Cute Brown Spinning Flower

8.6.16

The Beautiful of Friendship - Chapter 17

"Lara! Irfani! Ini punya kalian. Irfan dan Deno, yang ini." Ira membagi-bagikan rangkuman pada teman kelompoknya. Irfan dan Deno merasa tak enak dan sangat berterimakasih. Sedangkan Lara dan Irfani menatapnya dengan sebal. Mereka merasa hal tersebut sama sekali tak mengganggu Ira. Kemudian, Ira mengambil kotak makanan miliknya.
"Aku udah boleh makan, ya." ujarnya. Ia duduk di samping Deno.
"Ira! Enak, ya?." Fami muncul dengan wajah memelas. Tapi Ira hanya dapat menjawabnya dengan tersenyum, karena ia sedang bersama teman-temannya.
-------
Setelah mengumpulkan tugas rangkuman, Bu Osa mengumumkan waktu istirahat selama 30 menit. Siswa-siswi diperbolehkan istirahat dimana pun asalkan tidak mendekati wilayah bahaya dan tidak terlalu jauh dari pos. Selain itu, mereka juga harus memperhatikan teman-teman sekelompoknya.
Ira menggunakan waktu ini untuk melihat-lihat tanaman di sekitar pos. Banyak tanaman yang namanya baru ia ketahui saat fieldtrip tadi. Baru beberapa menit ia melihat tanaman, Deno memanggil untuk berpindah tempat.
Ira merasa kelompoknya telah melewati palang tanda bahaya. Ia mencoba untuk menegur teman-temannya.
"Anu, teman-teman! Kayaknya kita mesti balik lagi, deh. Kita kan udah melewati palang bahaya," ujarnya.
Irfan dan Deno menghentikan langkah mereka.
"Oh, benarkah? Wah, aku nggak lihat. Keasyikan ngobrol sama Deno, nih." ucap Irfan.
"Yuk, kita balik aja!" tambah Deno.
Tapi, Lara dan Irfani tetap berjalan. Mereka semakin jauh meninggalkan Irfan, Deno, dan Ira. Ira melihat mereka berlari menuju bibir jurang.
"Hei! Jangan kesana!" teriak Ira. Ia berlari menuju Lara dan Irfani. Irfan dan Deno mengikuti di belakangnya.
"Memangnya kenapa?" tanya Irfani, ketus. Saat Ira berada di hadapannya.
"Bu Osa, kan sudah memperingatkan: Jangan mendekati wilayah bahaya!" jawab Ira.
"Ah, peduli amat sama Bu Osa. Dia itu cuma orang dewasa yang bisanya ngatur-ngatur doang," balas Lara.
"Tapi, La...."
"Udah, ah! Gak usah sok tahu!" Lara memotong seraya mendorong tubuh Ira. Ira mencoba menyeimbangkan tubuhnya yang hampir terjatuh. Tapi pijakannya tergelincir. Tubuhnya terjatuh ke arah jurang.
"IRAAAA...!!!"

- to be continued -

7.6.16

The Beautiful of Friendship - Chapter 16

Tes tes ... Hmm..
Sebelum masuk ke chapter 16, writer maua ngasih kabar nih reader. Kabar baik, kok. Tenang! Tenang!
Jadi, rencananya writer akan memperkenalkan tokoh-tokoh di The Beautiful of Friendship kepada reader semua. Cuma, masih tahap persiapan ni. Jadi, yang sabar ya.
Gak kerasa udah chapter 16 aja 😣😣😣
So cekidot deh -->>

