Cute Brown Spinning Flower

13.6.16

KU TAK 'KAN TAHU

Senja itu kembali muram
Seiring cepatnya langkah terpaksa berjalan
Menghantarkan kerinduan dalam dendam
Bahwa gagal menggapai kenyataan

Entah hanyalah obsesi
Tak pasti meski
Lebihnya hanya lelah
Mengalir beriring keringat darah

Biar berpaling mendiamkan
Tatapan pancarannya dendam
Hilangkan banyaknya angan-angan
Kubur ingatan pikiran kelam

(August 13, 2010)

The Piece of a Poem II

Under the sunlight..
We tiptoed and have waited..
Follow that light..
We looking and seeing future..

KU INGIN

Matahariku, ku ingin mendengar suaranya
Ingin tahu semangatnya
Hari-hari dengannya
Selalu membuatku tersenyum
Hal yang sulit ku alami di sekolah
Terpecahkan bila ku mendengar suaranya

Kini dia pergi
Berpisah denganku untuk satu pertemuan
Pertemuan yang indah
Yang sekali ku alami saat dengannya

Aku sedih jika dia harus pergi
Dia cahaya hidupku
Yang selama ini aku cari
Tapi ku yakin kaulah matahariku

by: Nie Meid (Dini Meiyana)

MATAHARIKU

Terikmu sinari bumi ini
Menghangatkanku
Memberikan kesehatan

Bagiku kaulah sumber alam ini
Memberi manfaat kepada semua orang

Matahariku
Terima kasih atas pemberianmu
Tanpamu, kami tak tahu yg akan terjadi

Tapi, mengapa kau marah pada kami
Apa karena kelakuan kami ini ?..
Kelakuan yang selama ini bisa melukai kami ?..
Tapi apa daya
Yang selama ini kami lakui
Hanyalah perbuatan orang-orang yg tak bertanggung jawab

Kau marah karena kelakuan kami
Kau menyinari kami dengan sengatan sinarmu
Kemarahanmu bagaikan bom atom yang dapat menghancurkan bumi ini

Maaf.. Maafkan kami
Atas segala kelakuan kami ini
Kami hanya serpihan pasir
yang dapat kau hancurkan dalam hitungan detik

Hal yang kami takuti
Kehilangan mu
matahariku
Yang memberikan kehidupan di dunia ini

by: Nie Meid (Dini Meiyana)

The Beautiful of Friendship - Chapter 19

Ira mencari Ana sejak tiba di villa tempat mereka bermalam. Ia ingin berkenalan dan mengucapkan terimakasih padanya karena telah menolong. Setelah bertanya-tanya kepada siswa kelas lain, ia mendapat informasi bahwa Ana ada di kelas 1F. Ira segera menuju ruangan tempat anak perempuan kelas 1F beristirahat.
"Ira! Ira! Di sini," Fami menunjuk-nunjuk pintu ruangan. Ira menggangguk dan berjalan cepat mendekatinya.
"Permisi." Ira membuka pintu ruangan. Ia melihat Ana sedang membaca buku, kakinya diperban. Tapi, ia tak menyadari Ira memasuki ruangan.
"Ana?" Ira memanggil.
Ana mendongakkan kepalanya. Ia sedikit mengernyitkan dahi.
"Siapa, ya?" tanyanya.
Ira menghentikan langkahnya. Ia mulai tak mengerti, kenapa Ana tiba-tiba tak mengenalinya. Otaknya mulai berpikir. Jangan-jangan saat Ana menolongnya tadi, bukan hanya kakinya yang cedera, tapi juga kepalanya terbentur sehingga sekarang Ana gegar otak dan hilang ingatan.
"Ana! Kepala kamu gak apa-apa, kan? Sebelah mana yang sakit?" Ira panik. Ia mengguncang-guncang pundak Ana karena khawatir.
Ana memperhatikan Ira sebentar, kemudian tertawa.
"Hehehehe...! Ira lucu, ya orangnya?" ucapnya.
"Kamu tahu nama aku?"
Ana mengangguk sambil tersenyum.
"Syukurlah. Aku pikir kamu gegar otak. Eh, tapi... Jadi tadi kamu godain aku?" ujar Ira.
"Haha... Maaf! Maaf!" jawab Ana.
"Hmm, benar ya kata Charlie. Kamu suka ngerjain orang."
Ana hanya tersenyum.
"Tapi, aku mau ucapin terimakasih karena sudah menolongku. Kalau kamu nggak menangkap tanganku, mungkin aku udah nggak ada. Terimakasih, ya."
"Sama-sama. Jangan diulangi, ya!"
"Eh, siapa lagi yang ingin jatuh ke jurang lagi? Tapi, ngomong-ngomong, kok aku nggak pernah melihatmu sebelumnya, ya?"
"Aku siswa pindahan. Dari SMP N Lasanwa," jawab Ana seraya senyum-senyum.
"Lasanwa...," gumam Fami.
"Kenapa?" tanya Ira pada Fami, agak berbisik. Fami menjawab dengan menggelengkan kepala.
"Kenapa, apanya Ra?" tanya Ana. Rupanya ia memperhatikan.
"Nggak, kok. Nggak apa-apa."

