masing. Setelah mengetes mic, Reky mulai angkat bicara.
"Nggak usah pakai lama. Radar di sini bakal buat telinga panas kalian, jadi lebih panas. Pastinya lewat lagu 'Mencintaimu (keangkuhanku)'!". Dimulailah lagu milik 'The Fly' tersebut yang dibawakan oleh Radar Band.

            Mencintaimu…
            Membunuh keangkuhanku…
Kehadiranmu…
Membius hatiku
                         Ajari aku…
Hapuskan mimpi burukku
Mencintai dirimu…
Cintaku S’lamanya.

“Wah, ternyata kebih heboh dari waktu latihan!” seru Arola pada kedua temannya.
“La, kamu gak ambil gambarnya?” tanya Sahra.
“Mereka sih nggak usah difoto, udah kefoto sendiri!” jawab Arola. Sahra dan Welvy saling bertatapan, tidak paham dengan ucapan Arola.
Setelah lagu selesai, sorakan dan tepuk tangan penonton mengirinya. Setelah sorakan agak mereda, Reky segera mengumumkan lagu kedua mereka.
“Selanjutnya, sebuah lagu yang akan mendinginkan telinga kalian. Radar akan ajak ke ‘Tempat Paling Indah’! teriaknya. Intro lagu ‘Tempat Paling Indah –Tahta’ segera dimainkan.
Tepuk tangan penonotn kembali riuh ketika Reky mulai bernyanyi. Suaranya memang mirip dengan vokalis band Tahta, yaitu Phewe. Tapi itu menurut Arola, Sahra, dan Welvy saja. Hehehe…
“Tuh, benar kan? Suara Reky emang mirip vokalisnya Tahta. Nggak ada bandingannya,” ujar Arola.
“Nggak, La. Suara Reky kalau nggak dibarengin sama permainan gitarnya Arlo, nggak sebagus kayak gini,” bantah Welvy.
“Sorry ya, La, Vy. Vokal Reky dan gitarnya Arlo nggak akan seimbang kalau gak ada bass-nya Raja,” ucap Sahra. Akhirnya mereka menjadi sibuk mempertahankan pendapatnya masing-masing daripada memperhatikan penampilan Radar Band.
“Ssssstttt!” seru Lala yang ada di sekitar mereka. “Bisa diam gak ,sih? Lagi nonton nih,” tegurnya. Welvy, Arola, dan Sahra langsung diam dan kembali memperhatikan ke depan.

Ku lelaki yang tak bisa menangis
Apa yang harus kulakukan?
Bila kau menjadi milikku
Kan kurelakan semua
Sesak hidupku
‘Kan kujadikan kau ratuku
Di tempat yang paling indah
Di tempat yang paling indah
Di hidupku…

Permainan gitar Arlo mengiringi intro reff pertama membut tepuk tangan penonton tak terhindari. Penonton terus ikut bernyanyidan menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama hingga lagu berakhir.
“Waw! Waw! Waw! Tepuk tangan untuk Radar Band!” teriak MC Girie seraya memasuki panggung tepat setelah lagu selesai. Personil Radar Band melepaskan alat-alat musiknya dan mulai beranjak turun dari panggung.
“Thanks banget buat Radar Band, ya. Udah sabar banget,” ujar MC Oby yang berjalan mengikuti MC Girie.
“Lho, sabar kenapa By?” tanya MC Girie.
“Sabar nungguin penampilannya. Giliran terkahir kan mereka,” jawab MC Oby.
“Oh, iya yak!” balas MC Girie.
“Sambil menunggu penilaian juri nih, Kak Girie. Gimana kalau kita langsung aja ke acara hiburan?” tanya MC Oby.
“Nah, benar. Setuju banget. Kalau gitu langsung kita panggil aja ya… Hiburan pertama…,”

- to be continued -


4.11.18

RADAR BAND - Chapter 14

Image by narutocosplayers.com


Sabtu, pukul 10.00 pagi, Final Festival Band telah di mulai. Seluruh siswa telah memenuhi halaman sekolah untuk melihat aksi dari band jagoan mereka masing-masing. Sebagian besar dari mereka membawa berbagai macam alat dokumentasi, baik kamera digital, handphone, DSLR, dan lain-lain. Begitu pun Sahra, Welvy, dan Arola yang masih mondar-mandir mencari tempat duduk kosong. Hingga Sahra melihat Ancient yang sedang duduk di salah satu bangku panjang yang belum terisi.
“Lho, An. Kok, nggak gabung sama yang lain?” Tanya Sahra seraya duduk di samping Ancient. Welvy dan Arola mengikutinya.
“Memang Kenapa? Santai aja lagi,” jawab Ancient.
Rupanya kedua MC sudah stand by di atas panggung untuk membuka acara Final Festival band ini.
“Halo semuanya!” teriak MC Girie.
“Bertemu lagi dengan kita, ya. Kali ini di acara Final Festival Band,” sambung MC Oby. “Dari 15 band yang mengikuti acara ini, terpilih tujuh band untuk bersaing lagi di final kali ini,” lanjutnya.
“Kita sebutin satu-satu ya nama band-nya,” ujar MC Girie, kemudian melihat kertas catatan yang sejak tadi di pegangnya, begitu pun MC Oby.  “Band yang akan bersaing di final kali ini adalah...  Mars Band!”
“Blue Band!” lanjut MC Oby.
“Bluetooth Band!”
“Charlie Band!”
“Violet Band!”
“Logo Band! Dan…”
“Radar Band!” seru kedua MC bersamaan seraya bertepuk tangan sehingga penonton pun mengikuti mereka.
“Kita langsung saja, band yang pertama tampil di final ini… kita panggil…,” MC Girie memberikan aba-aba.
“Mars Band dengan Hapus Aku,” lanjut MC Oby kemudian memanggil band beserta lagu yang akan di bawakan.
Tepuk tanga penonton memenuhi seluruh halaman sekolah saat satu persatu personil dari Mars Band keluar dari belakang panggung. Setelah semua personil berada di posisi, mulailah lagu Hapus Aku-nya Nidji.
“Hi, An!” panggil Dazaki yang muncul di samping Ancient. “Menurut kamu, gimana Mars Band?” tanyanya kemudian.
“Keren,” jawab Ancient singkat. “Btw, yang lain mana, Za?”
“Itu di belakang,” Dazaki menunjuk arah belakang dengan jempolnya. Saat Ancient menengok, Reky yang berdiri bersama Arlo dan Raja melambaikan tangannya.