The Beautiful of Friendship - Chapter 16

Dua minggu kemudian, siswa-siswi SMP N 1 Kendangjari menuju Cagar Alam Pyakumbuh untuk melakukan fieldtrip. Siswa-siswi dipandu oleh tour guide yang juga memperkenalkan macam-macam tumbuhan yang hidup di cagar alam. Beberapa lokasi cagar alam amat rawan, karena terdapat lembah-lembah yang dalam.
"Oke, adik-adik! Sekarang kita kembali ke pos untuk beristirahat. Silahkan Bu Osa!" tour guide yang memandu kelas Ira menghentikan penjelasannya. Ia mempersilahkan Bu Osa untuk memandu siswa-siswinya kembali ke pos jaga.
"Terimakasih Pak Ebi atas panduannya. Ayo semuanya, kita kembali ke pos jaga untuk makan siang!"
"Yeee!" siswa-siswi berseru kegirangan.
"Sssttt! Tapi, setelah makan siang, kalian sharing catatan dengan teman kelompok masing-masing. Trus dikumpulkan kepada ketua kelas. Mengerti?"
"Iya, Bu."
Siswa-siswi Bu Osa mulai berjalan menuju pos jaga. Di sana sudah ada kelas lain yang juga sedang beristirahat. Mereka mengantri untuk mengambil boks makan siang.
"Kita makan di sana, yuk!" ajak Irfan pada teman-teman kelompoknya: Ira, Lara, Irfani, dan Deno. Ia menunjuk tempat teduh di bawah pohon yang cukup besar.
Saat sampai di bawah pohon, Ira langsung mengambil posisi duduk yang ia pikir paling nyaman.
"Enak, nih. Fam, sini makan!" ucapnya agak pelan. Fami mengikuti Ira dan duduk di sampingnya.
Tiba-tiba Lara dan Irfani telah berdiri di hadapan Ira.
"Nih!" Lara melemparkan lembaran kertas HVS yang digunakan mencatat saat berkeliling cagar alam tadi.
"Lho, kok, dikasih ke aku semua?" tanya Ira polos.
"Iyalah. Kamu salin semua itu! Sekaligus buat rangkuman untuk kami berempat!" perintah Lara seenaknya.
"Kok, aku semua yang ngerjain?" protes Ira.
"Berani proter kamu, ya?"
Lara mengambil kotak makanan Ira dengan paksa. Meski pun Ira melawan balik, tapi tarikan Lara lebih kuat, sehingga ia tak mendapatkan kotak makannya kembali.
"Kerjain dulu semuanya, baru boleh makan," ujar Lara. Ia meninggalkan Ira menuju pohon rindang yang lain. Ia memaksa Deno dan Irfan untuk menjauhi Ira. Irfan yang protes menjadi tak berkutik ketika Lara membawa-bawa adiknya, Irfani. Ia hanya bisa menatap kasihan pada Ira.
"Tuh orang makin lama, makin nyebelin, ya?" gumam Fami.
"Sudahlah, Fam. Biarin aja!" balas Ira. Ia mulai menyalin tulisan-tulisan teman sekelompoknya.
"Kamu mau ngerjain semuanya?"
"Mau gimana lagi? Kalau nggak aku kerjain, aku nggak dapat makan siang."
"Benar-benar orang itu. Sampai mengambil makan siangmu, Ra. Kok, aku yang kesal sih," gerutu Fahmi. Ia menahan tinju tangannya. Tapi, Ira hanya menanggapinya dengan tersenyum.
"Kamu harus balas mereka, Ra!"
Ira menggeleng kepalanya.
"Ya udah kalau nggak mau. Biar aku yang balas." Fami melayang mendekati Lara.
"Fami, jangan!" teriak Ira, mencoba mencegah. Teman-teman sekitar menatap ke arahnya. Ira membalasnya dengan tertawa-tawa dan kembali ke posisi awalnya.
Meskipun Fami tidah bisa menyentuh manusia secara langsung, ia bisa menggunakan kemampuan yang dimiliki seperti saat membantu Ira keluat dari gudang. Fami menunjuk ranting kecil tepat di atas kepala Lara. Ranting tersebut tiba-tiba patah dan jatuh tepat di kepala Lara.
"Aduh!" seru Lara. Ia mengusap-usap kepala dengan tangan penuh saus.
"Aaaahh, jadi kotor kan!" gerutunya.
Irfa , Deno dan Irfani menertawakan Lara yang rambutnya penuh dengan saus.
"Diam! Jangan ketawa!" teriak Lara.
Fami melayang kembali mendekati Ira yang tertawa geli melihat reaksi Lara.
"Gimana? Gimana?" tanya Fami.
"Kamu tuh, usil banget."
"Tapi seneng, kan? Rasain, tuh! Hihihi."
"Udah, ah! Lebih baik bantu aku salinkan catatan ini ke kertas yang lain," pinta Ira.
"Ok!"
Fami menunjuk kertas-kertas HVS di tangan Ira. Seketika, seluruh kertas sudah berisi tulisan sesuai yang Ira inginkan.
"Ih, keren. Terimakasih ya, Fam. Akhirnya aku bisa makan," ucap Ira.
"Ah, biasa aja." Fami malu-malu salting. Tapi Ira telah berlari mendekati Lara dan lainnya.
"Yaaahhh, di tinggal...," ujar Fami saat sadar dirinya sudah sendirian. Ia melayang menyusul Ira.