- to be continued -

12.6.16

The Beautiful of Friendship - Chapter 18

"IRAA..!"
Tubuh Ira bergantungan. Saat ia mendongakkan kepalanya, seorang anak perempuan berhasil menangkap pergelangan tangannya.
"Bertahanlah!" ujar anak perempuan itu.
Tiba-tiba kaki anak perempuan itu terpeleset seperti halnya Ira. Maka ia pun tergelincir ke dalam jurang bersama Ira. Dengan cekatan anak perempuan itu menggapai ranting yang ada di dinding jurang dengan tangannya, sedangkan tangan yang lain tetap menggenggam pergelangan tangan Ira.
"Kamu...gak apa-apa, kan?" tanya anak perempuan itu dengan wajah yang menahan sakit.
"Iya," jawab Ira.
Di bibir jurang sudah berkumpul guru-guru dan petugas cagar alam. Siswa-siswi yang ingin melihat dijauhkan dari lokasi tersebut. Ira mendongakkan kepalanya. Ia melihat Pak Zulka menurunkan tali ke arah mereka.
"Ira! Cepat berpindah pada tali itu! Kami akan menarikmu ke atas!" ucap Pak Zulka.
Ira mengambil tali tersebut dan berpindah tempat. Ia memanjat hingga tiba di bibir jurang dengan selamat. Pak Zulka kembali menurunkan tali tersebut untuk menolong anak perempuan yang menolong Ira.
"Ana, cepat naik!" teriak Pak Zulka. Tapi anak perempuan bernama Ana itu tidak bisa memanjat sama sekali.
"Ana, ada apa?"
"Kakiku sakit sekali," jawab Ana.
"Baiklah. Akan Bapak tarik talinya. Berpegangan yang erat, ya!"
Dibantu beberapa orang guru dan petugas cagar alam, Ana akhirnya berhasil mencapai bibir jurang dengan selamat. Mereka membawa Ira dan Ana menjauhi wilayah bahaya tersebut menuju pos dimana teman-teman kelompok mereka menantinya.
Tiba-tiba ada dua orang berlari mendekati Ana. Mereka adalah Charlie dan Angel, teman sekelompoknya.
"Ana, kamu nggak apa-apa?" tanya Angel.
"Iya. Gak apa-apa, kok." Ana menjawab seraya tersenyum-senyum menahan sakit.
"Jangan senyum-senyum! Lagi kesakitan juga," balas Charlie. Ia dan Angel menuntun Ana dan membawanya menuju pos.
Ira memperhatikan percakapan mereka bertiga, terutama Ana. Ia ingin menghampiri dan mengucapkan terimakasih pada Ana karena telah menyelamatkannya. Tiba-tiba Irfani berlari, memeluk Ira.
"Ira, kamu nggak apa-apa kan?"
"Iya. Aku nggak apa-apa," Ira tertegun mendapati Irfani yang memeluknya. Ia melihat Lara menatap mereka dengan sebal.
"Irfani. Lara gimana?" tanya Ira saat melepas tangan Irfani.
"Lara jahat, Ra. Dia yang membuatmu jatuh," jawab Irfani.
"Tapi, aku kan jatuh karena terpeleset."
"Bukan. Seharusnya tanah di sana nggak licin. Tapi Lara sengaja membasahi dengan air. Aku nggak bisa mencegahnya, sampai kamu masuk ke dalam jurang. Maaf Ira...!" Irfani menangis dan kembali memeluk Ira.
Pengakuan Irfani terdengar oleh seluruh guru dan siswa-siswi lainnya. Mereka langsung menatap Lara.
"Bohong! Irfani, bohong. Irfani, kamu jangan menuduh sembarangan!" teriak Lara mencoba membela dirinya.
Bu Osa menghampiri Lara.
"Lara! Ayo ikut dengan Ibu! Kita bicarakan ini!"

- to be continued -

11.6.16

The Beautiful of Friendship - CHARACTER

Yuhuu.. My reader.. Ketemu lagi sama writer di sini. Yups! Di The Atri's.
Apaan sih ya?? Hahaha.
Ah, udahan gajenya.
Nah, sekarang writer mau nepatin janji buat perkenalan tokoh-tokoh di THE BEAUTIFUL OF FRIENDSHIP.
Pasti udah gak sabar ya?
Langsung aja deh ya.


1. Fathah Alfirana Nur Ramadhani
Panggilan : Ira
Umur : 13 tahun
Golongan darah : AB
Siswi baru di SMP N 1 Kendangjari yang masuk di awal semester genap. Gak suka cari masalah, tapi over thinking terhadap banyak hal. Ira juga menyukai hal-hal baru berbau ilmu pengetahuan.

2. Satya Fahremi
Panggilan : Fami
Umur : 13 tahun
Golongan darah : O
Sampai chapter 17, latar belakang Fami masih misteri. Tubuhnya tidak bisa disentuh. Ia juga bisa melayang dan menggunakan suatu kemampuan untuk mengendalikan sesuatu cukup dengan menunjuk benda yang diinginkannya. Ia selalu mengikuti Ira kemanapun, banyak bicara dan senang berkelakar.

3. Irfani Setiani
Panggilan : Irfani
Umur : 13 tahun
Golongan darah : B
Saudara kembar tak identik Irfan. Sifatnya agak manja dan mudah dipengaruhi. Ia rajin dan rapi dalam membuat catatan pelajaran.

4. Lirik Damalalararani
Panggilan : Lara
Umur : 12 tahun
Golongan darah : O
Sifat mendominasi adalah ciri khasnya. Lara berbakat dalam mempengaruhi orang lain. Terkadang ia ingin diperhatikan, sehingga ia mencari perhatian dengan melakukan hal-hal kurang baik.

5. Irfan Setiawan
Panggilan : Irfan
Umur : 13 tahun
Golongan darah : A
Saudara kembar tak identik Irfani. Ia begitu menyayangi adiknya. Sampai-sampai dipikirannya hanya ada Irfani. Hobinya membaca buku.

6. Eka Firana Aurora
Panggilan : Ana
Umur : 13 tahun
Golongan darah : A
Sampai chapter 17, Ana memang belum muncul. Ia anak yang banyak taktik dan jarang mengeluh. Ia juga murid pindahan ke SMP N 1 Kendangjari.