******

Prok! Prok! Prok!
Sorakan dan tepuk tanga penonton menyambut selesainya band keenam yang tampil di final, Logo Band dengan lagu Ciuman Pertama dari Ungu yang mereka bawakan.
“Oke, terimakasih semuanya!” ucap Toya, sang vokalis, mengumumkan lagu kedua yang akan mereka bawakan. “Lagu kedua dari kita yaitu Melayang, yang akan buat kalian semua melayang bersama Logo Band!” serunya seraya memberikan aba-aba kepada teman-temannya untuk memulai intro lagu Melayang-nya Ungu tersebut.
                Kini ku terbang, melayang
                Mencoba kepakan sayap
    Kuberharap kudapat
                Temukan dirimu untukku
                                Terbang melayang
                                Menyusuri ruang cinta
                                Berharap kuakan
                                Temukan dirimu untukku
Seluruh penonton bernyanyi mengikuti saat lagu memasuki bagian reff, bersama tepokan tangan dan semangat mereka. Bahkan Welvy, Arola, dan Sahra sampai terkagum-kagum.
“Wah! Kalian yakin bisa mengalahkan Logo Band?” Tanya Welvy pada Ancient dan Dazaki.
“Hmm… menurutku siapa pun yang menang nggak masalah, yang penting kita sudah berpartisipasi dan memberikan yang terbaik di festival ini. Ya kan, Za?” jawab Ancient.
“Yap. Benar banget,” balas Dazaki.
Tak lama kemudian, selesailah Logo Band membawaka lagu keduanya. Satu persatu personil kembali ke belakng panggung. MC Girie dan MC Oby memasuki panggung menggantikan mereka dan untuk mengumumkan peserta selanjutnya.
“Kalian nggak siap-siap? Kan selanjutnya giliran ka…,” pertanyaan Welvy terhenti ketika menengok ke arah Ancient dan Dazaki yang sudah menghilang. “Lho, Ancient dan Dazaki kemana?” ia jadi bertanya pada Sahra.
“Itu udah di depan,” jawab Sahra seraya menunjuk panggung.
“Kok, cepat banget. Tadi rasanya baru ngobrol sama aku,” gumam Welvy. Ia tak memikirkan lebih lanjut dan mulai memperhatikan panggung lagi. Rupanya MC Girie dan MC Oby sudah mengumumkan peserta yang akan tampil selanjutnya.
“Peserta terakhir kita… Radar Band!”