6.6.16

The Beautiful of Friendship - Chapter 15

Esok harinya, Ira berangkat sekolah seperti biasa. Namun, ia melihat keramaian dekat papan pengumuman sekolah. Karena penasaran, Ira mendekati mereka untuk melihat pengumuman yang begitu perhatian siswa-siswi sekolahnya.
"Hoo... Field trip," gumam Ira ketika membaca judul di atas kertas yang tertulis besar-besar.
Tiba-tiba terdengar bel sekolah. Seluruh anak-anak yang ikut berkerumun membubarkan diri dan berlari menuju kelas masing-masing. Begitu pun Ira. Ia memasuki kelas dan langsung menuju bangkunya. Semenit kemudian Bu Osa datang. Beliau menyimpan tas kerja di mejanya.
"Kalian pasti sudah lihat pengumumannya, bahwa minggu depan sekolah kita akan mengadakan field trip. Ibu harap, seluruh kelas bisa mengikuti kegiatan ini." Bu Osa memberikan pengumuman.
"YEEE!!!" seluruh kelas bersorak menyambut liburan mereka.
"Ssssttt, dengarkan dulu!" Bu Osa menenangkan.
"Nah, karena itulah, hari ini akan Ibu bagikan kelompok. Selama field trip nanti kalian harus bersama-sama dengan kelompok kalian. Mengerti?"
"Mengerti, Bu."
"Ibu mulai, ya." Bu Osa duduk di mejanya. Ia membuka absensi kelas dan buku catatan.
"Kelompok pertama: Nina, Lala, Mimi, Pepen dan Nana. Kelompok kedua: Saras, Budi, Aat, Fali, dan Segi. Kelompok ketiga: Lara, Irfani, Deno, Irfan, dan Ira. Selanjutnya...,"
Ira terkejut mendengar namanya, ditambah ia sekelompok dengan orang yang sepertinya tidak ingin sekelompok dengannya. Ia melirik ke arah Lara dan Irfani. Wajah mereka sudah terhias dengan senyum mengerikan. Sepertinya Lara memiliki rencana untuknya saat field trip nanti.
"Beruntung banget nasibmu, Ra." Ledek Fahmi. Ia cekikikan sambil memegangi perutnya.
"Gimana, nih?" gerutu Ira.
"Tenang-tenang! Aku akan bantu kamu. Ok?"

5.6.16

The Beautiful of Friendship - Chapter 14

Esok harinya, Ira datang ke Taman Bermain Kendangjari lebih awal beberapa menit dari waktu pertemuannya dengan Irfan. Ia menunggu di bangku dekat pintu gerbang taman bermain bersama Fahmi yang sejak berangkat tadi terus mengikutinya.
Satu menit lewat dari waktu pertemuan, Ira melihat Irfan berjalan mendekatinya. Ia memperhatikan sekeliling Irfan, takut ada Irfani dan Lara yang mengikuti. Tapi, pengunjung taman bermain sedang padat-padatnya, sehingga Ira tak yakin kalau ia tak melihat Irfani dan Lara.
"Fahmi! Coba kamu cek! Irfan datang ke sini ada yang ngikutin nggak?" ujar Ira agak berbisik.
"Siap, deh!" Fahmi melayang menuju Irfan dan mulai mondar-mandir mengecek berbagai tempat yang dicurigai sebagai lokasi persembunyian. Kemudian ia melayang kembali mendekati Ira untuk melaporkan hasil penyelidikannya.
"Aman," ucap Fahmi seraya menaikkan kedua jempol tangannya. Ira hanya mengangguk menanggapi laporan Fahmi, sebab Irfan sudah hampir sampai.
"Ng... Pagi Ira," sapa Irfan dengan gugup.
"Pagi," balas Ira seraya tersenyum.
"Ng... Masuk sekarang?"
Ira menjawab pertanyaan Irfan dengan anggukan. Kemudian mereka memasuki taman bermain bersama-sama. Beberapa saat berjalan kaki, Ira hanya mengikuti Irfan yang masih terdiam.
"Kok, dia diam aja sih?" Fahmi berbisik pada Ira.
Ira hanya menjawabnya dengan tersenyum seraya mengangkat bahunya.Tiba-tiba Irfan berhenti. Ia memutar tubuhnya menghadap Ira.
"Kita ngobrol di rumah makan saja, yuk!" ajaknya.
"Boleh," jawab Ira. Ia dan Irfan berjalan menuju rumah makan yang ditunjuk Irfan.
Sampai pesanan datang, Irfan masih terdiam dan belum bicara apa pun lagi. Hal ini membuat Ira jadi kesal, ia memutuskan untuk membuka obrolan mereka.
"Kamu datang sendiri, kan?"
Pertanyaan Ira membuat Irfan terkejut. Ia berpikir, tentunya Ira tak lagi sepenuhnya percaya dengannya karena kejadian di belakang sekolah kemarin.
"I, iya. Sendiri," suara Irfan terbata-bata.
"Anu, Ira... Aku minta maaf," Irfan menundukkan wajahnya dan posisi tangan memohon di atas kepala.
"Aku sama sekali nggak bermaksud untuk mencelakakanmu. Lara mengancamku kalau ia akan menyakiti Irfani jika aku tak mau mengikuti perintahnya. Jadi, aku terpaksa...," Irfan mengangkat kepalanya sedikit, mengintip wajah Ira.
"Mau kan, kamu maafin aku, Ra?" tanyanya.
"Iya. Aku ngerti, kok Fan. Sudah, sudah! Angkat kepalanya!" jawab Ira.
Irfan mengangkat kepala dan menurunkan kedua tangannya.
"Thank you, Ira."
Tiba-tiba Fahmi muncul di belakang Irfan.
"Ira! Ada Irfani dan Lara memasuki taman bermain. Sepertinya mereka menuju ke sini," ujarnya.
Ira mengernyitkan dahinya. Bukankah tadi Irfan datang sendirian? Bahkan Fahmi sudah memeriksanya.
"Irfan, kita pindah yuk ngobrolnya!"
"Loh, kenapa?"
"Nggak apa-apa. Ayo!" Ira menarik lengan Irfan keluar rumah makan lewat pintu samping. Ia melihat sekitarnya takut Lara dan Irfani melihat mereka. Tapi sepertinya mereka belum sampai ke rumah makan. Ira menarik Irfan berlari menjauhi rumah makan.
"Ira! Kita mau kemana?" ujar Irfan. Tiba-tiba kakinya tersandung kaki bangku di samping pagar komedi putar. Irfan terjatuh.
"Ah, maaf Irfan! Dimana yang sakit?" tanya Ira. Ia berjongkok membantu Irfan berdiri dan membuatnya duduk di bangku.
"Nggak apa-apa, kok. Tapi, kenapa kamu buru-buru gitu keluar rumah makan?" Irfan balik bertanya. Tangannya mengusap-usap lutut kanan kakinya. Ira yakin kalau tadi Irfan terjatuh cukup keras dan luka Irfan harus segera di kompres.
"Irfan. Aku beli minuman dingin sebentar, ya. Kamu tunggu di sini!" Ira langsung berlari mencari mesin minuman dingin. Ia meninggalkan Irfan yang berusaha mencegahnya.
"Ira, kok gak jawab pertanyaanku, sih?" gumam Irfan.
"Ya iyalah. Dia tau adik lu datang," Fahmi menggerutu. Meskipun ia tahu Irfan tak bisa mendengar suaranya.
"Irfaaann!" suara seseorang dari jauh. Bukan suara Ira. Irfan menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut.
"Irfani?"
"Nah, lho! Ketauan!" seru Fahmi.
Irfani bersama Lara, mereka setengah berlari mendekati Irfan.
"Kok, kamu ke taman bermain gak ngajak aku, sih?" gerutu Irfani saat tiba di samping Irfan.
"Kamu lagi nunggu siapa, Fan?" tanya Lara.
"Aku sendirian, kok. Pengen jalan-jalan sendiri aja. Kalian kok bisa tahu aku di sini?" jawab Irfan.
"Aku lihat tiket kamu kemarin. Jahat banget, sih gak ngajakin aku," jawab Irfani.
"Iya maaf. Ya udah. Sekarang kita jalan-jalan, yuk! Mau naik apa? Kora-kora?" Irfan berdiri. Ia mendorong Irfani dan Lara untuk menjauh dari bangku.
Tak lama setelah Irfan, Irfani, dan Lara pergi, Ira datang. Ia membawa dua minuman kaleng. Hanya Fahmi yang ada di bangku.
"Irfan mana?" tanyanya.
"Pergi, sama Irfani," jawab Fahmi.
"Jadi, Irfani dan Lara tau kalau dia pergi sama aku?"
"Irfan gak bilang apa-apa, kok tentang kamu."
"Hm. Padahal masih ada yang mau kutanyakan."