-to be continued-

10.3.17

RADAR BAND – Chapter 13

Image by Google
Sorenya, personil Radar Band langsung menuju Zarie Studio setelah pulang sekolah. Rupanya Welvy, Arola dan Sahra tidak bersama mereka, katanya mereka akan menyusul saja.
“Beneran lo tau tempatnya, La?” tanya Welvy pada Arola. Saat itu mereka baru turun dari angkutan umum.
“Tenang, Vy! Tinggal jalan sedikit lagi,” jawab Arola. Ia menunjuk pintu gang kecil dan mulai memasukinya. Welvy dan Sahra mengikuti di belakang.
Tak sampai lima menit, mereka mendapati sebuah rumah dengan tulisan Zarie Studio di depannya. Telah terparkir empat buah sepeda di halamannya. Arola medekati pintu masuk dan mengetuknya.
Seseorang berjalan mendekat dan membuka pintu tersebut. Itu Dazaki. Ia mempersilahkan Arola, Welvy dan Sahra masuk seraya melambaikan lengan kirinya yang masih menggenggam stick drumm. Tanpa banyak bicara, mereka memasuki studio. Sudah ada Arlo, Ancient, dan Raja yang memainkan alat musik mereka. Sedangkan Reky masih mengutak-atik volume mic-nya. Seluruhnya masih menggunakan seragam sekolah, meskipun ada pula yang telah menggunakan kaos. Kecuali Dazaki, ia telah berganti pakaian seluruhnya.
“Hallo semua!” seru Sahra.
“Baru datang kalian?” tanya Ancient.
“Kok, masih pakai seragam? Gue kira pada ganti baju dulu,” tanya Welvy.
“Rumah Za itu jauh. Jadi balik ke rumah cuma simpan tas sama ganti sepatu aja,” jawab Raja.
“Rumah Dazaki?”
“Yang punya studio ini, kan kakaknya Dazaki, Kak Arie,” jelas Reky. Dazaki mengangguk saat Welvy, Sahra, dan Arola menengok ke arahnya.
“Lo! Udah selesai belum? Ayo dimulai!” ujar Reky lagi.
“Sebentar. Senarnya masih salah. Rundingin dulu aja mau main lagu apa!” jawab Arlo, masih sibuk dengan gitar.
“Lagu pemanasan, nih.” Komentar Raja.
“Disco Lazy Time, dong!” pinta Ancient. Ia memainkan melodi dari lagu tersebut.
“Emang bisa? Lagu itu, kan efeknya banyak,” ujar Arola.
“Eits! Jangan salah!” bantah Reky. Ia memperhatikan Arlo.
“Lo! Udah beres belum?” serunya.
“Sip!” Arlo mengangkat jempolnya. Ia memosisikan gitar agar nyaman digunakan.
“Nona-nona, kalian jurinya! Let’s Disco Lazy Time!” Reky memberikan aba-aba pada rekan band-nya untuk memainkan intro musik Disco Lazy Time-nya Nidji. Kemudian Reky menyambut musik dengan suaranya. Tak lupa backing vocal oleh Arlo dan Ancient saling bersahutan.
Arola yang tadinya meragukan, kini tertawa sendiri. Efek-efek musik saat lagu memasuki reff dapat dikuasai dengan baik oleh Radar Band. Juga suara Reky dengan kemampuannya yang fasih dalam berbahasa inggris, membuat musik semakin asyik.
“Keren, keren banget! Kalau boleh main lagu ini di final, pati Logo Band kalah deh,” puji Sahra. Matanya masih memerhatikan Raja dan Bass-nya.
“Thank you! Thank you, Girls!” ucap Reky dengan mic-nya. Ia membungkukkan tubuh ke arah Sahra, Arola, dan Welvy yang menonton mereka.
“Nanti di final mau bawa lagu apa?” tanya Welvy.
“Enaknya lagu gimana, ya?”
“Kalau menurutku sih, lagunya harus yang semua orang hafal dan buat penonton ikuti iramanya,” usul Welvy.
“Iya. Jadi semua penonton bisa ikut nyanyi,” tambah Sahra.
“Boleh juga, tuh. Tapi, lagu apa yang begitu, ya?” tanya Raja.
Seraya memain-mainkan alat musiknya, semua personil Radar Band mencari lagu yang akan dibawakannya saat final festival band. Begitu pun Welvy, Arola dan Sahra.
“Gue tau!” seru Arlo tiba-tiba.