- to be continued -

4.6.16

The Beautiful of Friendship - Chapter 13

Untuk Ira.
Aku minta maaf, ya Ra. Aku sama sekali nggak berniat untuk menjahatimu. Semua rencananya Lara. Ia benar-benar ingin mencelakakanmu.
Aku sudah menolaknya dari awal. Tapi, Lara mengancamku. Ia bisa melakukan apapun pada Irfani, jadi aku terpakasa mengikuti seluruh perintahnya. Kalau begini terus, Irfani akan semakin menjauhimu, Ra. Aku tidak mau dia terpengaruh oleh Lara.
Tapi, aku tak tahu harus berbuat apa. Aku sangat sulit mendekatinya sekarang. Lara selalu bersama dengannya. Karena itu aku ingin minta bantuanmu, Ra.
Bisakah besok kita bertemu?
Dari Irfan.
-------
Isi dari kertas yang diberikan Irfan pulang sekolah tadi. Ira membacanya saat malam setelah selesai mengerjakan PR. Di dalamnya terselip tiket Taman Bermain Kendangjari.
"Cie... Mau ketemuan ni ye?" seseorang tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Fahmi?!"
"Hehe. Kaget, ya? Jadi, kamu mau datang atau nggak?" tanyanya kemudian.
"Hm, nggak tau juga, sih. Eh, bentar! Kamu kok bisa tahu rumahku?" Ira baru menyadari.
"Hehe. Kan aku selalu ngikutin kamu kemana pun,"
"Ha?! Siapa yang minta diikutin?! Dasar manusia setengah-setengah!" Ira melemparkan bantal dan gulingnya meskipun menembus tubuh Fahmi. Tak sengaja kertas dan tiket yang di berikan Irfan terjatuh.
"Ira...! Ada temennya datang?" suara Ibunya Ira dari luar kamar. Ira langsung tertegun dan menutup mulutnya.
"Gak ada, Bu. Aku lagi latihan drama," jawab Ira. Ibunya percaya dan kembali menuju ruang tengah.
"Makanya, jangan teriak-teriak!" Fahmi mengambil tiket taman bermain dan memberikannya pada Ira.
"Itu kan salahmu. Lho, kok kamu bisa pegang tiketnya?" Ira mengambil tiket dari tangan Fahmi.
"Hm, gak ngerti juga sih. Kadang suka begini. Jadi, kamu mau datang besok?"
Ira tak langsung menjawab. Ia menatap tiket di tangannya.
"Kalau ini jebakan lagi, gimana?" gumamnya. Tangan Ira gemetaran, bahkan matanya mulai basah.
"Kan ada aku. Nanti kuikuti dari belakang," hibur Fahmi.
Ira mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah Fahmi yang tersenyum lebar. Ira mulai tersenyum.
"Thanks ya, Fahmi."
"Slow aja! Hahaha," Fahmi menggaruk-garuk kepalanya salting.

- to be continued -

3.6.16

Perjalanan Anyar - Papandayan

PERJALANAN ANYAR – PAPANDAYAN

Gue tuh suka kesulitan saat mencari kalimat pertama dalam menulis. Hehehe...
Oke, tulisan kali ini akan memaparkan tentang my trip waktu libur panjang awal bulan Mei yang lalu, yaitu tanggal 5-6-7-8 Mei 2016. Sebuah trip yang seru bareng sama teman-teman kampus dan teman-temannya teman kampus... Hahaha.. intinya, teman gue nambah di trip kali ini. Jadi kemana sebenarnya trip gue? Kita semua hiking, ke Gunung Papandayan... Yeeeee...
Seperti biasa, sebelum pergi-pergi jauh begitu gue mesti perkirakan berapa bugdet yang cukup untuk perjalanan. So, buat mencari referensinya, gue bertanya Mbah Google. Tapi, eh, eh, eh... ternyata sedikit banget web yang sharing tentang akomodasi ke Gunung Papandayan, terutama dari daerah asal gue, yaitu Anyar. Iya... yang pantai Anyar itu loh... yang pernah ada bc kalau makan di Anyar itu mahal gitu loohh... Btw, tuh hoax tuh.. Jangan percaya sama Bc-Bc gak jelas.. lu mesti verifikasi langsung sama warga asalnya... Hehehe
Kembali ke pembahasan pencarian referensi akomodasi Gunung Papandayan. Nah, pokoknya kagak dapet aja yah. Gue dapetnya paling cerita pengalaman doang sama trayek-trayek ke Puncak Gunung Papandayan-nya.. Tapi, yang gue butuhkan bugdet men, budget... hehehe
So sekarang gue mau share ni, bugdet atau biaya yang dibutuhkan untuk ke Gunung Papandayan dari Anyar – Garut. Oke, cekidot...
Pertama, gue kasih tau dulu ya kalau rumah gue bener-bener di Anyar-nya... dan perjalanan gue pakai kereta, jadi agak-agak beda banyak gitu sama perjalanan pake bus... tapi, nti gue share juga kok.. sip.. yuk kita mulai..
Karena perjalanan gue pakai kereta, so gue mesti ke stasiun. Stasiun yang deket Anyer ya paling dekat adl Stasiun Krenceng. Di Stasiun krenceng kereta ada empat jam pemberhentian kereta oleh KA Patas Merak, yaitu 1) 06.15, menuju Stasiun Angke Jakut, 2) 11.30, menuju Stasiun Merak, 3) 14.15, menuju Stasiun Angke, dan 4) 18.30,menuju Stasiun Merak. Jadi, kalau gue mau ke Garut, gue mesti naik yang jam 6 pagi atau jam 2 siang. Nah, karena perjalanan ke Garut jauhnya pake banget, maka gue berangkat jam 05.30-an dari Anyar.
Perjalanan Anyar-Stasiun Krenceng sekitar 20-40 menitan (tergantung kendaraan), kalau pakai angkot yang warna silver jurusan Cilegon, bayar sekitar 5000-7000 (kalau sopirnya kagak cerewet). Sampai Stasiun jangan lupa beli tiket, harga tiket 8000 aja, bilang ke abang tiketnya kalau kita mau ke Stasiun Duri. Saat kereta datang, tempat duduknya gak perlu sesuai tiket kok, jadi terserah kita mau duduk di mana.
Perjalanan Stasiun Krenceng-Stasiun Duri 4,5-5 jam, tergantung kecepatan dan kesibukan jadwal kereta. Karena KA Patas Merak termasuknya kelas ekonomi, jadi suka ngalah sama kereta eksekutif yang mahalan dikit tiketnya, yang sabar yaaa...
Sampai Stasiun Duri, jangan salah keluar di pintu keluar KRL ya. Ada pintu khusus untuk penumpang KA Patas –atau KA ekonomi lokal, biasa disebutnya-. Jadi, kita kasih tiket yang kita beli ke Pak Satpam yang jaga di pintu, jangan sampai hilang ya, nanti dikira penumpang gelap –hehehe-.