“Gimana kalau lagu yang itu....”


-to be continued-

3.3.17

RADAR BAND – CHAPTER 12

image by Google
“Nah, nanti X-nya diganti sama dua. Terus dapat deh, hasilnya.” Ancient menyoret-nyoret buku tulisnya saat menerangkan salah satu soal matematika yang ditanyakan Dazaki.
“Oke! Gue ngerti,” balas Dazaki. Ia mencoba mengerjakan soal tersebut sendiri.
“Za! Emang nggak capek ya belajar terus?” tanya Ancient seraya memperhatikan Dazaki yang begitu semangat.
“Nggak juga, sih.” jawab Dazaki. Pandangannya tak ia lepaskan dari soal di bukunya.
Ancient hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban Dazaki. Ia bersyukur kemampuannya masih berguna untuk orang lain.
“Eh! Udah liat pengumuman festival band?” tanya Ancient lagi. Dazaki mengangkat kepalanya.
“Belum. Tadi gue langsung ke perpustakaan,” jawab Dazaki menggelengkan kepala.
Tak lama setelah itu, Arlo dkk memasuki perpustakaan. Mereka menengok sekeliling perpustakaan untuk menemukan Dazaki dan Ancient. Pencarian terhenti saat matamereka berhasil menangkap dua sosok yang duduk di bangku dekat jendela belakang. Tanpa banyak berseuara, mereka mendekati sosok itu.
“Rajin banget, sih!” komentar Raja saat tiba di meja Ancient dan Dazaki.
“Ssstt! Jangan berisik!” balas Ancient. Ia menyimpan telunjuk di bibirnya. Raja membalas dengan melakukan hal yang sama.
“Udah selesai?” tanya Arlo. Ia menarik bangku untuk duduknya.
“Iya,” jawab Dazaki.
“Hallo, An!” Welvy muncul dari belakang Arlo.
“Hallo juga. Eh! Kok bisa bareng Arlo, Reky, Raja?” tanyanya.
“Ketemu di Paramedia,” jawab Arola.
Sahra menganggukan kepala mendukung pernyataan Arola.
“Jadi, gimana? Kita masuk final?” tanya Ancient pada Arlo.
“Masuk final, dong!” ujar Raja menjawab pertanyaan Ancient. Wajah Daaki dan Ancient langsung sumringah.
“Jadi, sekarang harus kita bicarakan nih langkah selanjutnya. Kalian sudah selesai, kan belajarnya? Kita ngobrol di luar aja, gimana?” ucap Arlo.
Mereka keluar dari  perpustakaan dan menuju kantin. Setelah duduk melingkari salah satu meja kantin, Arlo memulai rapat dadakan itu. Topik pembicaraannya tak lain adalah mengenai persiapan untuk final festival band nanti. Mulai dari pilihan lagu hingga jadwal latihan.
“Kalian kalau latihan dimana?” tanya Welvy tiba-tiba.
“Kita boleh ikut nggak?” tambah Arola.
“Janji nggak akan ganggu deh,” tambah Sahra.
“Nanti ngapain di sana?” tanya Raja.
Welvy memutar otaknya untuk mencari alasan agar motifnya untuk mendekati Arlo tidak ketahuan. Ia mengernyitkan dahi seraya melirik Arola dan Sahra, berharap mereka membantu untuk mencari alasan. Tapi, sepertinya mereka pun kebingungan. Kemudian Welvy menengok ke arah Ancient yang menatapnya ingin tahu.
“Itu lho, kita... mau temani Ancient,” jawab Welvy. Semua mata menatap ada Ancient.
“Gue?” Ancient kebingungan.
“Iya, kan An? Kan lo pernah minta kita buat temani lo pas latihan band?” ujar Welvy lagi. Ia mengedip-ngedipkan matanya pada Ancient. Ancient langsung mengerti maksud Welvy.
“Ooohh..., iya. Gue bilang begitu pas di kelas tadi pagi. Nggak apa-apa kan, ya?” ucap Ancient.
“Nggak apa-apa, sih.” jawab Arlo.
“Yeay! Thanks ya, Arlo.” Welvy berseru riang. Ia menarik tangan Arlo. Arlo hanya bisa tersenyum membalasnya.
“Tapi, jangan ganggu lho, ya!” ujar Raja.
“Tenang! Tenang! Nggak bakal ngeganggu kok. Kalian latihan dimana?”
“Zarie Studio. Tau, kan?”


-to be continued-

18.9.16

RADAR BAND - Chapter 11

“Ancient!” teriak tiga anak perempuan yang menghampiri Radar Band. Mereka segera mengerumuni Ancient saat telah berada di hadapannya. Rupanya mereka adalah Welvy, Arola, dan Sahra.
“Kok, nggak bilang ke kita kalau jadi keyboardist band?” tanya Arola. Ia menarik tangan Ancient.
“Kalau tahu, kan kita nggak akan salah sangka,” ujar Sahra.
“Iya. Kita bisa ngertiin kok,” tambah Welvy.
“Iya, iya. Sorry. Kan biar surprise,” jawab Ancient.
“Maafin kita juga, ya. Karena udah katain lo yang nggak-nggak,” ujar Welvy. Ancient tersenyum mengangguk.
Tiba-tiba Raja ikut-ikutan nimbrung di tengah di tengah-tengah obrolan mereka berempat.
“Salah sangka apa, nih?”
“Mau tahu aja!” jawab mereka bertiga bersamaan. Ancient masih senyum-senyum memperhatikan tingkah ketiga temannya itu. Sementara Raja cuma garuk-garuk kepaa sambil nyengir.
“An!” panggil Arlo kemudian.
“Kita duluan, ya kalau begitu,” pamitnya. Ancient mengangguk. Tapi, tiba-tiba Welvy mendekati Arlo.
“Arlo! Kita bareng aja ke depan panggungnya. Ngomong-ngomong tadi permainan gitarnya bagus banget,” ucap Welvy seraya menarik lengan baju Arlo untuk berjalan bersama. Teman-temannya yang lain mengikuti Arlo di belakang.
“Oh ya? Thanks ya,” jawab Arlo sambil tersenyum.
“Permainan gitar Arlo memang hebat, Vy.” Reky menambahkan saat berhasil menyusul mereka berdua.
“Vokalnya Reky juga mantap abis, kok,” tambah Arola yang menyusul Reky dan berjalan di sampingnya.
Sahra yang berjalan beriringan dengan Ancient terasa kesal karena dicueki dengan kedua temannya.  Ancient mencoba menghibur Sahra.
“Raja sendirian tuh, Ra,”ujarnya.
“Maksud lo apa, Ancient?”balas Sahra bertambah kesal. Ia melipat kedua tangannya di dada.
“Permisi, sebentar!” Dazaki memotong obrolan Sahra dan Ancient.
“An! Nanti ajarin gue matematika yang kemarin, ya. Masih ada yang belum gue mengerti,” tambahnya. Kemudian Dazaki dan Ancient mulai asyik mengobrol tentang matematika. Sahra semakin kesal karena dicueki Ancient.
“Kok, manyun? Dicuekin, ya?” tanya Raja. Ia mendekati Sahra.
“Nggak uda hubungannya sama lo kali. Ngapain lagi ngedeketin?” balas Sahra.
“Tadi gimana penampilan gue di panggung? Keren, kan keren?”
“Keren, sih. tapi masih kerena Kak Levy tau.”
“Gak usah muji deh, kalau gitu.”
“Terserah gue, dong. Sirik aja, lo!”
*******************
Senin, saat jam istirahat. Arlo, Reky, dan Raja berjalan menuju Para Media untuk melihat pengumuman peserta final Festival Band.
“Kira-kira, kita masuk final nggak, ya?” gumam Arlo.
“Kalau Logo Band pasti masuk. Soalnya kemarin mereka bawain lagunya nyentuh banget,” jawab Raja.
“Ancient dan Dazaki mana?” tanya Reky.
“Mereka ke perpustakaan. Biasanya. Belajar matematika,” jawab Raja lagi.
“Matematika lagi...,” keluh Reky.
Tiba-tiba dari hadapan mereka datang Welvy, Arola, dan Sahra. Mereka berlari-lari mendekat.
“Arlo! Selamat ya! Radar Band masuk final, lho.” Welvy menyalami Arlo.
“Oh, ya?”
“Iya, Lo.” Arola menguatkan.
“Kita udah lihat pengumumannya di Para Media,” tambah Sahra.
“Kita baru mau ke sana,” timpal Reky.
“Ya, udah. Ayo ke Para Media!” ajak Welvy. Ia menarik lengan Arlo agar berjalan berdampingan dengannya ke Para Media, yang lain mengikuti di belakang.
“Wo, Woi! Tungguin gue!” seru Raja yang tertinggal di belakang.
Tak lama kemudian, mereka sampai di hadapan Para Media. Welvy menunjuk sebuah lembaran yang berjudul Peserta Final Festival Band pada salah satu baris dari daftar peserta.
“Ada, kan?” ujarnya. Arlo tersenyum senang.
“Coba kita lihat syarat di Final nanti apaan, ya?” Raja menunjuk baris tulisan yang berada di bawah daftar tersebut.
“Dipersilahkan kepada masing-masing Band untuk membawakan lagu dalam negeri unggulannya,” sambung Raja, membaca tulisan tersebut.
“Hehe, lagunya boleh apa pun dong,” komentar Reky.
“Berapa lagu, Ja?” tanya Arlo.
“Dua lagu,” jawab Raja.
“Nanti kalian mau bawakan lagu apa?” tanya Arola.
“Hmm, kita ke perspustakaan dulu, deh,” usul Arlo. Ia memutar tubuhnya.
“Ngapain ke perpustakaan? Mau nyari buku kumpulan lagu?” tanya Raja setengah bercanda.
“Kan, Ancient dan dazaki ada di sana. Kita rundingkan bareng-bareng,” jawab Arlo.
“Oh, iya. Gue lupa,” balas Raja. Kemudian mereka semua berjalan menuju perpustakaan.
-to be continued-