Setelah itu, kita menuju stsiun berikutnya menggunakan KRL. So, kita mesti beli tiket lagi di loket khusus KRL. Tujuan selanjutnya dalah stasiun Tanjung Barat. Harga tiketnya 15000 (10000 jaminan dan 5000 harga perjalanan, yang jaminan masih bisa di tarik, jadi jangan sampai hilang tiketnya). Kita naiknya kereta yang jurusan Depok atau Bogor. Lama perjalanan Stasiun Duri-Stasiun Tanjung Barat sekitar 1,5 jam.
Kebetulan, kelompok pendakian gue meeting point-nya di Stasiun Tanjung Barat. Jadi, setelah semuanya berkumpul, barulah kita bareng-bareng berangkat ke Terminal Rambutan pakai angkot warna merah, jurusan Terminal Rambutan, estimasi waktu sekitar 15-30 menit, soalnya suka macet. Ongkosnya 5000 ya.
Nah, tadi kalau pakai kereta. Kalau pakai bus gimana? Gini loh, utk ke terminal bus, kita bisa ke Terminal Seruni yang ada di Cilegon. Jadi, naik angkot sampai Cilegon dengan ongkor Anyar-Cilegon 10000, waktunya 45menit-1 jam, tergantung waktu ngetem dan kecepatan angkot.Turun di Cilegon, cari angkot warna ungu, nah tanya dulu ke Terminal gak? Soalnya, bisa aja tu angkot ke PCI. Kalau bener ke terminal, langsung naik dah, paling Cuma 15 menit, ongkos Cilegon-Terminal Seruni 5000. Sampai terminal, naik bus jurusan Merak-Rambutan. Untuk biaya bus sekitar 25000-30000, gue udah agak lupa, karena semenjak tau ada KA Patas jadi jarang naik bus, Hehehe.
Sampai di Terminal Rambutan (siapin aja 1000an buat biaya masuk terminal), langsung naik bus jurusan Rambutan-Garut. Kalau ngetem, sabar aja yah. Sistemnya memang nunggu sampai penuh/setengahnyalah baru deh jalan. Ongkos bus 55000 aja. Perjalanan kalau normal paling 4 jam, kalau macet bisa sampai 6-7 jam. Jadi yang sabar yooo.
Sampai Garut, kita masuk Terminal Garut. Trus kita naik Elf ke Kisarupan sekitar 1 jam, ongkos 20000. Sampai Kisarupan, kita naik mobil bak kecil untuk ke pintu masuk jalur pendakian. Nanti kita melewati gerbang gitu dan diminta melakukan registrasi anggota dan pembayaran. Biaya masuknya sekitar 20000-an (ingatan gue samar-samar, yang pasti gak lebih dari 20000 lah). Biasanya kita di antar sampai pos masuknya, Cuma waktu itu kelompok gue belum nyampe pos masuk udah diturunin, hehehehe.. jadi mesti jalan dikit lagi.. Pas di pos masuk, kita tunnjukkan tiket yang udah kita beli di pintu gerbang tadi. Di pos juga dilakukan pencatatan nama anggota.
Terus, kita jalan lagi hingga ketemu Camp David. Nah, di sini kita udah boleh dirikan tenda kalau misalnya kemalaman mau naik. Di Camp David masih banyak warung, Mushola, dan kamar mandi.
Oke. Mungkin sekian dulu untuk informasi mengenai biaya akomodasi perjalanan Anyar-Garut Papandayan. Biaya dan waktu pulang juga sama kok, jadi bisa dikali dua ja yaooo..
Kalau untuk pengalaman gue di pendakian Papandayan, tunggu tulisan gue selanjutnya ja yoo..
Tulisan ini gue persembahkan buat teman-teman tim pendakian gue: Fanny, Parara, Ojan, Rahman, Ari, Kak Shelly, dan Irma. Thanks guys, you are the best.

Aplikasi Pulsa Gratis

Mau browsing tapi quota habis? Yuk download Cashtree Android app dan dapatkan Rp 50.000 cash gratis setiap bulan! bisa buat beli quota.

Install lewat referral link langsung dapat 1.000 cash.

https://invite.cashtree.id/etwb3q