12.8.16

RADAR BAND - Chapter 10


Sumber: youtube.com

Para personel Radar Band masih mengecek sound. Sampai akhirnya Reky berinisiatif untuk berbicara untuk menghapus keheningan.
“Cek! Cek!” ujar Reky, mencoba mendengarkan suranya yang keluar dari sound. Setelah yakin microphone yang ia gunakan menyala, Reky mulai berjalan ke depan panggung.
“Oke teman-teman! Selamat siang semuanya. Masih semangat?” ucap Reky menarik perhatian.
“YAAAA!” teriak penonton yang didominasi suara anak perempuan. Reky sering tampil bermain akustik bersama Arlo saat pentas seni, sehingga banyak siswa yang sudah mengenalnya. Bahkan ada sekelompok anak perempuan yang berteriak-teriak memanggil. Reky membalas panggilan itu dengan melambaikan tangan pada mereka.
“Kali ini, gue akan perkenalkan rekan se-band gue. Ada Raja di Bass. Dazaki penabuh Drumm. Ancient dengan Keyboardnya, dan Arlo di Gitar. Terakhir, gue Reky,Vocalist,” ujarnya. Ia menunjuk teman-temannya satu persatu. Saat itu, mereka telah selesai mengecek sound. Arlo mengangguk pada Reky untuk memberikan aba-aba dimulainya lagu pertama mereka.
“Kita akan membawakan lagu yang akan buat kalian enjoy. Langsung mulai?” teriak Reky lagi. Para penonton kembali bersorak ramai.
“Musik!”
Suara musik dari gitar, drumm, bass, dan keyboard yang dimainkan Arlo, Dazaki, Raja dan Ancient begitu teratur dan dinamis. Alunan yang membuat para pendengarnya mengikuti nada pada tiap liriknya. Itulah gambaran lagu Bayang Semu dari Ungu yang dibawakan Radar Band.
********************
Sorak sorai penontong mengiringi berkahirnya lagu ertama yang dibawakan Radar Band. Tak berlama-lama, Reky langsung mencuri perhatian dan mengumumkan lagu berikutnya.
“Langsung saja, lagu kedua Radar Band: Musnah,” ucapnya. Tangannya diangkat ke atas menghitung sampai tiga, sebagai aba-aba bagi untuk teman-temannya dalam memulai melodi.
Bukan... maksud hatiku
Kejutkan dirimu... di depan mataku
Tapiku tak bisa lupakan
Saat dirimu membuatku
Diriku terhina...
Memasuki reff dari lagu, Reky melompat-lomat seraya mengajak penonton ikut dalam iramanya. Tanpa pikir panjang lagi, seluruh penonton berdiri dan beriringan mengikuti lompatan Reky. Mereka semua mengikuti Reky bernyanyi.
“Oh My God! Radar lebih seru daripada Logo Band. Iya, kan?” tanya Welvy setengah berteriak pada Arola dan Sahra.
“Iya, bene banget!” jawab Sahra.
“Setuju! Setuju!” balas Arola.
Mereka bertiga kembali tenggelam bersama penonton lainnya. Menggoyang-goyangkan kaki dan bertepuk tangan mengiri musik Radar Band hingga akhir.
“Wow! Wow! Wow!” teriak MC Girie setelah lagu kedua berhenti.
“Tepuk tangan lagi dong untuk Radar Band!” MC Oby mengikuti pujian dari MC Girie. Reky melambai-lambaikan tangan dan membungkukan tubuhnya saat penonton kembali bersorak untuk Radar band.
“Capek ya?” tanya MC Girie saat mendekati Reky.
“Nggak juga, sih,” jawab Reky masih terengah-engah seraya tersenyum-senyum. Teman-temannya mulai menyimpan gitar dan bass serta merapikan alat musik lain yang habis digunakan. Mereka bersiap-siap untuk meninggalkan panggung.
“Untuk Radar Band, nanti dulu dong turunnya. Kita ngobrol-ngobrol dulu,” cegah MC Oby, mereka kembali berjalan menuju tengah panggung.
“Ngobrol apa, nih?” ucap Reky dengan mic-nya.
“Kita semua kan tahu ya kalau Radar Band itu band baru. Kenapa, sih kok namanya Radar Band?” tanya MC Girie memulai percakapan.
“Hm. Pertanyaan yang sulit. Mungkin bisa dijawab langsung oleh pendirinya,” jawab Reky. ia menunjuk Arlo.
“Eh? Gue?” tanya Arlo terkejut. Reky menariknya sedikit lebih maju. Ia memberikan mic-nya pada Arlo.
“Eee, jadi... Eh, tadi tanya apa ya?” Arlo gugup saat mulai berbicara dengan mic. Selama tampil di Pentas Seni, ia hanya memainkan gitar untuk mengiringi suara Reky.
“Itu loh, kak. Kenapa namanya bisa Radar Band? Mungkin bisa diceritakan alasannya!” MC Oby mengulangi pertanyaan.
“Nggak ada alasan apa-aa, sih sebenarnya. Cuma, kebetulan, kalau nama kita disatukan, bisa disingkat jadi ‘radar’, gitu,” jawab Arlo.
“Nama siapa yan disatukan?” tanya MC Girie.
“Kita berlima,” jawab Arlo lagi seraya menunjuk teman-temannya.
“Oh, iya kah? Kita coba absen satu-satu deh! Radar = R, A, D, A, R. R itu Reky. A itu Arlo. D-nya Dazaki. A lagi untuk Ancient. R yang terkahir untuk Raja,” ujar MC Girie.
“Wah! Benar, kak. Pas banget. Keren, ya teman-teman?” MC Oby mengajak penonton bertepuk tangan.
“Oke kalau gitu, sekali lagi tepuk tangan untuk Radar Band!” teriak MC Girie. Ia mempersilahkan Arlo dkk untuk keluar panggung. Kemudian ia dan Oby memanggil siswa-siswi ekstrakulikuler seni untuk mengisi acara selanjutnya.
Sementara itu Radar Band menjauh dengan melewati lorong di belakang panggung. Mereka masih membahas penampilan tadi. Mereka memuji reky yang berhasil membawa penonton ikut menikmati lagu dari awal hingga akhir. Tiba-tiba dari hadapan mereka muncul tiga orang anak perempuan.

-to be continued-


8.8.16

RADAR BAND - Chapter 09


Sumber: en.wikipedia.com

Band: My Chemical Romance

“Kepada seluruh siswa, harap berkumpul di halaman pentas seni! Sekali lagi, seluruh siwa harap berkumpul di halaman pentas seni! Karena acara Festival Band akan segera dimulai. Terimakasih,” suara MC Girie. MC pentas seni paling senior. Ia biasa memberikan pengumuman seperti itu setiap pentas seni setelah bel berakhirnya mata pelajaran.
Setelah mendengar panggilan tersebut, seluruh siwa keluar dari kelasnya. Mereka berjalan berbondong-bondong menuju halaman pentas seni. Semuanya tak sabar untuk menyaksikan Festival Band hari itu.
“Asyik! Sekarang festival band,” seru Welvy, seraya duduk di bangku yang mengelilingi pohon di halaman pentas seni. Begitu pun Sahra dan Arola.
“Senang banget kayaknya. Ada apa, nih?” tanya Ancient. Ia ikut duduk di samping Welvy.
“Bisa lihat lima band baru. Siapa tahu personilnya keren-keren,” jawab Sahra.
“Kalau nggak salah, band yang baru itu: Langgar, Charlie, Violet, Masa, dan Radar yang ada di urutan terkahir,” jelas Arola.
“Eh! Radar Band urutan terkahir?!” seru Ancient.
“Iya. Kenapa memangnya?” tanya Welvy.
“Kamu kenal sama personilnya, An?” tambah Arola.
“Enggak, kok, enggak. Enggak kenal sama sekali. Paling anak kelas satu personilnya. Hehe. Eh, udah mau mulai acaranya,” Ancient mencoba menutup-nutupi.
Welvy, Sahra, dan Arola memalingkan pandangannya kepada MC Girie dan MC Oby –MC junior- yang telah berdiri di atas  panggung. Seluruh penonton mulai berteriak-teriak menantikan penampilan band-band yang ditunggu-tunggunya.
“Gimana kalau kita langsung panggil aja, Kak Girie?” ucap MC Oby.
“Oke, deh! Kita panggil band pertama...,” balas MC Girie, ia sengaja memotong kata-katanya.
“Mars Band!” ucap mereka bersamaan. Mereka berdua berjalan ke pinggir panggung dan mempersilahkan para personil dari Mars Band memasuki panggung. Sang gitaris, bassist, dan vokalist mencoba alat-alat yang akan digunakannya. Sementara drummer Mars Band mencari posisi duduk yang dirasa nyaman. Tak lama kemudian, mulailah mereka menyanyikan lagu ‘Berjanjilah’-nya Ungu.
***************************
Sorak sorai penonton mengakhiri penampilan dari sebuah band baru, Masa Band. Setelah para personil turun dari panggung, seluruh penonton mulai berteriak memanggil band selanjutnya, yaitu Logo Band. Mereka tak sabar ingin melihat aksi dari band idola tersebut.
“Wow! Wow! Heboh banget, yaa!” komentar MC Girie ditengah sorak-sorai.
“Langsung panggil aja, yuk Kak! Inilah...,”
“LOGO BAND!” ucap MC Girie dan MC Oby bersamaan.
Diiringi sorak sorai penonton, Logo Band memasuki panggung. Bahkan Toya sudah melambai-lambaikan tangannya, membalas sorak-sorai tersebut.
“Tes! Tes! Kita kenalan dulu kali, ya? Di gitar ada Ikrar,” ucap Toya. Penonton bersorak.
“Levy pada Bass.” Penonton bersorak semakin keras. Bahkan ada geng-geng cewe yang memanggil-manggil nama Levy. Tapi Levy berusaha tak menanggapi.
“Kemudian Orgarus dengan keyboard-nya.” Penonton tambah bersorak lebih keras.
“Drum ole Afrizy, dan gue, Toya. Langsung lau pertama kita: Aku Bisa,” sambung Toya. Maka Logo Band memulai lagunya.
Sorak sorai penonton semakin semangat.
“Hehe. Lagu slow,” komentar Arola mendengarkan lagu yang dibawakan Logo Band.
“Kenapa, La?” tanya Ancient. Arola menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.
“Yang ini lagi, daritadi menatap Kak levy terus. Katanya udah nggak nge-fans lagi?” tanya ancient lagi melihat Sahra yang menatap lurus memandangi Levy.
“Emang nggak. Gue cuma membayangkan kalau yang main bass itu Raja. Pasti dia keren banget, ya?” jawab Sahra setengah bergumam.
Ancient geleng-geleng kepala memperhatikan teman-temannya tersebut. Rupanya mereka semua lagi kasmaran. Tapi Welvy nggak termasuk sepertinya. Ancient menengok ke arah Welvy.
“Arlo akustikan nggak ya hari ini?” gumam Welvy. Rupanya ia pun dalam mode kasmaran. Ancient hanya bisa tertawa geli memperrhatikan. Ia melihat ke arah Arlo dan lainnya.
Beberapa menit kemudian, selesailah lagu kedua: Kau dan Aku, Nidji. Lagu keduanya Logo Band.
“Tepuk tangan sekali lagi untuk Logo Band!” seru MC Oby. Ia dan MC Girie berjalan memasuki panggung saat personil Logo Band merapikan instrumen yang baru digunakannya.
“Thanks, ya Logo Band.” Ucap MC Girie pada para personil Logo Band.
“Nggak terasa, nih By. Kita udah di peserta terakhir,” lanjutnya.
“Betul banget, Kak. Band terakhir ini namanya unik, lho Kak. Pasti terinspirasi dari alat pendeteksi kemenangan Festival Band,” komentar MC Oby.
“Band baru, kan ya? Kita panggil aja yuk, By!”
“RADAR BAND!” kembali kedua MC memanggil bersama. Mereka kembali ke samping panggung.
“An! Habis ini mau ma.... Eh, Ancient mana?” Welvy memanggil Ancient untuk bertanya sesuatu. Tapi Ancient sudah tak ada di sampingnya. Arola menjawab pertanyaan Welvy dengan menggelengkan kepala seraya mengangkat bahunya.
“Eh! Itu Ancient kan?” tanya Sahra. Jarinya menunjuk panggung.
“Ha? Iya. Itu Ancient,” jawab Welvy.
“Lho, yang pegang Bass kan Raja,” ucap Arola.
“Terus yang bertiga itu siapa?”
“Yang pegang gitar itu Arlo. Di depannya Reky. Tapi di drumm siapa?”
“Itu, kan Dazaki. Yang kemarin dikenalin sama Ancient.”
“Jadi mereka: RADAR BAND?” ujar mereka bertiga.

-to be continued-


7.8.16

RADAR BAND - Chapter 08



Sumber: suratproposal.blogspot.com

Jum’at siang saat pulang sekolah, minggu ketiga bulan Februari. Levy dan Orgarus berdiri di hadapan Para Media. Mereka membaca daftar peserta yang telah terdaftar di festival band besok. Ada 15 band di sana.
“Band kita urutan keberapa?” tanya Orgarus mencarai nama bandnya di daftar. Ia menunjuk daftar nama-nama band tersebut.
“Nomor 14,” jawab Levy, ia menunjuk angka 14 di daftar.
“Hm, band yang ikut berpertisipasi banyak juga ya. Yakin kita bisa menang?” gumam Orgarus.
“Jangan pesimis gitu, dong Ga! Masa nyerah sebelum bertarung?” ucap Levy.
“Soalnya banyak band baru yang ikutan juga, sih. Nih, lihat! Dari 15 band: Mars, Apel, Langgar, Hipotenusa, Blue, Sistem, Penyakit, Bluetooth, Toilet, charlie, Violet, Masa, Logo, dan Radar. Lima di antaranya masih baru, kan?”
“Yang masih baru itu: Langgar, Charlie, Violet, Masa, dan Radar. Bolehlah namanya. Oh, iya! Kalau nama band Arlo dkk apa, ya?” tanya Levy.
“Hm, iya juga. Band mereka ikut acara ini nggak, ya? Kalau mereka ikut, kita bisa kalah nih,” ucap Orgarus.
“Lu kok, pesimis melulu sih?”
“Soalnya, kalau dilihat dari kualitas personilnya, band-nya Arlo dkk itu pasti bakalan eksis di sekolah kita,” jawab Orgarus seraya berjalan menjauhi Para Media bersaa Levy.
Tak lama kemudian, Arlo dan Reky datang mendekati Para Media untuk melihat daftar peserta festival band besok.
“Aah! Kok, bisa urutan terakhir, Lo? Lu yang daftarin, kan?” tanya Reky.
“Sorry, sorry! Gue hampir lupa, gara-gara sibuk ngerjain tugas. Untungnya belum ditutup. Hehehe,” jawab Arlo seraya menggaruk-garuk kepalanya.
“Kayak Dazaki lu,” komentar Reky.
“Hehehe. Wah, Logo Band juga ikutan ternyata,” ujar Arlo saat melihat nama Logo Band dekat nama band-nya.
“Lu belum ngasih tahu Toya nama band kita, kan?” tanya Arlo kemudian.
“Nggak, kok. Biar mereka cari tahu sendiri. Hihihi,” jawab Reky.
Tiba-tiba, saat Arlo berencana untuk meninggalkan Para Media, telah berdiri Welvy, Arola, dan Sahra di hadapannya.
“Hai, Arlo!” ucap Welvy.
“Iya. Ada apa?” tanya Arlo.
“Buat Jum’at kemarin, thanks banget ya. Lu udah nolongin gue,” jawab Welvy seraya tersipu malu.
“Jum’at kemarin?” gumam Arlo. Ia mengusap-usap rambutnya seraya mencoba mengingat.
“Oh! Waktu di jalan itu, ya? Mestinya gue yang minta maaf. Maaf, ya!”
“Nggak apa-apa, kok. Gue juga mau ucapin terimakasih karena Arlo udah nolongin,” balas Welvy malu-malu.
“Dari kejauhan, Ancient memperhatikan ketiga temannya yang sedang berbicara dengan Arlo dan Reky. Ia bersandar pada dinding kelas yang tak jauh dari Para Media. Tiba-tiba Dazaki datang menyapanya.
“Hei, An! Lagi ngapain?” tanya Dazaki.
“Eh, Za. Lagi nungguin Welvy, Arola dan Sahra aja, sih.”
“Yang lagi ngobrol sama Reky dan Arlo itu?” tanya Dazaki. Ancient mengangguk.
Sementara itu, Sahra dan Arola yang ada di belkang Welvy sibuk bisik-bisik berdua. Mereka memperhatikan Reky yang mendengarkan pembicaraan Arlo dan Welvy.
“Sahra! Temannya Arlo keren juga,” bisik Arola.
“Naksir lu, La?”
“Iya deh, kayaknya. Habisnya, senyum sama gayanya buat gue melting,” jawab Arola saat melihat Reky tersenyum.
“Kak Levy gimana?” tanya Sahra lagi.
“Capek deh, mikirin dia.”
***************************
“Galu gitu. Gue pamit, ya. Sekali lagi makasih,” pamit Welvy pada Arlo dan Reky.
“Iya,” jawab Arlo. Ia melambaikan tangannya saat Welvy, Arola, dan Sahra pergi. Kemudian ia dan Reky pergi ke arah berlawanan.
Welvy, Arola dan Sahra berjalan menuju Ancient yang telah menunggu mereka. Tapi, Ancient masih asyik mengobrol dengan Dazaki.
“Lagi asyik, ya? Ganggu nggak, nih?” tanya Arola saat mendekati Ancient.
“Nggak, kok. Cuma ngebahas matematika aja. Kebetulan temanku ini juga di ajar guru yang sama,” jawab Ancient.
“Dazaki, kelas 2C,” ucap Dazaki memperkenalkan diri. Ia bersalaman dengan Welvy, Arola, dan Sahra.
“Kalau begitu, gue duluan ya. Thanks ya, An buat sarannya,” pamit Dazaki.
Setelah Dazaki pergi, Sahra menarik lengan Ancient agar lebih dekat dengannya. Ia membisikan sesuatu pada Ancient.
“Heh, ngomongin apa sih kalian?” tanya Welvy penasaran melihat tingkah laku Sahra dan Ancient.
“La! Lu naksir sama temannya Arlo? Siapa namanya?” tanya Ancient kemudian,
“Reky?” jawab Arola. Ia senyum-senyum salah tingkah.
“Kita pulang, yuk!” ajak Arola mengalihkan pembicaraan.

-to be continued-